Home Blog Page 322

Jumlah Perempuan Terjerat Pinjol Meningkat, Puan Maharani Desak Regulasi Diperketat

0

DCNews, Jakarta – Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya kasus perempuan yang terjerat pinjaman online (pinjol), terutama mereka yang berperan sebagai kepala keluarga.

“Peningkatan jumlah perempuan, terutama perempuan kepala keluarga, yang terjebak dalam pinjaman online menunjukkan adanya ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi situasi ekonomi yang sulit,” kata Puan dalam keterangan tertulis, Selasa (29/4/2024).

Data dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mencatat, sejak 2018 hingga 2024, terdapat 1.944 laporan pengaduan dari korban pinjol yang berasal dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) serta dari luar daerah tersebut. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.208 korban atau 62,14 persen merupakan perempuan. Sementara 734 lainnya atau 37,76 persen adalah laki-laki.

Lebih jauh, Puan menilai fenomena ini sebagai kondisi darurat yang memerlukan tindakan cepat. Ia menekankan pentingnya keberadaan layanan keuangan yang lebih aman dan inklusif bagi perempuan.

“Negara harus memastikan adanya akses terhadap layanan finansial yang aman dan ramah bagi perempuan, khususnya mereka yang menjadi tulang punggung keluarga,” ujarnya.

Politikus PDI Perjuangan itu juga mendesak pemerintah bersama otoritas terkait untuk segera memperketat regulasi terhadap industri pinjol. Ia mendorong agar suku bunga pinjaman diturunkan ke level yang lebih wajar serta edukasi literasi keuangan masyarakat diperluas secara masif.

“Kita ingin perempuan terus berdaya dan berperan aktif dalam membangun keluarga dan bangsa tanpa dibebani utang yang membelenggu,” tegasnya lagi.

Komitmen DPR RI

Puan memastikan DPR RI akan memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan dan peningkatan kesejahteraan perempuan di Indonesia.

“DPR RI berkomitmen untuk memperjuangkan peraturan yang lebih ketat dalam pengawasan industri pinjol dan memastikan perempuan memiliki akses ke solusi keuangan yang lebih berkeadilan,” tutup Puan. ***

Jelang May Day, KMI Ajak Perusahaan dan Buruh Bagun Harmonisasi

0

DCNews, Jakarta – Menyambut peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day, yang jatuh pada tanggal 1 Mei nanti, Ketua Kaukus Muda Indonesia (KMI), Edi Homaidi, menyampaikan seruan penting untuk membangun hubungan yang harmonis antara pekerja dan perusahaan. Ditegaskakan bahwa kesejahteraan buruh dan pertumbuhan usaha bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua pilar yang saling menopang dalam pembangunan ekonomi nasional.

“Intinya, perjuangan hak buruh tidak boleh dilihat sebagai konflik antara tenaga kerja dan pemberi kerja. KMI percaya bahwa buruh dan perusahaan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, saling bergantung, dan sama-sama berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Edi Homaidi dalam siaran persnya, Selasa (29/4/2025).

Edi Homaidi merujuk pada pendekatan Human Relations Theory dari Elton Mayo yang menekankan pentingnya hubungan sosial dalam meningkatkan produktivitas kerja. Ia juga mengutip penelitian Richard Freeman dan James Medoff dalam buku What Do Unions Do? yang menunjukkan bahwa serikat pekerja yang kuat justru dapat meningkatkan efisiensi perusahaan melalui pengurangan turnover, peningkatan loyalitas, dan komunikasi yang lebih baik.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 turut mendukung pandangan tersebut. Laporan itu menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan prinsip hubungan industrial yang adil memiliki produktivitas 15 hingga 20 persen lebih tinggi dibanding perusahaan yang abai terhadap hak buruh.

Sebagai contoh praktik terbaik, Edi Homaidi menyoroti model sosial di negara-negara Skandinavia, seperti Swedia dan Norwegia. Di negara-negara tersebut, sistem tripartit antara pemerintah, serikat buruh, dan asosiasi pengusaha dinilai berhasil menciptakan keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlanjutan bisnis.

