DCNews, Jakarta — Harga emas terus tertekan dalam beberapa pekan terakhir, mencerminkan ketidakpastian pasar global yang mengguncang aset-aset lindung nilai. Emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam), salah satu acuan utama harga logam mulia di pasar domestik, mencatat penurunan tajam hingga Rp144.000 dari rekor tertingginya tahun ini.
Per Selasa (28/5), harga jual emas Antam ukuran 1 gram tercatat sebesar Rp1.895.000. Angka ini turun Rp28.000 dibanding kemarin, dan telah merosot Rp37.000 dibanding awal Mei. Bila dibandingkan dengan puncak harga pada 22 April lalu sebesar Rp2.039.000 per gram, penurunan mencapai Rp144.000.
Tren pelemahan ini juga berdampak pada harga buyback—harga yang ditawarkan Antam untuk pembelian kembali emas dari konsumen. Dari level tertinggi Rp1.888.000 per gram pada April lalu, harga buyback kini turun menjadi Rp1.739.000 per gram. Itu berarti koreksi sebesar Rp149.000 hanya dalam waktu sekitar satu bulan.
Pelemahan harga emas global menjadi pemicu utama penurunan ini. Investor cenderung melepas aset lindung nilai seperti emas seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Di sisi lain, dinamika geopolitik dan tekanan di sektor perdagangan global juga terus menciptakan fluktuasi tajam pada pasar komoditas.
Meskipun koreksi ini memberikan ruang akumulasi bagi sebagian investor, para analis memperingatkan bahwa volatilitas masih akan membayangi pergerakan harga emas dalam waktu dekat. “Emas saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor permintaan fisik, tetapi juga oleh sentimen spekulatif dan ketidakpastian makroekonomi global,” ujar seorang analis pasar kepada DCNews. ***

