Oleh: Asep Dahlan
(Ketua Yayasan Hijrah Financial Indonesia | Pendiri Dahlan Consultant)
PENUNJUKAN Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif membuka babak penting bagi masa depan kebijakan moneter Indonesia. Surat Presiden yang telah disampaikan kepada DPR menempatkan Destry pada tahap berikutnya, yakni menghadapi proses politik dan uji kepatutan serta kelayakan.
Saya melihat pencalonan Destry bukan semata-mata sebagai pergantian figur di kursi tertinggi bank sentral. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk menguji kembali arah, independensi, kredibilitas, dan keberanian Bank Indonesia menghadapi ekonomi yang semakin kompleks.
Destry bukan figur baru bagi BI. Pengalamannya sebagai Deputi Gubernur Senior BI, ditambah latar belakang panjang di bidang ekonomi dan keuangan, merupakan modal penting. Ia memahami bagaimana kebijakan moneter bekerja, bagaimana pasar merespons kebijakan, serta bagaimana stabilitas sistem keuangan harus dijaga.
Namun, saya ingin memberikan catatan sejak awal: pengalaman tidak boleh menjadi cek kosong.
Menjadi Gubernur BI bukan hanya soal kemampuan membaca inflasi, suku bunga, cadangan devisa, atau nilai tukar. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana seorang gubernur mampu mengambil keputusan yang benar ketika kepentingan ekonomi jangka pendek bertabrakan dengan kebutuhan menjaga stabilitas dalam jangka panjang.
Independensi Harus Menjadi Garis Merah
Menurut saya, tantangan terbesar Destry nantinya adalah menjaga independensi BI.
Saya memahami bahwa koordinasi antara pemerintah dan bank sentral merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Kebijakan fiskal dan moneter saling berkaitan. Pemerintah membutuhkan stabilitas moneter untuk menjalankan agenda pembangunan, sementara BI membutuhkan dukungan kebijakan fiskal yang sehat agar stabilitas ekonomi dapat dipertahankan.
Tetapi koordinasi berbeda dengan ketergantungan.
Inilah garis merah yang harus dijaga.
BI harus dapat bekerja sama dengan pemerintah tanpa kehilangan kemampuan untuk mengatakan “tidak” apabila suatu kebijakan dinilai berpotensi mengganggu stabilitas moneter dan sistem keuangan.
Seorang gubernur bank sentral terkadang harus berani mengambil keputusan yang tidak menyenangkan pemerintah, pelaku usaha, pasar, bahkan masyarakat. Sebab mandat bank sentral bukan untuk memenangkan popularitas, melainkan menjaga stabilitas.
Jika independensi mulai dikompromikan oleh kepentingan jangka pendek, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi gubernur, tetapi kredibilitas institusi BI.
Jangan Jadikan Suku Bunga sebagai Obat untuk Semua Persoalan
Saya juga melihat tantangan lain yang tidak kalah penting: tekanan agar kebijakan moneter semakin agresif mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi tentu penting. Namun, saya tidak setuju jika BI kemudian didorong menjadi semacam mesin utama pertumbuhan melalui kebijakan suku bunga.
Suku bunga rendah memang dapat mendorong kredit, konsumsi, dan investasi. Tetapi kebijakan tersebut bukan tanpa konsekuensi.
Jika ruang pelonggaran terlalu dipaksakan ketika kondisi eksternal tidak mendukung, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat. Arus modal dapat berubah arah, inflasi dapat kembali tertekan, dan stabilitas sistem keuangan dapat menghadapi risiko baru.
Karena itu, saya berharap Destry tidak terjebak dalam paradigma bahwa semakin rendah suku bunga berarti semakin baik bagi perekonomian.
Tidak sesederhana itu.
Tugas bank sentral adalah menemukan keseimbangan. Pertumbuhan harus dijaga, tetapi stabilitas tidak boleh menjadi korban.
Stabilitas Harus Terasa di Masyarakat
Ukuran keberhasilan BI juga tidak boleh berhenti pada angka-angka makroekonomi.
Kita sering mengatakan inflasi terkendali, rupiah stabil, sistem keuangan kuat, dan kebijakan moneter kredibel. Tetapi pertanyaan berikutnya harus diajukan: apakah stabilitas tersebut benar-benar dirasakan masyarakat?
Jika inflasi terkendali tetapi daya beli masyarakat melemah, kita harus bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Jika suku bunga kebijakan turun tetapi bunga kredit produktif masih tinggi, kita harus mengevaluasi transmisi kebijakan moneter.
Jika likuiditas tersedia tetapi pelaku UMKM sulit memperoleh pembiayaan, berarti ada persoalan yang tidak selesai hanya dengan menurunkan suku bunga.
Menurut saya, Destry harus memberikan perhatian besar terhadap persoalan transmisi kebijakan tersebut.
BI jangan hanya melihat ekonomi dari atas melalui grafik dan indikator. Bank sentral juga harus melihat ekonomi dari bawah: dari pelaku usaha kecil, pekerja, rumah tangga, dan masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan harga barang, cicilan, biaya produksi, serta akses pembiayaan.
Tantangan Digital Semakin Besar
Transformasi digital juga akan menjadi salah satu pekerjaan besar bagi kepemimpinan BI ke depan.
Digitalisasi sistem pembayaran memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Namun, semakin cepat ekosistem keuangan digital berkembang, semakin besar pula risiko yang harus diantisipasi.
Risiko penipuan, keamanan transaksi, penyalahgunaan data, perilaku konsumtif, hingga berbagai bentuk pembiayaan digital membutuhkan pengawasan dan edukasi yang seimbang.