Empat Langkah Strategis

KMI pun mengajukan empat langkah strategis guna memperkuat relasi buruh dan perusahaan di Indonesia. Pertama, memperkuat dialog sosial antara pekerja dan pengusaha guna menyelesaikan konflik secara damai dan konstruktif.

Kedua, penguatan regulasi progresif yang melindungi hak buruh tanpa menghambat pertumbuhan investasi. Keempat, leningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan. Dan, kelima adalah membangunan hubungan industrial yang bermartabat, berbasis penghormatan terhadap hak asasi manusia dan prinsip keadilan sosial.

“Buruh bukan beban, melainkan mitra strategis dalam meraih kemajuan. Perusahaan bukan musuh, tetapi rumah bersama untuk merajut masa depan lebih sejahtera,” kata Edi Homaidi.

Untuk itu, lanjut Edi Homaidi juga eksponen Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu, KMI menyerukan kolaborasi nasional untuk memperjuangkan hak pekerja sekaligus memperkuat daya saing industri.

“Di Hari Buruh ini, mari kita satukan langkah: memperjuangkan hak buruh, menguatkan perusahaan nasional, dan membangun Indonesia yang lebih adil, makmur, dan berdaulat,” pungkasnya. ***

OJK Hadapi Lonjakan Gugatan Perdata, Mayoritas dari Sektor Perbankan

0

DCNews, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghadapi lonjakan jumlah gugatan perdata, dengan mayoritas kasus berasal dari sektor perbankan, demikian disampaikan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara, dikutip Selasa (29/4/2025).

“Hingga 31 Maret 2025, lembaga tersebut telah menangani 458 perkara hukum sepanjang tahun ini, setelah mencatat 889 perkara pada tahun 2024,” kata Mirza.

Lonjakan ini mencerminkan banyaknya sengketa hukum yang berkaitan dengan perjanjian kredit, akad pembiayaan, restrukturisasi utang, lelang aset, serta pengaduan terkait sistem informasi keuangan yang dikelola OJK.

“Mayoritas perkara yang masuk berasal dari industri perbankan, dan jumlah gugatan perdata meningkat setiap tahunnya,” ujarnya lagi.

Area lain yang kerap menjadi objek sengketa antara lain transfer dana elektronik, penggunaan kartu debit dan kredit, pencairan deposito, serta prosedur penagihan.

Dalam kurun waktu 2023 hingga 2025, OJK mencatat tren positif dalam hasil putusan pengadilan. Pada 2023, OJK memenangkan 280 perkara dan kalah dalam 5 perkara, namun belum ada yang berkekuatan hukum tetap.

Di tahun 2024, OJK menang dalam 449 perkara dan kalah dalam 19 perkara, yang juga masih dalam proses hukum. Sementara pada kuartal pertama 2025, OJK telah menang dalam 79 perkara tanpa kekalahan yang tercatat hingga kini.

Sebaran gugatan paling banyak terjadi di wilayah Jabodetabek, diikuti oleh Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Bali, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Kepulauan Bangka Belitung.

Mirza menegaskan komitmen OJK terhadap kepatuhan hukum dan transparansi, seraya menyatakan bahwa lembaga ini terus menangani sengketa secara efisien dan memperkuat pengawasan terhadap sektor jasa keuangan di Indonesia. ***

Ekonomi Memburuk, Warga Amerika Kian Andalkan Skema Paylater untuk Belanja Bahan Makanan

0

DCNews, Washington — Dihadapkan pada inflasi yang membandel dan suku bunga yang tinggi, akibat kebijakan pemerintahannya, semakin banyak warga Amerika Serikat yang mengandalkan layanan “beli sekarang, bayar nanti” (BNPL/Paylater) hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan sehari-hari. Kondisi tersebut sebuah tanda mencemaskan dari memburuknya tekanan ekonomi di seluruh negeri.

