DCNews, Jakarta – Sejumlah perusahaan di Indonesia kini mulai memasukkan riwayat kredit sebagai salah satu indikator penting dalam proses rekrutmen pegawai. Praktik yang sebelumnya umum dilakukan di negara maju ini, perlahan diterapkan di Tanah Air, terutama untuk posisi yang berhubungan langsung dengan keuangan perusahaan.
Aidil Akbar Madjid, Pendiri International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia, sebagaimana dikutip DCNews, Jumat (3/10/2025) menyebutkan bahwa tren ini sudah terlihat di kalangan perusahaan multinasional dan berpotensi diadopsi lebih luas oleh korporasi lokal.
“Mau melamar kerja, sekarang sudah banyak sekali perusahaan, khususnya multinational company, yang mengecek SLIK OJK. Namun karena biayanya relatif tinggi, perusahaan lokal kemungkinan akan menggunakan layanan credit scoring dari pemeringkat kredit alternatif,” ujar Aidil.
Mengukur Integritas dari Riwayat Keuangan
Menurut Aidil, riwayat kredit mencerminkan disiplin finansial seseorang yang dapat berimbas pada integritas kerjanya. Karena itu, pemeriksaan kredit biasanya difokuskan pada calon karyawan di posisi akuntansi atau divisi keuangan.
“Kalau orangnya tidak disiplin secara pribadi, bagaimana dengan uang perusahaan? Bahkan bisa saja berpotensi terjadi korupsi,” tegasnya seraya menambahkan bahwa penerapan kebijakan bertujuan meminimalkan risiko kerugian akibat ketidakdisiplinan finansial pegawai, sekaligus menjaga akuntabilitas pengelolaan kas perusahaan.
Praktik Global Jadi Rujukan
Di Amerika Serikat, pemeriksaan skor kredit sudah menjadi standar dalam berbagai aspek, mulai dari melamar kerja hingga menyewa apartemen. Sementara di China, penerapan lebih jauh dengan social scoring, yang menilai perilaku sehari-hari warganya.
Aidil menilai, langkah perusahaan di Indonesia yang mulai mengecek riwayat kredit calon karyawan menandai transformasi menuju standar global, di mana perilaku keuangan pribadi dipandang sebagai tolok ukur tanggung jawab.
Dampak bagi Generasi Muda
Fenomena gagal bayar (galbay) pada pinjaman daring dan layanan paylater, menurut Aidil, dapat menjadi hambatan besar bagi generasi muda saat mencari pekerjaan di masa depan.
“Banyak sekali customer dari pinjaman daring dan paylater adalah Gen Z dan milenial. Kalau catatan kredit mereka rusak sekarang, dampaknya bisa panjang dan mengganggu masa depan,” katanya.
Tren Baru Rekrutmen
Dengan kebijakan ini, seleksi karyawan di Indonesia tidak lagi sekadar menilai keterampilan profesional, tetapi juga disiplin finansial dan rekam jejak pribadi.
Aidil mendorong perusahaan untuk lebih luas memanfaatkan SLIK OJK maupun credit scoring sebagai alat seleksi tambahan yang bisa meningkatkan kepercayaan dan stabilitas keuangan internal perusahaan.
“Perusahaan akhirnya bisa mendapatkan karyawan yang bukan hanya kompeten secara profesional, tapi juga punya integritas dan disiplin pribadi,” ujarnya. ***

