Harga Emas Antam Turun Meski Emas Global Menguat: Pasar Waswas Karena Sinyal Suku Bunga The Fed

Date:

DCNews, Jakarta Harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) tercatat turun pada perdagangan Jumat (21/11/2025), meskipun harga emas global justru melanjutkan tren penguatan. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan dari faktor domestik, termasuk kebijakan penyesuaian harga harian Antam.

Pada perdagangan hari ini, harga emas Antam berada di posisi Rp 2.348.000 per gram, turun Rp 16.000 dibandingkan hari sebelumnya. Harga pembelian kembali (buyback) pun ikut terkoreksi Rp 16.000 ke level Rp 2.209.000 per gram.

Pergerakan ini kontras dengan pasar global. Harga emas dunia pada penutupan perdagangan kemarin menguat 0,11% ke US$ 4.082,7 per troy ons, menandai kenaikan tiga hari beruntun dengan total apresiasi hampir 1%.

Namun secara keseluruhan, emas masih berada dalam tren pelemahan. Harga turun 2,1% dalam sepekan dan terkoreksi 1% dalam rentang satu bulan terakhir.

Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed Memudar

Pelemahan harga emas global dalam jangka pendek dipicu oleh memudarnya ekspektasi penurunan suku bunga acuan Federal Reserve pada akhir tahun.

Mengutip CME FedWatch, peluang pemangkasan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin pada Desember kini tinggal 39,1%, sementara probabilitas suku bunga dipertahankan naik ke 60,9%.

Sentimen pasar memburuk setelah rilis data tenaga kerja AS yang tertunda akibat government shutdown. US Bureau of Labor Statistics melaporkan penciptaan 119.000 lapangan kerja non-farm payroll (NFP) pada September—terbaik dalam lima bulan, jauh di atas konsensus pasar 50.000 dan membalikkan penurunan 4.000 pada Agustus.

Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih resilien dan pelemahannya tidak sedalam yang diperkirakan. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa The Fed belum memiliki urgensi menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Tekanan untuk Emas Non-Yielding Semakin Besar

Kuatnya data ketenagakerjaan menegaskan posisi emas sebagai aset non-yielding yang cenderung kurang diminati ketika suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama.

“Pasar sudah berpikir bahwa penurunan suku bunga acuan pada Desember masih jauh dari pasti. Data ketenagakerjaan memberi konfirmasi akan hal tersebut,” ujar Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, dikutip Bloomberg News.

Sentimen negatif global inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa emas Antam turut mengalami koreksi, meski dinamika lokal tetap menjadi penentu utama harga di dalam negeri. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Charles Meikyansah Ingatkan UMKM Jember Hindari Pinjol

DCNews, Jember — Anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikyansah...

Ketua Komisi I DPRA Desak Polisi Usut Dugaan Penganiayaan Perempuan oleh Debt Collector di Aceh Utara

DCNews, Banda Aceh — Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat...

OJK Ungkap Perkembangan Kasus DSI, Ribuan Lender Ajukan Restitusi untuk Pengembalian Dana

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan proses...

APJII: Pengguna Pinjol Didominasi Milenial, Kebutuhan Mendesak Jadi Alasan Utama Masyarakat Berutang Secara Digital

DCNews, Jakarta — Ketergantungan masyarakat terhadap layanan pinjaman online (pinjol)...