Sebuah survei baru dari platform pinjaman daring LendingTre, yang dikutip Selasa (29/4/2022) mengungkapkan bahwa hampir separuh konsumen Amerika berusia 18 hingga 70 tahun telah menggunakan layanan BNPL.

Para analis memperingatkan bahwa tren ini kecil kemungkinan akan berbalik dalam waktu dekat, mengaitkannya dengan ketidakstabilan ekonomi yang diperparah oleh kebijakan mantan Presiden Donald Trump.

Survei yang dilakukan pada awal April terhadap sekitar 2.000 responden itu menyoroti lonjakan tajam penggunaan pinjaman berjangka pendek untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sekitar 25% pengguna melaporkan menggunakan layanan BNPL untuk membayar bahan makanan — hampir dua kali lipat dari 14% pada tahun lalu.

Praktik ini paling umum di kalangan konsumen Generasi Z, dengan bahan makanan menjadi pembelian BNPL keempat terbanyak.

Meskipun layanan BNPL kerap menawarkan cicilan tanpa bunga dan tidak mempertimbangkan skor kredit, sistem ini menyimpan banyak risiko tersembunyi.

LendingTree menemukan bahwa 41% pengguna mengaku pernah terlambat membayar — peningkatan signifikan dari 34% pada tahun sebelumnya. Hampir satu dari empat pengguna bahkan memiliki tiga atau lebih pinjaman BNPL aktif secara bersamaan.

Tingkat literasi keuangan terkait BNPL juga masih rendah. Sebanyak 62% pengguna secara keliru percaya bahwa pinjaman jenis ini dapat meningkatkan skor kredit mereka, sementara 26% lainnya mengaku tidak yakin.

Para ahli memperingatkan bahwa kesalahpahaman ini dapat membuat banyak orang terjerat utang.

Alat Bermanfaat

Matt Schulz, kepala analis kredit konsumen di LendingTree, menggambarkan BNPL sebagai alat yang bermanfaat — bila digunakan dengan bijak.

“Ini adalah opsi cicilan bebas bunga yang sangat berguna jika dikelola dengan benar. Tetapi ada banyak risiko besar jika disalahgunakan,” ujar Schulz.

Ia menambahkan, tekanan makroekonomi seperti inflasi yang terus tinggi, biaya pinjaman yang mahal, dan ketidakpastian terkait tarif perdagangan memaksa banyak warga Amerika untuk mengulur anggaran mereka dengan segala cara — pola yang diperkirakan akan memburuk sebelum ada perbaikan.

“Ini bukan hanya soal gaya hidup konsumtif. Bagi banyak keluarga, ini soal bertahan hidup.” pungkas Schulz. ***

Wow! Generasi Baby Boomers Tercatat Sebagai Kelompok Tertinggi Terhadap Kredit Macet

0

DCNews, Jakarta – Gelombang utang digital tidak hanya menghantam generasi milenial dan Gen Z. Data terbaru mengungkapkan bahwa kelompok lansia di Indonesia, khususnya mereka yang berusia di atas 54 tahun, juga semakin banyak terjerat layanan buy now pay later (BNPL) dan peer-to-peer (P2P) lending.

Menurut Direktur Utama IdScore, Tan Glant Saputrahadi, generasi baby boomers — mereka yang kini berusia 55 tahun ke atas — tercatat sebagai kelompok dengan kontribusi tertinggi terhadap kredit macet (nonperforming loan/NPL) di sektor paylater dan P2P lending. Temuan tersebut bersumber dari data yang dihimpun Pefindo Biro Kredit (IdScore).

“Kami mencatat bahwa generasi baby boomers menjadi penyumbang terbesar kredit macet di layanan BNPL,” ujar Tan Glant, dikutip Selasa (29/4/2025).

Tan Glant menyoroti rendahnya literasi digital sebagai faktor utama di balik fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa banyak lansia yang belum akrab dengan teknologi finansial modern, mulai dari aplikasi mobile banking, penggunaan e-wallet, hingga pemantauan histori kredit secara daring.

