DCNews, Jakarta — Permintaan pinjaman melalui layanan fintech peer-to-peer lending (P2P lending) atau pinjaman daring diperkirakan melonjak tajam menjelang Ramadan hingga Idulfitri 2026. Lonjakan ini dipicu meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat serta kebutuhan dana talangan untuk berbagai pengeluaran selama musim mudik dan perayaan hari raya.
Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar memprediksi permintaan pembiayaan pada periode tersebut bisa meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata bulan biasa.
“Permintaan biasanya bisa meningkat sampai dua kali lipat dibanding bulan-bulan normal,” kata Entjik dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Meski peluang pertumbuhan terbuka lebar, Entjik mengingatkan seluruh anggota AFPI agar tetap memprioritaskan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan. Ia menegaskan pentingnya analisis kelayakan kredit yang lebih ketat, terutama dalam sistem credit scoring, mengingat kondisi ekonomi global dan domestik pada 2026 masih dibayangi ketidakpastian.
Menurut dia, strategi industri fintech lending harus tetap konservatif untuk menjaga kualitas portofolio pinjaman dan mencegah lonjakan kredit bermasalah di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.
“Karena kondisi ekonomi ke depan masih belum stabil, maka seluruh analisis kelayakan kredit harus diperketat, terutama pada credit scoring,” ujarnya.
AFPI, lanjut Entjik, juga terus mendorong perusahaan anggota untuk memperkuat sistem pengendalian kredit (credit control). Sejumlah platform pindar bahkan telah mulai memperketat parameter penilaian risiko guna menyesuaikan dengan kondisi ekonomi yang penuh tantangan pada 2026.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tren pertumbuhan industri ini masih kuat. Outstanding pinjaman P2P lending tercatat tumbuh 25,52 persen secara tahunan (year-on-year) pada Januari 2026.
Fintech Jangan Hanya Kejar Keuntungan
Namun di tengah proyeksi lonjakan pembiayaan tersebut, konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, mengingatkan industri fintech lending agar tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis semata.
Menurut Kang Dahlan peningkatan permintaan pinjaman pada momentum Ramadan dan Lebaran sering kali dipicu kebutuhan konsumtif yang berisiko menjerat masyarakat dalam siklus utang.
“AFPI dan seluruh platform fintech harus lebih serius menjalankan program literasi keuangan kepada masyarakat. Jangan hanya fokus mengejar keuntungan dari lonjakan permintaan pinjaman,” katanya.
Ia menilai edukasi mengenai pengelolaan utang, perencanaan keuangan, serta risiko pinjaman digital perlu diperluas agar masyarakat tidak menggunakan pinjaman online secara berlebihan untuk kebutuhan konsumtif jangka pendek.
“Literasi keuangan harus menjadi prioritas industri. Masyarakat perlu memahami kapan harus berutang dan kapan harus menahan diri, terutama menjelang periode konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri,” ujarnya.
Kang Dahlan menambahkan, tanpa penguatan literasi keuangan, lonjakan pembiayaan pada musim Lebaran berpotensi meningkatkan risiko gagal bayar, yang pada akhirnya dapat merugikan baik konsumen maupun industri fintech itu sendiri. ***

