Oleh: Asep Dahlan (Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant)
Di Era digital yang serba cepat, generasi muda Indonesia, terutama Gen Z hidup dalam kemudahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mengakses uang, bertransaksi, hingga mencoba berbagai peluang finansial kini bisa dilakukan hanya lewat ponsel. Namun di balik kemudahan itu, tersembunyi risiko besar yang kerap tidak disadari, yaitu jeratan pinjaman online (pinjol) dan maraknya judi online.
Masalah utamanya sederhana, tetapi krusial, yakni rendahnya literasi finansial.
Hari ini, siapa pun bisa mengajukan pinjaman dalam hitungan menit tanpa agunan. Di sisi lain, judi online tampil dengan wajah yang semakin “ramah”, seolah-olah menjadi jalan cepat untuk mendapatkan uang. Keduanya memanfaatkan satu hal yang sama—keinginan manusia untuk hasil instan.
Gen Z adalah generasi yang sangat akrab dengan teknologi. Mereka cepat belajar, adaptif, dan terbuka terhadap hal baru. Namun, kecepatan ini sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang cukup dalam mengelola keuangan. Akibatnya, tidak sedikit yang terjebak dalam pola pikir instan, semisal ingin cepat kaya tanpa proses yang sehat.
Di sinilah masalah mulai muncul.
Pinjol sering terlihat sebagai solusi cepat, padahal di baliknya terdapat bunga tinggi dan risiko penagihan yang menekan. Sekali terjebak, utang bisa menumpuk dan sulit dikendalikan. Sementara itu, judi online hampir selalu berujung pada kerugian, bukan hanya secara finansial, tetapi juga mental dan sosial.
Fenomena ini tidak bisa hanya disalahkan pada individu. Ada persoalan yang lebih besar: edukasi keuangan yang masih lemah. Literasi finansial belum menjadi kebiasaan, baik di lingkungan keluarga maupun dalam sistem pendidikan kita.
Padahal, prinsip dasar keuangan sangat penting untuk dipahami sejak dini, bukan hanya bagaimana mendapatkan uang, tetapi bagaimana mengelolanya. Tanpa pemahaman ini, penghasilan sebesar apa pun bisa habis tanpa arah, dan bahkan berubah menjadi beban utang.
Karena itu, ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dilakukan. Pertama, bangun kesadaran finansial. Mulailah dari hal kecil: mencatat pemasukan dan pengeluaran, memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta menetapkan tujuan keuangan.
Kedua, hindari keputusan yang didorong emosi atau tekanan sosial. Banyak anak muda terjebak utang bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan karena ingin mengikuti gaya hidup lingkungan.
Ketiga, gunakan teknologi secara bijak. Aplikasi keuangan seharusnya membantu perencanaan, bukan mendorong konsumsi berlebihan. Pilih sumber informasi yang kredibel, bukan sekadar mengikuti tren di media sosial.
Di sisi lain, peran pemerintah dan platform digital juga penting. Pengawasan terhadap pinjol ilegal dan konten judi online harus lebih tegas dan konsisten. Namun pada akhirnya, perlindungan terbaik tetap datang dari diri sendiri, melalui pengetahuan dan disiplin.
Era digital tidak bisa dihindari. Tapi kita bisa menentukan bagaimana menyikapinya.
Gen Z memiliki peluang besar untuk menjadi generasi yang cerdas secara finansial. Kuncinya ada pada satu hal: pemahaman yang benar sejak awal. Tanpa itu, kemudahan teknologi justru bisa berubah menjadi pintu masuk menuju masalah keuangan yang lebih serius. ***