“Akibat keterbatasan pemahaman tersebut, kelompok usia ini kurang memantau dan mengelola pinjaman mereka secara real-time, sehingga meningkatkan potensi gagal bayar,” lanjutnya.

Fenomena ini terjadi di tengah melonjaknya penggunaan layanan BNPL di Indonesia. Berdasarkan data IdScore, hingga Februari 2025, jumlah debitur BNPL tercatat mencapai 17,26 juta, meningkat 25,53% dibandingkan tahun sebelumnya. Total penyaluran kredit BNPL juga tumbuh 27,65% secara tahunan, mencapai Rp36,24 triliun.

Namun, meski rasio kredit macet BNPL per Februari 2025 membaik ke level 4,05%, IdScore mengingatkan bahwa tren historis menunjukkan potensi kenaikan kredit macet biasanya terjadi dua bulan setelah Ramadan.

Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut mengonfirmasi peningkatan kredit macet di segmen pinjaman daring. Outstanding pinjaman macet P2P lending per Desember 2024 tercatat mencapai Rp1,50 triliun, dengan 75% di antaranya berasal dari peminjam individu. Dari angka tersebut, lonjakan tertinggi terjadi pada peminjam berusia di atas 54 tahun, yang meningkat 104% secara tahunan menjadi Rp94,87 miliar.

Temuan ini menyoroti pentingnya meningkatkan literasi digital di kalangan lansia, terutama di tengah ekspansi pesat layanan finansial berbasis teknologi di Indonesia. ***

P2P Lending Didorong Biayai Sektor Produktif, Risiko Kredit Macet Mengintai

0

DCNews, Jakarta – Upaya mendorong industri fintech peer-to-peer (P2P) lending untuk memperbesar porsi pembiayaan ke sektor produktif dinilai berisiko meningkatkan kredit macet. Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar mengingatkan bahwa banyak perusahaan yang selama ini fokus pada pembiayaan konsumtif tidak siap menghadapi kompleksitas sektor produktif.

“Credit risk dan risk acceptance criteria untuk pembiayaan multiguna dan produktif sangat berbeda. Platform yang terbiasa dengan pinjaman konsumtif harus melakukan transformasi besar pada risk control dan credit scoring mereka,’ kata Entjik dalam keterangan tertulis, Senin (28/4/2025).

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, hingga Januari 2025, outstanding kredit bermasalah di industri P2P lending mencapai Rp1,97 triliun, tumbuh 2,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kredit macet dari peminjam berbentuk badan usaha bahkan melonjak 10,6% YoY menjadi Rp500,82 miliar.

Entjik menegaskan, mengubah model bisnis untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif tidak hanya butuh waktu lama, tetapi juga menambah beban operasional.

“Biaya operasional pasti lebih besar. Pembiayaan produktif harus dilakukan secara hybrid karena infrastruktur untuk credit scoring penuh secara daring belum memadai,” ujarnya.

Industri memang menghadapi tekanan biaya yang meningkat. Per Januari 2025, beban operasional P2P lending melonjak 14,6% YoY menjadi Rp1,22 triliun, dengan biaya pemasaran dan periklanan mencatat kenaikan tertinggi, yakni 37,2% YoY menjadi Rp384,24 miliar.

OJK sendiri menargetkan agar 50–70% pembiayaan P2P lending mengalir ke sektor produktif pada 2028, sesuai peta jalan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) 2023–2028. Roadmap ini membagi pengembangan industri ke dalam tiga fase: penguatan fondasi (2023–2024), konsolidasi (2025–2026), dan penyesuaian serta pertumbuhan (2027–2028).

Sampai Februari 2025, outstanding pendanaan ke sektor produktif, yang mayoritas menyasar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), mencapai Rp29,25 triliun atau 36,53% dari total pendanaan industri. Pangsa ini hanya sedikit naik dibanding Januari 2025 yang tercatat 35,64%.

