DCNews, Jakarta – Gelombang utang digital tidak hanya menghantam generasi milenial dan Gen Z. Data terbaru mengungkapkan bahwa kelompok lansia di Indonesia, khususnya mereka yang berusia di atas 54 tahun, juga semakin banyak terjerat layanan buy now pay later (BNPL) dan peer-to-peer (P2P) lending.
Menurut Direktur Utama IdScore, Tan Glant Saputrahadi, generasi baby boomers — mereka yang kini berusia 55 tahun ke atas — tercatat sebagai kelompok dengan kontribusi tertinggi terhadap kredit macet (nonperforming loan/NPL) di sektor paylater dan P2P lending. Temuan tersebut bersumber dari data yang dihimpun Pefindo Biro Kredit (IdScore).
“Kami mencatat bahwa generasi baby boomers menjadi penyumbang terbesar kredit macet di layanan BNPL,” ujar Tan Glant, dikutip Selasa (29/4/2025).
Tan Glant menyoroti rendahnya literasi digital sebagai faktor utama di balik fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa banyak lansia yang belum akrab dengan teknologi finansial modern, mulai dari aplikasi mobile banking, penggunaan e-wallet, hingga pemantauan histori kredit secara daring.
“Akibat keterbatasan pemahaman tersebut, kelompok usia ini kurang memantau dan mengelola pinjaman mereka secara real-time, sehingga meningkatkan potensi gagal bayar,” lanjutnya.
Fenomena ini terjadi di tengah melonjaknya penggunaan layanan BNPL di Indonesia. Berdasarkan data IdScore, hingga Februari 2025, jumlah debitur BNPL tercatat mencapai 17,26 juta, meningkat 25,53% dibandingkan tahun sebelumnya. Total penyaluran kredit BNPL juga tumbuh 27,65% secara tahunan, mencapai Rp36,24 triliun.
Namun, meski rasio kredit macet BNPL per Februari 2025 membaik ke level 4,05%, IdScore mengingatkan bahwa tren historis menunjukkan potensi kenaikan kredit macet biasanya terjadi dua bulan setelah Ramadan.
Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut mengonfirmasi peningkatan kredit macet di segmen pinjaman daring. Outstanding pinjaman macet P2P lending per Desember 2024 tercatat mencapai Rp1,50 triliun, dengan 75% di antaranya berasal dari peminjam individu. Dari angka tersebut, lonjakan tertinggi terjadi pada peminjam berusia di atas 54 tahun, yang meningkat 104% secara tahunan menjadi Rp94,87 miliar.
Temuan ini menyoroti pentingnya meningkatkan literasi digital di kalangan lansia, terutama di tengah ekspansi pesat layanan finansial berbasis teknologi di Indonesia. ***

