DCNews, Jakarta — Harga emas batangan yang dipasarkan melalui Pegadaian tercatat melemah pada perdagangan Rabu pagi, 18 Februari 2026. Berdasarkan pembaruan pukul 07.06 WIB di laman resmi Sahabat Pegadaian, emas merek UBS dipatok Rp2.958.000 per gram, sementara Galeri24 berada di level Rp2.943.000 per gram.
Angka tersebut turun dibandingkan harga sehari sebelumnya. Pada Selasa pagi, emas UBS dibanderol Rp2.988.000 per gram dan Galeri24 Rp2.971.000 per gram. Penurunan ini mencerminkan koreksi tipis harga logam mulia di pasar domestik.
Pegadaian menyatakan harga jual emas UBS dan Galeri24 dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar global dan nilai tukar rupiah.
Produk Galeri24 tersedia dalam pilihan kuantitas mulai 0,5 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram). Sementara itu, emas UBS dijual dengan varian berat mulai 0,5 gram hingga 500 gram.
Adapun harga emas Antam di laman resmi Logam Mulia diperbarui setelah pukul 08.30 WIB.
Daftar Harga Emas Galeri24
- 0,5 gram: Rp1.544.000
- 1 gram: Rp2.943.000
- 2 gram: Rp5.815.000
- 5 gram: Rp14.432.000
- 10 gram: Rp28.788.000
- 25 gram: Rp71.580.000
- 50 gram: Rp143.048.000
- 100 gram: Rp285.955.000
- 250 gram: Rp713.131.000
- 500 gram: Rp1.426.260.000
- 1.000 gram: Rp2.852.520.000
Daftar Harga Emas UBS
- 0,5 gram: Rp1.598.000
- 1 gram: Rp2.958.000
- 2 gram: Rp5.869.000
- 5 gram: Rp14.502.000
- 10 gram: Rp28.852.000
- 25 gram: Rp71.988.000
- 50 gram: Rp143.680.000
- 100 gram: Rp287.246.000
- 250 gram: Rp717.903.000
- 500 gram: Rp1.434.122.000
Analisis Pasar: Indikasi Tekanan Jangka Pendek
Koreksi harga emas domestik hari ini mengindikasikan adanya tekanan jangka pendek, kemungkinan dipengaruhi oleh pergerakan harga emas global dan penguatan dolar AS. Meski turun, level harga masih bertahan di kisaran tinggi historis, menunjukkan minat lindung nilai (safe haven) tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Bagi investor ritel, penurunan ini bisa menjadi momentum akumulasi bertahap, terutama untuk jangka menengah hingga panjang. Namun, volatilitas tetap perlu diantisipasi, mengingat sentimen global—mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral utama hingga tensi geopolitik—masih berpotensi memicu fluktuasi harga dalam waktu singkat. ***

