DCNews, Jakarta— Tingginya penetrasi layanan digital di kalangan generasi muda Indonesia tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman finansial yang memadai. Kondisi ini membuat Generasi Z dan Milenial menjadi kelompok paling rentan terjerat pinjaman online ilegal, perilaku utang konsumtif, hingga penipuan digital—sebuah tantangan yang kini menjadi perhatian serius industri fintech dan regulator.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Firlie H Ganinduto, mengatakan Gen Z dan Milenial memiliki tingkat adopsi teknologi finansial yang sangat tinggi, tetapi masih menghadapi keterbatasan literasi digital dan keuangan. Padahal, dua generasi ini mencakup sekitar 144 juta jiwa atau 53 persen dari total populasi Indonesia.
“Gen Z dan milenial berada di garis depan adopsi layanan digital. Namun pada saat yang sama, mereka juga paling rentan terhadap miskonsepsi pinjaman daring, perilaku utang konsumtif, serta risiko penipuan digital,” ujar Firlie dalam Peluncuran Modul Bijak Keuangan (Mojang) di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Firlie menilai, situasi tersebut mempertegas pentingnya intervensi edukasi keuangan yang sistematis. Ia menyambut peluncuran Modul Bijak Keuangan (Mojang)—inisiatif literasi keuangan yang dikembangkan oleh Easycash bekerja sama dengan Aftech dan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia—sebagai upaya mempersempit jurang pemahaman finansial di kalangan masyarakat muda.
Masalah literasi ini menjadi semakin krusial di tengah kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 66,46 persen, sementara inklusi keuangan telah menembus 80,51 persen.
Ketimpangan tersebut, menurut President and Chairman IARFC Indonesia Aidil Akbar Madjid, menunjukkan masih banyak masyarakat menggunakan produk keuangan tanpa memahami mekanisme, risiko, dan konsekuensinya.
“Ini yang sering menjadi sumber persoalan. Masyarakat menggunakan produk keuangan tanpa memahami cara kerjanya, risikonya, dan konsekuensi dari keputusan finansial yang mereka ambil,” kata Aidil.
Ia menegaskan, dampak kesenjangan literasi dan inklusi tidak bisa dianggap sepele. Mulai dari salah kaprah memahami pinjaman daring, rendahnya kesadaran terhadap reputasi kredit, hingga maraknya pinjaman ilegal yang merugikan masyarakat luas.
“Risiko ini menjadi jauh lebih berbahaya ketika menimpa generasi muda, terutama Gen Z, yang sangat dekat dengan teknologi dan jumlahnya mencapai sekitar 28 persen dari populasi Indonesia,” ujar Aidil.
Menurutnya, meski generasi muda dikenal adaptif, cepat belajar, dan berani mencoba hal baru, kedekatan dengan teknologi tidak otomatis berarti kesiapan finansial. Banyak anak muda belum terbiasa mengelola pendapatan, belum mampu membedakan pinjaman legal dan ilegal, serta belum menyadari dampak jangka panjang dari kewajiban finansial yang mereka ambil.
“Karena itu, kunci utamanya adalah membangun literasi keuangan yang kuat agar generasi muda memiliki masa depan finansial yang lebih sehat,” kata Aidil.
Literasi Keuangan Masih Jadi PR Besar
Peringatan serupa disampaikan Kepala Divisi Perencanaan, Pengembangan, Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Naomi Triyuliyani. Ia mengakui peningkatan literasi keuangan masih menjadi pekerjaan rumah alias PR besar, terutama di kalangan pelajar. “Indeks literasi keuangan pelajar usia 15–17 tahun masih 51,68 persen, jauh di bawah indeks literasi nasional yang 66,46 persen,” ujar Naomi.
Kondisi tersebut, menurut Naomi, menjadi sinyal kuat perlunya penguatan edukasi keuangan sejak dini, terutama di tengah tekanan biaya hidup yang kian meningkat. Ia juga menyoroti fakta bahwa 59,4 persen pekerja Indonesia masih berada di sektor informal, yang rentan terhadap guncangan ekonomi akibat minimnya jaminan sosial dan pendapatan yang tidak stabil.
Di sisi industri, platform pinjaman daring berizin mengakui bahwa Gen Z dan Milenial mendominasi pasar. Head of Corporate Affairs Easycash, Wildan Kesuma, mengatakan kelompok usia produktif menjadi basis utama pengguna layanan pinjaman digital.
“Gen Z dan Milenial adalah populasi pasar yang besar. Namun, mereka tetap harus memenuhi syarat, termasuk memiliki KTP untuk mengakses pinjaman di platform kami,” ujar Wildan.
Saat ini, Easycash mencatat tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB90) sebesar 99,65 persen. Meski demikian, perusahaan tetap melakukan mitigasi risiko untuk mencegah kredit macet dan gagal bayar.
Selain memperkuat edukasi, Easycash mengandalkan teknologi analisis risiko berbasis kecerdasan buatan (AI) dan big data. “Kami berinvestasi besar pada teknologi untuk memperkuat analisis risiko dan memitigasi potensi gagal bayar,” kata Wildan.
Menurutnya, penggunaan AI membantu platform mengenali pola konsumsi dan risiko terkini, sekaligus menjaga kualitas portofolio pinjaman. Ia juga menegaskan bahwa Easycash hanya bekerja sama dengan mitra berizin dan menerapkan standar keamanan data internasional.
“Kami menjaga kepercayaan masyarakat dengan bekerja sama dengan platform berizin dan menerapkan standar keamanan seperti ISO 27001 untuk perlindungan data,” ujarnya.
Di tengah masifnya transformasi digital sektor keuangan, para pemangku kepentingan sepakat bahwa literasi keuangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak—terutama bagi generasi muda yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia di masa depan. ***