Saya berharap BI tidak hanya menjadi regulator yang sibuk membuat aturan setelah masalah muncul.
Bank sentral harus memiliki kemampuan membaca risiko sebelum menjadi krisis.
Di sinilah literasi keuangan masyarakat menjadi penting. Teknologi keuangan yang semakin mudah digunakan harus diimbangi dengan masyarakat yang semakin memahami risiko.
Destry Harus Berani Tidak Populer
Bagi saya, kualitas seorang Gubernur BI justru terlihat ketika ia harus mengambil keputusan yang tidak populer.
Ada saatnya suku bunga harus dinaikkan ketika dunia usaha menginginkan biaya modal lebih murah. Ada pula saatnya kebijakan moneter harus dilonggarkan ketika kondisi ekonomi membutuhkan stimulus.
Keputusan seperti itu tidak selalu menyenangkan semua pihak.
Karena itu, saya berharap Destry memiliki keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan kepentingan ekonomi jangka panjang.
Gubernur BI tidak boleh terlalu sibuk memikirkan apakah kebijakannya disukai atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah apakah kebijakan tersebut benar atau tidak.
Tentu, keputusan yang sulit harus disertai komunikasi yang baik.
Masyarakat berhak mengetahui mengapa BI menaikkan atau menurunkan suku bunga. Masyarakat juga perlu memahami alasan BI melakukan intervensi terhadap pasar valuta asing dan bagaimana kebijakan tersebut akan memengaruhi kehidupan mereka.
Komunikasi bank sentral tidak boleh hanya ditujukan kepada ekonom dan pelaku pasar.
BI harus mampu berbicara kepada masyarakat dengan bahasa yang sederhana tanpa kehilangan kedalaman analisis.
DPR Jangan Memberikan Cek Kosong
Karena Destry menjadi calon tunggal, saya berharap proses di DPR tetap dilakukan secara serius.
Uji kepatutan dan kelayakan jangan hanya menjadi formalitas untuk mengesahkan calon yang sudah diajukan.
DPR perlu menggali secara mendalam pandangan Destry mengenai independensi BI, arah suku bunga, stabilitas rupiah, hubungan fiskal-moneter, digitalisasi keuangan, serta strategi menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Pertanyaan paling penting bukan hanya “apakah Destry mampu?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah “seberapa berani Destry?”
Berani mempertahankan independensi. Berani mengoreksi kebijakan yang tidak lagi relevan. Berani mengatakan tidak terhadap tekanan jangka pendek. Dan berani mengambil keputusan yang mungkin tidak populer ketika stabilitas ekonomi membutuhkannya.
Jangan Hanya Meneruskan, Harus Berani Mengevaluasi
Destry memiliki pengalaman panjang di BI. Tetapi justru karena memiliki pengalaman tersebut, saya berharap ia tidak hanya meneruskan kebijakan yang sudah ada.
Dunia berubah.
Ekonomi global berubah. Perilaku investor berubah. Teknologi keuangan berubah. Pola konsumsi masyarakat berubah. Risiko sistem keuangan juga berubah.
Karena itu, kebijakan bank sentral harus terus dievaluasi.
Tidak ada kebijakan yang sakral.
Kebijakan yang efektif kemarin belum tentu efektif untuk menghadapi persoalan lima tahun mendatang.
Destry harus membawa perspektif baru tanpa kehilangan kesinambungan. Ia harus mampu menjaga kredibilitas BI sekaligus berani melakukan pembaruan ketika diperlukan.
Pada Akhirnya, Rakyat Harus Merasakan Stabilitas
Bagi saya, ukuran keberhasilan Destry nantinya bukan hanya apakah inflasi berada dalam sasaran atau rupiah bergerak stabil.
Ukuran keberhasilan yang lebih substansial adalah apakah stabilitas tersebut mampu menciptakan ruang ekonomi yang lebih sehat bagi masyarakat.
Apakah dunia usaha mendapatkan pembiayaan yang lebih produktif?
Apakah daya beli masyarakat terlindungi?
Apakah sistem pembayaran semakin aman?
Apakah risiko keuangan rumah tangga semakin terkendali?
Apakah kebijakan moneter benar-benar bekerja sampai ke sektor riil?
Itulah pertanyaan yang harus dijawab.
Saya tidak ingin BI hanya menjadi penjaga angka-angka ekonomi. Saya ingin BI menjadi institusi yang mampu menjaga stabilitas sekaligus memastikan stabilitas tersebut memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
Destry memiliki pengalaman dan kapasitas untuk menjalankan tugas tersebut. Tetapi modal pengalaman saja tidak cukup.
Ia membutuhkan keberanian.
Keberanian untuk independen, keberanian untuk tidak populer, keberanian mengevaluasi kebijakan, dan keberanian memastikan Bank Indonesia tetap berpihak pada kepentingan stabilitas ekonomi jangka panjang.
Jika akhirnya Destry dipercaya memimpin BI, maka harapan saya sederhana: jangan jadikan jabatan Gubernur BI sekadar posisi untuk melanjutkan tradisi.
Jadikan lima tahun kepemimpinan ke depan sebagai kesempatan untuk memperkuat kembali kepercayaan publik terhadap bank sentral.
Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah bank sentral bukan hanya terletak pada cadangan devisa, instrumen moneter, atau kewenangan yang dimilikinya.
Kekuatan terbesar bank sentral terletak pada kepercayaan. Dan kepercayaan hanya dapat dibangun ketika independensi, konsistensi, transparansi, dan keberanian menjadi fondasi setiap kebijakan. ***

