DCNews, Jakarta — Perubahan teknologi, ancaman siber, dinamika geopolitik, dan meningkatnya tuntutan transparansi membuat organisasi tidak cukup hanya mengejar target kinerja. Kemampuan mengenali dan mengantisipasi risiko menjadi bagian penting dalam memastikan target tersebut tercapai.
Hal itu menjadi perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui pelatihan Risk-Based Performance Management yang digelar Lembaga Penggerak Ekonomi Umat (LPEU) MUI bersama Asosiasi Manajemen Risiko Energi Indonesia (AMREI).
Pelatihan berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (7-8 Agustus 2026), di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, dan diikuti sekitar 50 peserta. Kegiatan dibuka Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Ekonomi, Drs. H. Hazuarli Halim.
Hazuarli mengatakan pemahaman manajemen risiko penting bagi MUI karena organisasi memiliki tanggung jawab besar dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kepentingan umat.
“Kita ingin manajemen dan roda organisasi makin melihat aspek risiko sebagai dasar berpijak. Pengetahuan ini juga bisa ditransfer dalam berbagai kepentingan di luar MUI,” ujar Hazuarli.
Risiko Harus Sejalan dengan Target
Ketua LPEU MUI Dr. Mukhaer Pakkanna mengatakan manajemen risiko memiliki hubungan erat dengan manajemen strategi, khususnya dalam menetapkan target dan mengukur kinerja.
Menurut dia, organisasi tidak cukup hanya menyusun program, tetapi harus mampu mengidentifikasi berbagai risiko yang berpotensi menghambat pencapaian sasaran.
“Pelatihan ini sangat penting karena berkaitan dengan manajemen risiko dan manajemen strategi, terutama pengukuran kinerja dan target,” kata Mukhaer.
Sementara itu, Ketua Umum AMREI Rifky Assamady menilai pendekatan berbasis risiko semakin relevan di tengah perubahan lingkungan organisasi yang cepat.
“Keberhasilan organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menyusun program, tetapi juga kemampuan membaca perubahan, mengantisipasi risiko, dan mengambil keputusan yang tepat pada waktu yang tepat,” ujar Rifky.
Ia menjelaskan, dalam manajemen kinerja, organisasi selama ini banyak berfokus pada Key Performance Indicator (KPI). Padahal, pencapaian target juga perlu dikaitkan dengan potensi risiko yang dapat menggagalkannya.
Karena itu, KPI perlu berjalan beriringan dengan Key Risk Indicator (KRI). KRI membantu organisasi mendeteksi potensi risiko sejak dini sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan sebelum masalah berkembang.
Peserta Belajar Lewat Games
Pelatihan tidak hanya menggunakan metode teori. Sekretaris AMREI Mohamad Soleh membagi peserta ke dalam enam kelompok dan mengajak mereka mengikuti permainan menggunakan Jenga Block serta board game.
Permainan tersebut dirancang agar peserta memahami konsep risiko melalui pengalaman langsung dalam mengambil keputusan.
“Kita kedepankan dulu praktik melalui games. Terbukti peserta sangat bergairah dan ingin tahu lebih jauh bagaimana sesungguhnya manajemen risiko itu diterapkan,” kata Soleh.
MUI dan AMREI berharap pelatihan tersebut dapat mendorong budaya sadar risiko yang tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi menjadi bagian dari pengambilan keputusan, pengukuran kinerja, dan tata kelola organisasi secara berkelanjutan.
Kegiatan tersebut turut didukung JASINDO, ACA Asuransi, ISDF MUI, dan LPPOM MUI. ***