Bahkan bila dibandingkan dengan Agustus 2023, pertumbuhan porsi pembiayaan produktif nyaris stagnan, hanya bertambah 0,01 poin persentase. Pada saat itu, menurut dokumen roadmap OJK, pangsa sektor produktif sudah di level 36,52%.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK (PVML), Agusman, menegaskan bahwa regulator tetap mendorong penyelenggara P2P lending untuk meningkatkan porsi pendanaan produktif dan UMKM.

“Penyelenggara Pindar terus didorong meningkatkan pendanaan di sektor produktif sebagaimana tertuang dalam Roadmap LPBBTI 2023–2028,” kata Agusman.

Namun realitas di lapangan memperlihatkan tantangan besar. Dari 97 penyelenggara P2P lending berizin, sebanyak 48 perusahaan masih berbasis pembiayaan multiguna konsumtif. Tanpa perubahan mendasar dalam model bisnis dan pengelolaan risiko, upaya memperluas pembiayaan produktif bisa menjadi bumerang baru bagi industri. ***

PKS Gelar Bimtek dan Konsolidasi Nasional, Siap Dukung Pemerintahan Prabowo Subianto

0

DCNews, Jakarta – Dalam upaya memperkuat pijakan politiknya di era pemerintahan baru, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menggelar Bimbingan Teknis Nasional dan Konsolidasi Nasional terbesar sepanjang sejarah partai. Lebih dari 1.583 anggota legislatif dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota se-Indonesia berkumpul di Jakarta, pada Senin (28/4/2025).

Hal ini, sebagaimana disampaikan. Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PKS Aboe Bakar Alhabsyi dalam sambutanya yang juga menandai tekad PKS untuk meningkatkan peran legislasi sekaligus menyelaraskan langkah politik dengan arah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan profesionalitas Aleg PKS dalam menjalankan tiga fungsi utama: legislasi, pengawasan, dan anggaran. Bimtek ini fokus pada penguatan peran Aleg dalam melayani rakyat, berbasis prinsip-prinsip perjuangan PKS dan aspirasi masyarakat,” ujar pria yang akrab disapa Habib Aboe itu.

Konsolidasi Nasional, lanjut Aboe Bakar, juga diarahkan untuk mempererat soliditas internal dan membangun sinergi antarstruktur partai di berbagai tingkatan. Ia menekankan pentingnya kerja-kerja pelayanan dan pengabdian kepada rakyat dilakukan secara lebih terarah dan berkesinambungan.

Dalam kesempatan yang sama, Habib Aboe menegaskan dukungan penuh PKS terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia meminta para Aleg menyelaraskan langkah politik dengan program-program strategis pemerintah saat ini.

“Melalui kegiatan ini, para Aleg PKS diminta melakukan penyelarasan dengan agenda pemerintahan Prabowo Subianto, sehingga tersusun rencana aksi politik yang konkret, terukur, dan sejalan dengan arah pemerintah,” kata anggota Komisi III DPR RI itu.

Selama kegiatan, peserta mengikuti pelatihan substantif, simulasi legislatif, dan diskusi strategis untuk memperkuat kapasitas advokasi dan representasi rakyat di tingkat parlemen.

Dengan mengusung tema “Kokoh Melayani, Konsisten Mengabdi”, PKS menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, memberikan solusi atas berbagai persoalan, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional. ***

Habib Abo Serap Aspirasi Pedagang dan Motivasi Pemuda saat Kundapil di Kalimantan Selatan

0

DCNews, Jakarta – Anggota DPR RI Fraksi PKS Dapil Kalimantan Selatan I, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, melakukan kunjungan kerja ke daerah pemilihan (kundapil) pada 23–27 April 2025. Selama kunjungan, ia meninjau Pasar Kertak Hanyar di Kabupaten Banjar dan berdialog langsung dengan pedagang kelapa parut yang mengeluhkan sulitnya pasokan kelapa, sehingga harga melonjak tajam.

