DCNews, Jakarta — Pergerakan pasar global pada Rabu (18/2/2026), menunjukkan dominasi sentimen penguatan dolar Amerika Serikat yang menekan harga komoditas dan mata uang utama dunia. Investor global bersikap hati-hati menjelang risalah rapat kebijakan moneter Amerika Serikat dan sejumlah data ekonomi penting, sementara pasar saham teknologi masih mampu bertahan di zona positif.
Di tengah dinamika tersebut, emas dan minyak bergerak melemah, pasangan mata uang utama tertekan, dan indeks saham teknologi AS mencatat kenaikan terbatas.
Emas Tertekan Penguatan Dolar
Harga emas (gold) terkoreksi setelah dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan tinggi. Tekanan terhadap logam mulia muncul karena berkurangnya minat investor pada aset lindung nilai (safe haven) dalam jangka pendek.
Pelaku pasar cenderung menahan posisi sambil menunggu kejelasan arah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve. Jika sinyal suku bunga tinggi bertahan lebih lama, emas berpotensi tetap berada dalam tekanan teknikal.
Minyak Melemah di Tengah Kekhawatiran Permintaan
Harga minyak mentah ikut terkoreksi seiring kombinasi penguatan dolar dan kekhawatiran perlambatan permintaan global. Pasar energi juga mencermati perkembangan geopolitik serta dinamika pasokan global.
Secara teknikal, minyak berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah selama belum ada katalis baru yang signifikan dari sisi pasokan maupun permintaan.
EUR/USD dan GBP/USD Masih Terbebani
Pasangan EUR/USD bergerak stabil namun cenderung tertekan akibat dominasi dolar AS. Ketidakpastian pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa membuat euro sulit mendapatkan momentum penguatan.
Hal serupa terjadi pada GBP/USD. Poundsterling melemah tipis karena kombinasi faktor eksternal (dolar kuat) dan kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi Inggris.
USD/JPY Bertahan Stabil
USD/JPY bergerak relatif stabil dengan kecenderungan sideways. Yen sempat menguat terbatas, namun secara keseluruhan dolar masih mempertahankan posisi dominan. Pelaku pasar menunggu sinyal lanjutan dari kebijakan moneter Jepang dan Amerika Serikat sebelum mengambil posisi agresif.
Nasdaq Menguat Tipis
Indeks saham teknologi AS, Nasdaq Composite, ditutup menguat tipis pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan aksi beli selektif di sektor teknologi, meski volatilitas tetap tinggi.
Sentimen pasar saham masih terjaga oleh ekspektasi pertumbuhan sektor teknologi dan kecerdasan buatan, namun investor tetap waspada terhadap potensi koreksi jika imbal hasil obligasi kembali naik tajam.
Kesimpulan Analisis Pasar
Secara keseluruhan, pasar global pada 18 Februari 2026 bergerak dalam pola hati-hati dengan kecenderungan defensif. Dolar AS menjadi aset dominan, menekan harga emas dan minyak serta membatasi penguatan mata uang utama lainnya.
Dalam jangka pendek, arah pasar sangat bergantung pada:
- Sinyal kebijakan suku bunga dari Federal Reserve
- Data inflasi dan ketenagakerjaan AS
- Perkembangan geopolitik global
Jika dolar terus menguat, tekanan terhadap komoditas dan mata uang non-dolar berpotensi berlanjut. Namun, bila muncul sinyal pelonggaran moneter atau pelemahan data ekonomi AS, pasar bisa mengalami pembalikan arah secara cepat.
Investor disarankan menjaga manajemen risiko dan mencermati level teknikal kunci sebelum mengambil keputusan transaksi di tengah volatilitas yang masih tinggi. ***

