Market Brief 26 Maret 2026: Emas Melemah, Minyak Fluktuatif, Nasdaq Tertahan Tekanan Suku Bunga

Date:

DCNews, Jakarta — Pergerakan pasar global pada Kamis, 26 Maret 2026, menunjukkan kecenderungan konsolidatif di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan moneter global dan dinamika geopolitik. Harga emas terkoreksi, minyak mentah bergerak fluktuatif, sementara indeks saham teknologi seperti Nasdaq mulai kehilangan momentum setelah reli panjang.

Di pasar komoditas, harga emas mengalami tekanan akibat aksi ambil untung setelah sebelumnya menyentuh level tinggi. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya minat jangka pendek terhadap aset safe haven, meskipun secara fundamental emas masih ditopang oleh ketidakpastian global dan ekspektasi pelonggaran suku bunga oleh bank sentral utama.

Sementara itu, harga minyak mentah bergerak dalam rentang terbatas dengan volatilitas tinggi. Ketidakpastian permintaan global serta stabilnya pasokan menjadi faktor utama yang menahan penguatan harga. Di sisi lain, tensi geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, tetap menjadi katalis yang berpotensi mendorong lonjakan harga secara tiba-tiba.

Di pasar valuta asing, pasangan EUR/USD menunjukkan penguatan terbatas seiring melemahnya dolar AS akibat ekspektasi penurunan suku bunga. Namun, penguatan euro masih tertahan oleh sikap hati-hati pelaku pasar terhadap prospek ekonomi kawasan Eropa.

Poundsterling terhadap dolar AS (GBP/USD) bergerak relatif stabil dengan kecenderungan sideways. Data ekonomi Inggris yang cukup solid menjadi penopang utama, namun belum cukup kuat untuk mendorong penguatan signifikan di tengah ketidakpastian global.

Sebaliknya, pasangan USD/JPY masih menunjukkan penguatan dolar terhadap yen. Perbedaan arah kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Jepang menjadi faktor dominan, di mana sikap longgar bank sentral Jepang terus menekan nilai tukar yen.

Dari pasar saham, indeks Nasdaq bergerak cenderung tertahan setelah mengalami reli signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Tekanan berasal dari kombinasi valuasi tinggi saham teknologi dan meningkatnya imbal hasil obligasi, yang membuat investor mulai mengalihkan sebagian portofolio ke aset yang lebih aman.

Secara keseluruhan, pasar keuangan global saat ini berada dalam fase penyesuaian dengan kecenderungan defensif. Investor menunggu kejelasan arah kebijakan suku bunga serta perkembangan geopolitik sebelum kembali mengambil posisi agresif. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, dengan peluang penguatan terbatas pada aset berisiko dan potensi rebound pada aset lindung nilai jika ketidakpastian meningkat. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Legislator PDIP Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal di Bandar Lampung

DCNews, Bandar Lampung — Ancaman penyalahgunaan narkoba, maraknya judi online,...

Literasi Keuangan Rendah, Kang Dahlan Sebut Jasa Pendampingan Masih Dibutuhkan Masyarakat

DCNews, Jakarta — Stigma negatif yang belakangan melekat pada jasa...

DPR, BI, dan Kemenkeu Satukan Langkah Jaga Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi

DCNews, Jakarta — Pemerintah, Bank Indonesia, dan Dewan Perwakilan...

OJK Panggil Pemegang Saham KoinWorks Usai Tiga Petinggi Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Penyaluran Kredit

DCNews, Jakarta — Kasus dugaan korupsi penyaluran kredit yang menyeret...