Ancaman Penutupan Selat Hormuz, DPR Minta Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Date:

DCNews, Jakarta — Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran global. Isu ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, menjadi alarm bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, karena berpotensi mengganggu pasokan dan memicu lonjakan harga energi.

Selat Hormuz dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan di jalur tersebut berisiko mendorong harga minyak global melonjak tajam, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara dan stabilitas ekonomi domestik.

Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto menilai pemerintah perlu merespons dinamika ini secara cepat dan strategis. Ia mengacu pada pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebut sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz.

“Ketergantungan ini membuat Indonesia rentan terhadap gangguan distribusi maupun fluktuasi harga global yang dapat berdampak langsung pada APBN,” kata Firnando, kepada wartawan di Jakarta, (5/3/2026).

Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasokan. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga kepastian suplai energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik.

Namun, Firnando mengingatkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap kawasan Timur Tengah tidak hanya pada minyak mentah. Sekitar 30 persen impor LPG nasional masih berasal dari wilayah tersebut, sehingga perlu segera dicari alternatif pemasok dari kawasan lain untuk meminimalkan risiko pasokan.

Meski pemerintah memastikan cadangan energi domestik masih dalam kondisi aman untuk beberapa pekan ke depan, ia menegaskan mitigasi jangka pendek harus dibarengi langkah struktural jangka panjang. Firnando mendorong PT Pertamina (Persero) memperkuat strategi pengamanan pasokan sekaligus memperluas jaringan perdagangan energi agar tidak bertumpu pada satu kawasan tertentu.

Menurut politikus dari Partai Golkar itu, situasi geopolitik ini harus menjadi momentum mempercepat peningkatan produksi migas dalam negeri serta mendorong transisi menuju energi baru dan terbarukan. Diversifikasi impor, kata dia, hanya solusi taktis, sementara kemandirian dan ketahanan energi nasional merupakan strategi fundamental untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Literasi Keuangan Rendah, Kang Dahlan Sebut Jasa Pendampingan Masih Dibutuhkan Masyarakat

DCNews, Jakarta — Stigma negatif yang belakangan melekat pada jasa...

DPR, BI, dan Kemenkeu Satukan Langkah Jaga Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi

DCNews, Jakarta — Pemerintah, Bank Indonesia, dan Dewan Perwakilan...

OJK Panggil Pemegang Saham KoinWorks Usai Tiga Petinggi Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Penyaluran Kredit

DCNews, Jakarta — Kasus dugaan korupsi penyaluran kredit yang menyeret...

Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri24 Melonjak di Pegadaian Hari Ini, Antam Tembus Rp2,88 Juta per Gram

DCNews, Jakarta — Harga emas batangan yang diperdagangkan melalui...