DCNews, Jakarta – Harga emas batangan Antam yang dipasarkan melalui Pegadaian kembali terkoreksi pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Penurunan terjadi hampir di seluruh ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 100 gram, seiring melemahnya harga buyback dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar yang menanti arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Koreksi harga di pasar domestik terjadi di tengah pergerakan harga emas global yang masih berfluktuasi. Meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dan mendorong permintaan aset aman (safe haven), ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) masih menjadi faktor dominan yang membatasi penguatan harga emas.
Berdasarkan data Galeri 24 Pegadaian, harga emas Antam ukuran 1 gram turun Rp9.000, dari sebelumnya Rp2.727.000 menjadi Rp2.718.000 per gram.
Harga buyback atau pembelian kembali emas Antam juga mengalami penurunan sebesar Rp8.000, dari Rp2.426.000 menjadi Rp2.418.000 per gram.
Penurunan juga terjadi pada ukuran lainnya. Emas Antam 0,5 gram dijual seharga Rp1.412.000, sedangkan ukuran 2 gram dipatok Rp5.373.000. Untuk ukuran 3 gram, harga berada di level Rp8.033.000, sementara ukuran 5 gram dipasarkan Rp13.354.000.
Adapun emas Antam ukuran 10 gram dijual Rp26.650.000, sedangkan ukuran 25 gram dibanderol Rp66.495.000. Untuk ukuran besar, emas Antam 50 gram dijual Rp132.907.000, sementara ukuran 100 gram mencapai Rp265.733.000.
Di sisi buyback, harga emas Antam ukuran 0,5 gram tercatat Rp1.209.000, ukuran 2 gram Rp4.836.000, ukuran 5 gram Rp12.091.000, ukuran 10 gram Rp24.183.000, ukuran 25 gram Rp60.162.000, ukuran 50 gram Rp120.325.000, dan ukuran 100 gram Rp240.650.000.
Rincian Harga Emas Antam di Pegadaian
Harga Jual
- 0,5 gram: Rp1.412.000
- 1 gram: Rp2.718.000
- 2 gram: Rp5.373.000
- 3 gram: Rp8.033.000
- 5 gram: Rp13.354.000
- 10 gram: Rp26.650.000
- 25 gram: Rp66.495.000
- 50 gram: Rp132.907.000
- 100 gram: Rp265.733.000
Harga Buyback
- 0,5 gram: Rp1.209.000
- 1 gram: Rp2.418.000
- 2 gram: Rp4.836.000
- 3 gram: Rp7.255.000
- 5 gram: Rp12.091.000
- 10 gram: Rp24.183.000
- 25 gram: Rp60.162.000
- 50 gram: Rp120.325.000
- 100 gram: Rp240.650.000
Di pasar internasional, harga emas dunia pada perdagangan Rabu pagi berada di kisaran 4.028,51 dollar AS per ons. Mengacu pada Trading Economics, harga logam mulia bergerak di sekitar 4.020 dollar AS per ons setelah terkoreksi pada sesi sebelumnya.
Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh naiknya harga minyak dunia menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Militer Amerika Serikat mengklaim berhasil menggagalkan serangan Iran yang ditujukan kepada pasukan AS di kawasan tersebut, sehingga memunculkan kembali kekhawatiran terhadap potensi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Di saat yang sama, perhatian investor juga tertuju pada hasil rapat kebijakan Federal Reserve. Bank sentral Amerika Serikat diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini. Namun, pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, termasuk pada pertemuan September.
Suku bunga yang bertahan tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan bunga lebih tinggi.
Analisis Dahlan Consultant: Koreksi Jangka Pendek, Prospek Emas Masih Menarik
Konsultan keuangan sekaligus Pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai penurunan harga emas saat ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat dibandingkan perubahan fundamental permintaan emas.
Menurutnya, selama The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi, harga emas berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta mengubah prospek emas sebagai instrumen lindung nilai.
“Volatilitas harga emas saat ini merupakan respons normal pasar terhadap ekspektasi suku bunga dan perkembangan geopolitik global. Investor tidak perlu panik menghadapi koreksi harian karena emas pada dasarnya merupakan instrumen investasi jangka panjang,” ujar Kang Dahlan, sapaan akrab Ketua Yayasan Hijrah Financial Indonesia itu lagi.
Ia menambahkan, masyarakat yang berorientasi pada investasi jangka panjang justru dapat memanfaatkan pelemahan harga sebagai momentum melakukan pembelian secara bertahap (average cost averaging).
“Ketidakpastian ekonomi global, potensi inflasi, hingga risiko geopolitik masih menjadi faktor yang menopang daya tarik emas sebagai aset safe haven. Karena itu, strategi membeli secara bertahap saat harga terkoreksi dapat menjadi pilihan yang lebih bijak dibanding menunggu harga kembali melonjak,” kata Kang Dahlan. ***