Harga kelapa parut yang sebelumnya Rp20.000 per liter kini naik menjadi Rp32.000 hingga Rp38.000, bergantung pada kualitas dan pemasok. Kondisi ini berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, dengan banyak konsumen beralih ke santan kelapa instan meski kualitasnya dinilai kurang sebanding dengan santan segar.

“Saya mendengar langsung dari para pedagang bahwa pasokan kelapa sulit didapat, sehingga harga kelapa parut naik tajam. Ini tentu berdampak pada konsumen dan pedagang kecil. Kita harus mencari solusi bersama untuk mengatasi masalah ini,” ujar Habib Aboe dalam keterangan pers, Senin (28/4/2025).

Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak, Politisi Senior PKS ini juga membagikan paket sembako kepada tukang becak dan pedagang pasar.

“Saya berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban saudara-saudara kita. Namun, yang lebih penting adalah bersama-sama mencari solusi jangka panjang agar kondisi ekonomi kita lebih stabil,” tambahnya.

Selain menyerap aspirasi pedagang, Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) ini juga bertemu dengan komunitas Milenial Kalimantan Selatan (Kalsel). Dalam pertemuan tersebut, ia memberikan motivasi kepada para pemuda untuk terus semangat, berinovasi, dan aktif berolahraga.

“Pemuda harus semangat, penuh inovasi, banyak berdialog, membaca buku, dan berolahraga. Jangan sampai semangat itu kendor,” pesannya.

Habib Aboe yang juga menjabat Sekretaris Jenderal DPP PKS menegaskan, anak muda harus berperan aktif dalam membangun daerah, tidak sekadar menjadi penonton. “Mari kita buktikan bahwa politik bukan hanya urusan orang tua, anak muda juga harus aktif,” tegasnya.

Di sela kunjungan, Anggota Komisi III DPR RI ini juga bertemu dengan mitra kerja Komisi III seperti Polda Kalimantan Selatan, Kejaksaan Tinggi (Kejati), Komisi Yudisial, dan Pengadilan Tinggi Banjarmasin untuk membahas sejumlah isu hukum dan keamanan di daerah. ***

Strategi Quantum Leap Menuju Indonesia Emas

0

Oleh: Irman Gusman (Anggota DPD RI dari Sumbar (204-2029), Mantan Ketua DPD RI (2009-2016)

KETIKA kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengguncang dunia, apa yang sebaiknya dilakukan Indonesia? Untuk menjawabnya, kita perlu mencermati dinamika global yang semakin tak menentu.

Institusi global yang selama ini menopang tatanan dunia berbasis aturan (rules-based global order) kini melemah. Ketika lembaga internasional tidak lagi efektif dan ketidakpastian meningkat, negara-negara cenderung mengutamakan kepentingan nasional masing-masing. Persaingan antar-kekuatan dunia kian tajam, membuat definisi “kawan” dan “lawan” menjadi kabur. Fokus utama setiap negara kini adalah memperkuat ketahanan domestik.

Trump dengan kebijakan America First memicu gelombang serupa. Presiden Xi Jinping membalas dengan China First. Fenomena ini memperlihatkan satu pola: setiap negara kini mengutamakan “My Country First”.

Bagi Indonesia, langkah serupa bukanlah hal baru. Pada era Presiden Soeharto, semangat Indonesia First sudah terlihat, salah satunya melalui pembentukan Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri di Kabinet Pembangunan IV (1983–1988).

Konsep Trisakti

Jauh sebelumnya, Presiden Soekarno telah mengusung konsep Trisakti: “berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.” Namun, seiring waktu, komitmen itu kerap terabaikan. Akibatnya, setiap kali terjadi gejolak global, stabilitas perekonomian nasional ikut terguncang.

