DCNews, Maumere — Di tengah maraknya pinjaman online (pinjol) dan budaya keuangan instan yang kian menjamur, Kopdit Pintu Air menegaskan bahwa model koperasi tetap relevan sebagai alternatif pembiayaan berbasis kebersamaan dan tanggung jawab kolektif.
Melalui pernyataan resminya di media sosial, dikutip SCNews, Selasa (24/2/2026), koperasi yang berbasis di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, itu menyebut kehadirannya menjadi jawaban atas persoalan literasi dan ketahanan finansial masyarakat.
“Di saat banyak yang terjebak pinjol dan gaya hidup instan, koperasi hadir dengan prinsip gotong royong, transparansi, dan kesejahteraan bersama,” tulis manajemen.
Koperasi dan Konsep Sharing Economy
Kopdit Pintu Air menilai, jauh sebelum istilah sharing economy populer, koperasi telah lebih dulu menerapkan konsep serupa melalui sistem keuangan berbasis komunitas (community-based finance).
Model sharing economy sendiri merujuk pada aktivitas ekonomi berbasis peer-to-peer (P2P), di mana individu saling berbagi akses terhadap sumber daya. Sementara itu, pembiayaan berbasis komunitas menekankan partisipasi anggota dalam menghimpun dan menyalurkan dana secara kolektif.
Menurut manajemen, koperasi bukan persoalan kuno atau modern, melainkan tentang sistem yang memungkinkan anggota bertumbuh bersama dalam ekosistem yang saling menopang.
“Yuk, mulai kenal lagi sistem koperasi dengan cara yang lebih relate dan kekinian!” tulis mereka.
Aset Tembus Rp2,58 Triliun
Sebagai salah satu koperasi kredit terbesar di Indonesia, Kopdit Pintu Air mencatatkan aset sebesar Rp2,58 triliun. Hingga awal 2026, koperasi ini memiliki 483.321 anggota yang tersebar di 78 kantor cabang dan kantor cabang pembantu (KCP) di berbagai daerah.
Manajemen mengklaim pengelolaan keuangan dilakukan secara bertanggung jawab dengan jaringan yang terus diperluas untuk menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Setiap rupiah yang disimpan adalah langkah pasti menuju impian masa depan anggota,” tulisnya.
Kopdit Pintu Air juga menyinggung tren manifesting yang populer di kalangan generasi muda. Menurut mereka, mewujudkan impian tak cukup hanya dengan afirmasi mental, tetapi perlu diiringi langkah konkret dalam pengelolaan keuangan.
“Manifesting aja nggak cukup, kalau nggak dibarengi aksi nyata!” demikian pernyataan mereka.
Di tengah penetrasi fintech dan pinjaman daring yang agresif, narasi Kopdit Pintu Air mempertegas posisi koperasi sebagai model ekonomi kolektif yang menawarkan stabilitas jangka panjang, bukan sekadar solusi instan. ***

