Bahaya Pinjol dan Jeratan Riba, Ustaz Mustamin Fattah Ingatkan Masyarakat Soal Gaya Hidup Konsumtif

Date:

DCNews, Samarinda — Fenomena pinjaman online (pinjol) kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya kasus gagal bayar dan tekanan psikologis yang dialami peminjam. Dalam tausiyahnya di Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Samarinda, Ustaz Mustamin Fattah mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur kemudahan syarat dan pencairan cepat yang ditawarkan aplikasi pinjaman digital.

Berbicara pada siaran yang dikutip Rabu (11/2/2026), Mustamin menilai promosi pinjol kerap menampilkan solusi instan atas persoalan keuangan, namun menyimpan konsekuensi berat di belakangnya.

“Sering kali, iklan yang terlihat sangat membantu justru menjadi awal dari penderitaan batin yang berkepanjangan akibat jeratan bunga yang tidak masuk akal,” ujarnya.

Menurut Mustamin, praktik sejumlah pinjol mengandung unsur gharar (ketidakjelasan) dan riba yang nyata. Ia menyoroti keberadaan biaya tersembunyi, penalti progresif, serta pola penagihan yang dinilai intimidatif, termasuk menghubungi kontak pribadi peminjam. Risiko tersebut, kata dia, bukan hanya berdampak pada kondisi finansial, tetapi juga menyentuh aspek kehormatan dan kesehatan mental seseorang.

“Hati-hati, masyarakat jangan mudah terpengaruh oleh iklan-iklan seperti itu. Nyatanya ternyata menyakitkan,” katanya.

Lebih jauh, Mustamin melihat persoalan utang di era digital bukan semata karena kebutuhan mendesak, melainkan kerap dipicu ketidakmampuan membedakan antara kebutuhan dasar dan keinginan gaya hidup. Ia menilai sebagian masyarakat terjebak utang bukan karena kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, tetapi karena dorongan mengikuti tren—mulai dari gawai terbaru hingga kendaraan di luar kapasitas finansial.

Gaya hidup konsumtif dan dorongan untuk terlihat mapan di ruang sosial, menurut dia, menjadi pintu masuk utama jeratan pinjol. “Yang sering membuat seseorang terjerat di dalam sistem ini karena gaya hidup,” ujar Mustamin.

Dalam perspektif ajaran Islam, lanjutnya, utang diperbolehkan dalam kondisi darurat dan untuk memenuhi kebutuhan mendasar, bukan demi gengsi atau pencitraan. Memaksakan diri membeli barang bermerek melalui skema cicilan berbunga tinggi justru berpotensi merusak martabat ketika tagihan menumpuk dan penagihan menjadi agresif.

Ia mengajak masyarakat untuk mengedepankan prinsip hidup sederhana dan pengelolaan keuangan yang bijak. Menurutnya, ketenangan batin dan stabilitas keluarga jauh lebih berharga dibanding citra kemewahan yang dibangun dari utang konsumtif.

Di tengah maraknya penetrasi layanan keuangan digital, peringatan tersebut menjadi refleksi bahwa literasi finansial dan kontrol gaya hidup tetap menjadi benteng utama agar masyarakat tidak terperosok dalam lingkaran utang berbunga tinggi yang berujung pada tekanan sosial dan psikologis. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Kang Dahlan Sebut Program Literasi Keuangan OJK Penting untuk Stabilitas Ekonomi Masa Depan

DCNews, Jakarta — Di tengah meningkatnya kompleksitas ekonomi digital...

OJK: Literasi Keuangan Harus Masuk Kurikulum Demi Masa Depan Finansial Anak Muda

DCNews, Jakarta — Di tengah derasnya arus informasi finansial...

Standar Kinerja Tinggi ala Prabowo: Fahri Hamzah Ungkap Tekanan Hasil Nyata di Dalam Kabinet

DCNews, Jakarta — Di balik ritme kerja pemerintahan yang...

Market Brief 18 April 2026: Emas Stabil, Minyak Menguat, Nasdaq Cetak Rekor Baru Berturut-turut

DCNews, Jakarta – Pasar keuangan global pada Sabtu ini...