DCNews, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto mengirimkan surat kepada DPR RI yang menunjuk Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif. Surat tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi kepada pimpinan DPR pada Senin (10/8/2026), membuka tahapan baru menuju pengisian posisi puncak bank sentral yang kosong setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri pada akhir Juli lalu.
Pencalonan Destry segera mendapat dukungan dari dua lembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dukungan itu datang ketika koordinasi antarlembaga menjadi semakin penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan memastikan kebijakan ekonomi berjalan dalam satu arah.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pengalaman dan rekam jejak Destry menjadi salah satu alasan lembaganya memberikan dukungan terhadap pencalonan tersebut.
Menurut Friderica, sinergi antara kementerian, lembaga, dan regulator merupakan fondasi penting untuk memperkuat sektor jasa keuangan. Koordinasi itu tidak hanya menyangkut stabilitas sistem keuangan, tetapi juga menyentuh sektor riil, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia.
“Kami sangat mendukung, Bu Destry adalah figur yang sudah kita kenal, track record-nya juga sangat baik, dan selama ini juga kerja sama yang terjalin dengan OJK sangat baik. Kami mendoakan prosesnya lancar,” ujar Friderica dalam konferensi pers UMKM Finance Summit yang digelar OJK bersama Kementerian UMKM di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026).
Dukungan OJK tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pencalonan Destry tidak hanya dipandang dari sisi pengalaman di bank sentral. Rekam jejaknya dalam bekerja bersama berbagai lembaga ekonomi menjadi pertimbangan ketika koordinasi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan menghadapi tuntutan yang semakin kompleks.
Destry dan Tantangan Memperkuat UMKM
Menteri UMKM Maman Abdurrahman juga menilai Destry merupakan figur yang tepat untuk memimpin BI. Ia menyoroti perhatian Destry terhadap pengembangan UMKM selama berinteraksi dengan kementeriannya.
Maman mengatakan Destry merupakan salah satu figur di BI yang dinilainya memiliki perhatian kuat terhadap sektor UMKM. Pengalaman tersebut, menurut dia, dapat menjadi modal penting ketika bank sentral harus ikut menopang ekosistem pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.
“Terkait Bu Destry, saya pikir ini sebuah langkah terobosan positif karena sepemahaman saya selama hampir kurang lebih dua tahun saya sebagai Menteri UMKM, beliau adalah salah satu sosok figur di BI yang sangat konsen terhadap UMKM,” kata Maman.
Ia berharap proses pencalonan Destry di DPR berjalan mulus hingga tahap penetapan. Maman juga menyebut Destry sebagai salah satu “srikandi” di BI yang memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan.
LPS Sebut Destry Punya “Paket Lengkap”
Dukungan serupa datang dari LPS. Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menilai Destry memiliki pengalaman yang cukup lengkap untuk mengisi jabatan Gubernur BI.
Anggito mengatakan pengalaman Destry di sejumlah institusi ekonomi membuat koordinasi antara bank sentral dan anggota KSSK lainnya berpotensi berjalan baik. Hal itu penting karena kebijakan moneter tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kebijakan fiskal dan stabilitas sektor keuangan.
“Jadi seorang yang memiliki latar belakang lengkap. Paket lengkap ya. Jadi saya cukup yakin kerja sama dengan Kementerian Keuangan, dengan LPS, OJK tidak ada masalah,” kata Anggito saat ditemui di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Bagi LPS, kemampuan membangun koordinasi lintas lembaga menjadi salah satu faktor penting bagi pemimpin BI. Bank sentral berada di titik strategis dalam menjaga stabilitas rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan, sementara kebijakannya memiliki konsekuensi langsung terhadap sektor perbankan dan perekonomian secara luas.
Rekam Jejak Destry Damayanti
Destry bukan nama baru dalam lingkaran kebijakan ekonomi Indonesia. Ia pernah bekerja di Badan Analisa Keuangan dan Moneter (BAKM) Kementerian Keuangan pada periode 1992-1997.
Kariernya kemudian berlanjut di Lembaga Penjamin Simpanan. Destry menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner LPS periode 2015-2019, sebelum masuk ke lingkungan Bank Indonesia.
Di BI, Destry menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior. Setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI, Destry kemudian dipercaya menjalankan tugas sebagai Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur BI.
Kini, pencalonannya sebagai gubernur definitif memasuki tahapan politik-konstitusional di DPR. Surat Presiden menjadi dasar bagi parlemen untuk memproses calon tunggal tersebut sebelum keputusan akhir diambil.
Menanti Uji Kepatutan di DPR
Meski dukungan dari regulator dan kementerian mulai mengalir, proses menuju kursi Gubernur BI belum selesai. Destry masih harus menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di Komisi XI DPR RI.
Anggito mengatakan LPS menghormati seluruh mekanisme yang harus ditempuh Destry sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Gubernur BI definitif.
Karena proses tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan sesuai mekanisme yang berlaku, Anggito memilih tidak mendahului keputusan DPR.
“Jadi mudah-mudahan lancar dan segera ditetapkan Gubernur Bank Indonesia definitif,” tuturnya.
Pencalonan Destry kini menghadapkan DPR pada keputusan strategis: memilih pemimpin bank sentral yang tidak hanya memiliki pengalaman teknokratis, tetapi juga harus mampu menjaga independensi kebijakan moneter sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan regulator keuangan.
Jika proses tersebut berjalan sesuai jadwal, Destry akan memasuki fase baru kariernya di BI—kali ini dengan mandat definitif untuk memimpin bank sentral di tengah tuntutan menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat sistem keuangan, dan memastikan kebijakan moneter tetap mampu merespons perubahan ekonomi yang cepat. ***

