DCNews, Jakarta — Kisah tak terduga datang dari dunia hiburan. Di tengah maraknya ancaman digital, penyanyi jebolan Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Veri Afandi, mengungkap pengalaman pribadinya yang sempat terjerat pinjaman online (pinjol) ilegal—berawal dari satu klik yang tidak disengaja saat mengedit video di ponselnya.
Dalam perbincangan di kanal Feni Rose Official yang dikutip DCNews, Senin (20/4/2026), Veri menjelaskan bahwa insiden itu terjadi ketika ia menggunakan aplikasi editing versi gratis yang dipenuhi iklan. Tanpa disadari, ia mengklik salah satu iklan pinjol yang langsung terpasang di perangkatnya.
“Aku lagi ngedit video, tiba-tiba ke-klik iklan pinjol, terus langsung ke-install. Enggak lama, dataku seperti ketarik,” ujar Veri.
Peristiwa ini menyoroti celah keamanan digital yang kerap diabaikan pengguna. Aplikasi gratis dengan iklan kerap menjadi pintu masuk bagi layanan ilegal untuk mengakses data pribadi tanpa persetujuan yang jelas.
Veri mengakui bahwa dirinya menyimpan berbagai data sensitif di ponsel, mulai dari identitas pribadi hingga akses ke layanan perbankan. Kondisi ini memperbesar risiko penyalahgunaan data oleh pihak tak bertanggung jawab.
“Di smartphone itu kan lengkap—KTP, password, bahkan mobile banking. Itu semua bisa jadi celah,” katanya.
Tak lama setelah kejadian tersebut, Veri mulai menerima serangkaian panggilan dari pihak yang mengaku sebagai penagih utang. Padahal, ia merasa tidak pernah mengajukan pinjaman apa pun. Situasi ini memicu tekanan psikologis, terutama karena ia mengaku memiliki kecenderungan overthinking.
“Hal kecil saja bisa kepikiran terus, apalagi ini. Jadi cukup stres,” ungkapnya.
Kasus ini kemudian menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Veri pun mengambil langkah hukum dengan melaporkan kejadian tersebut. Ia bahkan mendapat undangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membahas lebih lanjut terkait praktik pinjol ilegal yang dialaminya.
Seiring dengan meningkatnya sorotan publik, pihak-pihak yang sebelumnya melakukan penagihan mendadak menghentikan aktivitasnya. “Begitu viral dan aku lapor, mereka langsung bungkam,” kata Veri.
Kini, ia memastikan bahwa tidak ada lagi teror maupun klaim utang yang ditujukan kepadanya. Pengalaman ini menjadi peringatan nyata bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap iklan digital dan pentingnya menjaga keamanan data pribadi di perangkat elektronik.
Kasus yang dialami Veri mempertegas urgensi literasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial—di mana satu klik kecil bisa berujung pada risiko besar. ***

