Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Gedung Putih Siap Eskalasi Demi Stabilitas Selat Hormuz

Date:

DCNews, Washington DC. — Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk, pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran, seiring operasi gabungan dengan Israel yang difokuskan pada wilayah strategis Selat Hormuz.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Minggu (23/3/2026) waktu setempat menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan menghancurkan sistem pertahanan Iran di sepanjang jalur vital distribusi energi global itu. Pernyataan ini muncul menjelang tenggat yang diberikan Presiden Donald Trump kepada Teheran untuk membuka kembali akses Selat Hormuz tanpa ancaman.

Dalam pernyataannya, Bessent menegaskan bahwa Washington siap mengambil langkah ekstrem, termasuk melumpuhkan kekuatan udara dan laut Iran, serta memastikan negara tersebut tidak memiliki kapasitas pengembangan senjata nuklir maupun proyeksi kekuatan militer lintas kawasan.

“Saat ini sedang berlangsung kampanye militer untuk melemahkan pertahanan Iran di sepanjang selat, dan ini akan terus berlanjut sampai benar-benar dihancurkan. Terkadang, Anda harus melakukan eskalasi untuk mencapai de-eskalasi,” ujar Bessent.

Pernyataan tersebut mempertegas sikap keras Trump, yang sebelumnya mendesak Iran untuk membuka penuh jalur pelayaran strategis tersebut. Tekanan ini muncul seiring lonjakan harga energi yang mulai berdampak pada ekonomi domestik AS, terutama menjelang pemilu paruh waktu.

Memasuki pekan keempat konflik, dampak ekonomi semakin terasa. Data dari American Automobile Association menunjukkan harga bensin reguler di AS melonjak hingga 34 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Di sektor penerbangan, CEO United Airlines Holdings Inc, Scott Kirby, bahkan memperingatkan potensi lonjakan harga minyak hingga mencapai US$175 per barel—level yang dapat menekan biaya operasional maskapai secara signifikan.

Meski demikian, Gedung Putih memandang lonjakan harga energi sebagai konsekuensi jangka pendek yang dapat diterima demi tujuan strategis jangka panjang. “Katakanlah kita menghadapi harga tinggi selama 50 hari ke depan. Namun, harga akan turun setelah itu, dan kita akan mendapatkan 50 tahun kedamaian tanpa rezim Iran yang memiliki senjata nuklir,” kata Bessent.

Namun, ketika ditanya mengenai kepastian waktu stabilisasi harga minyak, Bessent mengakui ketidakpastian tersebut. “Saya tidak tahu apakah itu akan memakan waktu 50 hari atau 100 hari,” ujarnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Piala Dunia 2026 Resmi Bergulir, Meksiko Hadapi Afrika Selatan pada Laga Pembuka

DCNews, Jakarta — Piala Dunia 2026 resmi dimulai dengan...

Abdullah Minta OJK Bangun Basis Database Nasional Terbuka, untuk Awasi Debt Collector Serta Leasing

DCNews, Jakarta — Anggota Komisi III DPR RI Abdullah...

Cegah Pinjol Ilegal dan Judi Online di Bandung, Hanwha Life Gandeng Save the Children Edukasi 600 Siswa SMK

DCNews, Bandung — Di tengah meningkatnya ancaman judi online dan...

Kasus PT Dana Syariah Indonesia: Mantan Petinggi OJK FH Resmi Jadi Tersangka

DCNews, Jakarta - Penyidikan kasus dugaan penipuan investasi dan...