Shutdown Pemerintah AS Ganggu Data Ekonomi, The Fed Dipaksa Ambil Keputusan dengan “Mata Tertutup”

Date:

DCNews, Washington – Penutupan sebagian layanan pemerintah Amerika Serikat (shutdown) kembali melumpuhkan arus data ekonomi resmi yang vital bagi kebijakan moneter. Situasi ini memaksa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), mengambil keputusan suku bunga tanpa panduan utama berupa laporan ketenagakerjaan dan inflasi.

Meski berpotensi menimbulkan kebingungan jangka pendek, para ekonom menilai dampak shutdown terhadap ekonomi AS secara keseluruhan relatif kecil jika merujuk pada sejarah. Dalam lima dekade terakhir, tercatat 20 kali shutdown dengan durasi rata-rata delapan hari. “Shutdown biasanya terlalu singkat untuk menjatuhkan ekonomi secara permanen,” ujar Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, kepada Fox Business, Kamis (2/10/2025).

Data Penting Tertunda, The Fed Beralih ke Sumber Swasta

Dampak paling nyata dari penghentian layanan pemerintah adalah tertundanya rilis laporan ketenagakerjaan bulanan dari Bureau of Labor Statistics (BLS), yang seharusnya diumumkan Jumat ini. Laporan tersebut penting sebagai bahan pertimbangan rapat suku bunga The Fed pada 28–29 Oktober mendatang.

Tanpa data resmi, The Fed kini bergantung pada laporan swasta seperti ADP. Namun, akurasi data tersebut kerap diperdebatkan. ADP melaporkan pemangkasan 32.000 tenaga kerja pada September, penurunan ketiga dalam empat bulan terakhir—indikasi melemahnya pasar kerja.

Kredibilitas BLS juga tengah disorot setelah Presiden Donald Trump memecat kepala lembaga tersebut pada Agustus lalu. “Shutdown dan krisis kepercayaan terhadap data resmi menegaskan pentingnya memanfaatkan sumber alternatif,” kata Matthew Martin, Ekonom Senior Oxford Economics.

Risiko Jangka Pendek dan Catatan Sejarah

Sejarah menunjukkan, dampak shutdown lebih bersifat administratif ketimbang menimbulkan krisis ekonomi. Hanya dua shutdown yang berbarengan dengan kontraksi ekonomi, yaitu pada 1981 di masa Presiden Ronald Reagan dan 1990 di masa George H.W. Bush—keduanya terjadi ketika AS memang sudah dalam resesi.

Shutdown terpanjang, 35 hari pada akhir 2018 hingga awal 2019 di masa Trump, hanya menekan konsumsi rumah tangga sebesar 0,3 persen. Ekonom kala itu menilai perlambatan lebih disebabkan efek memudar dari pemotongan pajak dan perang dagang AS-Cina.

“Shutdown pemerintah memang merepotkan, tetapi dampaknya pada ekonomi sangat kecil dan biasanya cepat pulih,” kata Scott Helfstein, Kepala Strategi Investasi di Global X. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

THR ASN 2026 Mulai Cair: Rp11,16 Triliun Sudah Disalurkan, Kemenkeu Tunggu Pengajuan Kementerian dan Daerah

DCNews, Jakarta — Pemerintah mulai menyalurkan Tunjangan Hari Raya...

KPK Tangkap Bupati Rejang Lebong dalam OTT Dugaan Suap Proyek, 9 Orang Dibawa ke Jakarta

DCNews, Jakarta — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Rejang...

Seleksi Dewan Komisioner OJK Dipercepat, Purbaya: Gejolak Perang Timur Tengah Guncang Pasar

DCNews, Jakarta — Pemerintah mempercepat proses seleksi anggota Dewan...

OJK Prediksi Pinjol Naik 30 Persen Saat Ramadan–Lebaran 2026, Kebutuhan Konsumsi dan UMKM Jadi Pemicu

DCNews, Jakarta — Penyaluran pinjaman online atau fintech peer-to-peer (P2P)...