DCNews, Jakarta — Di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, mantan Ketua Komisi I DPR periode 2010–2017, Mahfuz Sidik, mendorong negara-negara Teluk untuk segera membentuk aliansi baru guna mengakhiri dominasi Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Mahfuz dalam diskusi publik “Bola Liar” yang disiarkan Kompas TV di Jakarta, Jumat kemarin (27/3/2026), dengan tema yang menyoroti dinamika konflik antara Iran dan Amerika Serikat, serta kemungkinan eskalasi militer atau jalur negosiasi.
Mahfuz menilai, momentum pascakonflik saat ini menjadi titik krusial bagi negara-negara di kawasan Teluk untuk membangun poros baru yang lebih independen. Ia menyebut proposal aliansi yang diajukan Iran dapat menjadi fondasi bagi kerja sama regional yang lebih luas, tidak hanya melibatkan enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain, tetapi juga negara lain seperti Irak dan Turki.
“Perang ini menjadi penanda berakhirnya hegemoni ekonomi, politik, dan militer Amerika di Timur Tengah,” ujar Mahfuz.
Ia berpandangan, konflik yang berlangsung selama sekitar satu bulan tersebut menunjukkan kegagalan strategi Washington dalam menghadapi Teheran, terutama dalam konteks perang asimetris. Menurutnya, langkah-langkah yang diambil Presiden Donald Trump justru mencerminkan kesalahan kalkulasi sejak awal.
Mahfuz juga meragukan kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat. Ia menilai wacana tersebut lebih sebagai manuver politik untuk mengulur waktu dan menjaga citra domestik di tengah tekanan publik dan sorotan internasional.
“Sejak awal tidak ada tujuan dan rencana yang jelas dalam operasi militer ini,” katanya.
Lebih lanjut, ia membandingkan pendekatan Washington terhadap Iran dengan upaya sebelumnya di Venezuela yang gagal menggulingkan Presiden Nicolás Maduro. Menurut Mahfuz, Iran memiliki karakteristik geopolitik dan kekuatan militer yang jauh berbeda, sehingga tidak bisa disamakan.
Ia juga menyoroti inkonsistensi pernyataan Trump, yang di satu sisi membuka peluang negosiasi, namun di sisi lain mengajukan tuntutan yang dinilai tidak realistis oleh Iran. Upaya mediasi yang disebut melibatkan Turki, Pakistan, dan Qatar pun, kata Mahfuz, belum menunjukkan hasil konkret.
Dalam analisisnya, Mahfuz menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memperoleh keuntungan strategis dari konflik tersebut. Bahkan, dukungan terhadap kebijakan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dinilai justru memperburuk posisi Washington di kawasan.
Ia memperingatkan potensi eskalasi yang lebih luas, termasuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis oleh pihak-pihak yang terlibat. Tekanan politik domestik terhadap Trump dan Netanyahu disebut menjadi faktor yang dapat mendorong keputusan-keputusan ekstrem.
Di sisi lain, Mahfuz menilai Trump memiliki kepentingan untuk segera mengakhiri konflik guna menjaga stabilitas politik dalam negeri. Namun, langkah tersebut berpotensi diiringi strategi lain, termasuk membiarkan krisis energi global sebagai dampak lanjutan dari konflik.
“Ketika eskalasi meluas dan krisis energi terjadi, Amerika bisa tampil sebagai pihak yang menghentikan perang atas nama kepentingan global,” ujarnya.
Mahfuz menutup analisanya dengan menegaskan bahwa dinamika konflik Timur Tengah saat ini tidak hanya menentukan arah kawasan, tetapi juga berpotensi mengubah peta kekuatan global dalam jangka panjang. ***