Sementara Indonesia melupakan penguatan pasar dalam negeri, Malaysia pada 1990 membentuk Kementerian Perdagangan Dalam Negeri guna memperkuat rantai pasok dan menurunkan biaya logistik. Hasilnya, harga barang kebutuhan pokok di Malaysia lebih terjangkau dibandingkan Indonesia. Australia juga mengambil langkah strategis dengan membentuk Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan pada 1987, menggabungkan diplomasi politik dengan promosi produk ekspor. Strategi itu kini dilanjutkan oleh Menlu Australia Penny Wong.

Indonesia sejatinya memiliki fondasi untuk meningkatkan kualitas produk nasional dan memperbesar pasar domestik maupun ekspor. Namun, eksekusinya kerap tersendat. Seperti kata pendiri Kompas, Jakob Oetama (alm.), “Orang Indonesia kalau sudah membuat rencana, disangkanya bahwa rencana itu sudah tercapai.”

Sebagai langkah konkret, Indonesia perlu memperkuat kembali fungsi Kementerian Perdagangan menjadi Kementerian Perdagangan Dalam Negeri, sekaligus memperluas mandat Kementerian Luar Negeri menjadi Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Internasional.

Potensi Jadi Pasar Domestik

Dengan jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi menjadi pasar domestik yang kuat. Pembenahan rantai pasok dan pengurangan biaya logistik yang saat ini mencapai 14,29% dari PDB — jauh di atas rata-rata negara maju 8–10% — akan meningkatkan daya saing produk nasional.

Selain itu, diplomasi luar negeri harus diarahkan untuk membuka pasar baru, dengan memanfaatkan diplomat sebagai entrepreneurial diplomats. Strategi ini akan memperbesar peluang produk Indonesia menembus pasar global.

Di bidang ekonomi, implementasi Pasal 33 UUD 1945 perlu diprioritaskan untuk membangun ekonomi berbasis usaha bersama dan prinsip kekeluargaan. UMKM dan koperasi — yang berjumlah lebih dari 65 juta unit dan berkontribusi besar terhadap PDB serta penyerapan tenaga kerja — harus diberdayakan agar mandiri, bankable, dan mampu naik kelas.

Namun untuk itu, diperlukan ekosistem yang mendukung lahirnya para entrepreneur. Indonesia masih tertinggal dalam indeks kewirausahaan dunia, berada di peringkat ke-75 dalam Global Entrepreneurship Index (GEI). Rasio wirausaha nasional pun baru mencapai sekitar 3,18% hingga 3,47%, sementara target menuju negara maju minimal membutuhkan rasio 4%.

Peningkatan kualitas produk juga mendesak. Hilirisasi industri dan riset berbasis inovasi harus didorong untuk menciptakan produk unggulan dan memperbanyak hak paten nasional. Saat ini, Indonesia baru memiliki sekitar 9.970 paten, tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain di level ekonomi menengah.

Dalam World Competitiveness Ranking (WCRI) 2024, Indonesia berada di posisi ke-27 dari 67 negara, melampaui Jepang (38) dan Inggris (28), tetapi masih di bawah Singapura (1) dan Thailand (25). Ini menunjukkan ada ruang besar untuk perbaikan.

Indonesia juga perlu kembali pada jati dirinya sebagai negara maritim. Pemanfaatan sumber daya kelautan secara optimal akan menjadi kunci kemakmuran rakyat, mengingat potensi sumber daya alam yang melimpah.

Transformasi menuju negara industri modern memerlukan budaya kewirausahaan, disiplin tinggi, serta penerapan merit system secara konsisten. Seperti Korea Selatan yang berhasil membangun kedisiplinan dan inovasi industri, atau Tiongkok yang sejak era Deng Xiaoping berinvestasi besar pada sumber daya manusia.

Peluang Lakukan Quantum Leap

Indonesia memiliki peluang besar untuk melakukan quantum leap di era pemerintahan Presiden Prabowo. Namun, ini membutuhkan jajaran menteri yang mampu menerjemahkan visi besar ke dalam program konkret. Institusi seperti Department of Commerce (DOGE) di Amerika bisa dijadikan rujukan untuk efisiensi dan efektivitas birokrasi.

