DCNews, Jakarta — Tangis seorang perempuan pecah di pinggir Jalan Kartini, Depok, Kamis sore, setelah sepeda motor miliknya dirampas secara paksa oleh sekelompok mata elang atau debt collector. Peristiwa yang terekam kamera warga itu kembali menyorot praktik penagihan utang yang kerap berujung intimidasi dan kekerasan di ruang publik.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, salah satunya diunggah akun Instagram @jabodetabek24info, korban tampak menangis histeris di hadapan seorang anggota polisi. Perempuan berkerudung itu memohon agar aparat mengantarnya ke kantor perusahaan pembiayaan tempat motornya diduga dibawa setelah ditarik paksa.
Seorang anggota Perintis Presisi Polres Metro Depok terlihat berada tak jauh dari lokasi kejadian, berupaya menenangkan korban yang masih syok atas peristiwa tersebut.
Kasi Humas Polres Metro Depok, AKP Made Budi, membenarkan adanya laporan penarikan paksa kendaraan itu. Menurut dia, kepolisian menerima laporan masyarakat melalui layanan darurat 110 sekitar pukul 15.00 WIB.
“Laporan menyebutkan adanya aksi penarikan sepeda motor secara paksa oleh pihak yang diduga mata elang terhadap seorang wanita,” kata Made Budi saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, meskipun tunggakan kredit kendaraan tersebut akhirnya dibayarkan oleh pihak terkait, sepeda motor korban belum juga dikembalikan hingga laporan dibuat. Polisi kini menindaklanjuti kasus tersebut dengan meminta klarifikasi dari pihak leasing serta menelusuri identitas para penarik kendaraan di lapangan.
Kasus ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat terhadap praktik penagihan utang oleh debt collector yang kerap melanggar hukum. Sesuai aturan, penarikan kendaraan bermotor hanya dapat dilakukan oleh petugas bersertifikat dan wajib disertai dokumen resmi, termasuk salinan putusan pengadilan untuk jaminan fidusia.
Kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melapor jika mengalami intimidasi atau perampasan kendaraan di jalan, serta meminta perusahaan pembiayaan bertanggung jawab atas tindakan para penagih yang bekerja atas nama mereka. ***