Kita juga perlu membangun pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jakarta, sehingga pemerataan ekonomi bisa tercapai, dan urbanisasi berlebihan dapat dikurangi. Negara seperti Amerika menunjukkan bahwa pusat-pusat kekayaan dan bisnis tidak harus terpusat di ibu kota negara.

Ke depan, tren knowledge-based economy akan menggeser ketergantungan terhadap sumber daya alam. Untuk itu, Indonesia harus mengembangkan teknologi dan mengoptimalkan kapasitas sumber daya manusia.

Semua upaya tersebut membutuhkan kepemimpinan manajerial yang kuat. Pemimpin hanya sebaik orang-orang yang ia pilih, motivasi, dan berdayakan. Tanpa tim yang tepat, visi sebesar apa pun hanya akan menjadi wacana.

Kini saatnya kita membangun Indonesia Emas — bukan terjebak dalam Indonesia Cemas. ***

Kredit Produktif Pinjol Didorong Naik, Sayangnya Pertumbuhannya Masih Mandek

0

DCNews, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan pembiayaan produktif melalui platform pinjaman online (peer-to-peer lending) mencapai 50 hingga 70 persen dari total penyaluran pada 2028. Namun, hingga Februari 2025, pertumbuhan kredit ke sektor produktif justru menunjukkan laju yang nyaris stagnan, mengindikasikan tantangan besar dalam menggeser dominasi pinjaman konsumtif.

Data OJK mencatat, outstanding pendanaan produktif — yang banyak mengalir ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) — baru mencapai Rp29,25 triliun atau 36,53 persen dari total pembiayaan industri. Angka ini hanya sedikit meningkat dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 35,64 persen, dan hampir tidak bergerak dari posisi Agustus 2023 sebesar 36,52 persen.

Kondisi tersebut terjadi meski OJK telah menerbitkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) 2023–2028. Roadmap ini membagi strategi pengembangan industri menjadi tiga fase, dimulai dari penguatan fondasi, penciptaan momentum, hingga akselerasi pertumbuhan pembiayaan produktif.

Menyoroti ini, Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) menyebut kalau di lapangan, realitas berbicara lain.

Karena ia melihat, platform fintech lebih cenderung mengutamakan pembiayaan konsumtif yang menawarkan pencairan lebih cepat dan risiko kredit yang lebih rendah.

“Platform lebih memilih yang cepat cair dan rendah risiko. Kredit konsumtif itu jauh lebih menarik buat mereka,” ujarnya.

Huda menambahkan, tingginya tingkat kredit bermasalah di sektor produktif membuat banyak platform dan pemberi pinjaman (lender) enggan mengambil risiko lebih besar. Pada November 2024, OJK mencatat ada 21 penyelenggara fintech dengan Tingkat Wanprestasi 90 Hari (TWP90) di atas 5 persen, mayoritas berfokus pada pinjaman produktif.

Bagi para lender, masih kata Huda, risiko kredit macet yang tinggi membuat mereka berpikir ulang untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif.

“Lender pasti akan berpikir dua kali. Kalau kredit macet di sektor produktif tidak dibenahi, jangan harap mereka mau menyalurkan pembiayaan ke sana,” ujarnya.

Alih-alih memaksa platform fintech memperbesar porsi kredit produktif, Huda menilai perbaikan kualitas portofolio kredit menjadi langkah yang lebih efektif. Memperketat seleksi borrower, memperbaiki manajemen risiko, dan meningkatkan tingkat keberhasilan pembayaran menjadi kunci agar ekosistem pembiayaan produktif bisa berkembang sehat.

Tanpa perbaikan tersebut, upaya regulator untuk mendorong sektor produktif melalui platform fintech dikhawatirkan hanya akan menjadi target di atas kertas — sementara jutaan pelaku UMKM, tulang punggung ekonomi nasional, masih terus menanti akses pembiayaan yang lebih adil dan terjangkau. ***