Pinjol Dorong Industri dan Koperasi Desa, Studi Celios Ungkap Efek Domino ke Agen Bank

Date:

DCNews, Jakarta — Penyaluran pinjaman online (pinjol) atau pinjaman daring (pindar) terbukti tidak hanya menjadi sumber pendanaan alternatif bagi masyarakat desa, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan industri, koperasi, hingga jaringan perbankan di perdesaan. Temuan ini sekaligus mematahkan anggapan lama bahwa kehadiran pinjol justru menggerus lembaga keuangan lokal.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyatakan, berdasarkan data Statistik Potensi Desa (Podes) Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat korelasi positif antara meningkatnya penyaluran pinjaman daring dengan bertambahnya jumlah industri di desa.

“Artinya sederhana: ketika penyaluran pindar meningkat, jumlah industri di desa juga ikut bertambah,” kata Huda dalam acara Media Gathering Amartha di Jakarta, dikutip Minggu (25/1/2026).

Menurut Huda, fenomena ini tidak lepas dari masih lebarnya kesenjangan antara kebutuhan pembiayaan masyarakat desa dan kemampuan penyaluran kredit oleh perbankan formal. Keterbatasan tersebut membuat pinjol dan sumber pendanaan alternatif lain menjadi pilihan, terutama karena prosesnya yang lebih fleksibel dan cepat.

Tak hanya mendorong tumbuhnya industri kecil dan menengah, kehadiran layanan pindar di desa juga berkorelasi dengan peningkatan jumlah koperasi simpan pinjam (KSP). Temuan ini, kata Huda, menepis kekhawatiran bahwa pinjol akan mematikan peran koperasi desa.

“Bukan menekan, justru penyaluran pindar ikut menumbuhkan koperasi simpan pinjam di desa-desa,” ujarnya.

Menariknya, data juga menunjukkan bahwa bertambahnya layanan pindar di perdesaan diikuti dengan peningkatan jumlah agen bank. Sekilas, kondisi ini tampak kontradiktif, mengingat pinjol kerap diposisikan sebagai alternatif ketika bank tidak mampu memenuhi kebutuhan kredit masyarakat.

Namun Huda menjelaskan, meningkatnya akses pinjaman justru mendorong kebutuhan transaksi pembayaran, seperti cicilan dan angsuran, yang banyak dilakukan melalui agen bank. Dampaknya, jaringan agen perbankan ikut berkembang di wilayah desa.

Dengan pola tersebut, industri pindar kini tidak lagi berdiri sebagai pesaing bank, melainkan mulai berperan sebagai mitra bisnis. “Dulu ada anggapan bank dan pindar saling bermusuhan. Data justru menunjukkan sebaliknya,” kata Huda.

Secara keseluruhan, kehadiran pindar yang bersinggungan dengan koperasi dan perbankan dinilai mampu menciptakan efek berantai terhadap perekonomian desa. Bertambahnya industri di perdesaan pada akhirnya mendorong aktivitas ekonomi lokal dan membuka lebih banyak peluang usaha.

Meski demikian, Huda mengingatkan bahwa industri pindar masih menghadapi tantangan serius, terutama terkait kualitas pinjaman. Kredit macet, khususnya dari badan usaha, disebut memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pinjaman perorangan.

“Kualitas penyaluran harus dijaga. Kalau ini dikelola dengan baik, penyaluran ke sektor produktif bisa jauh lebih besar dibandingkan sektor konsumtif,” ujarnya.

Untuk mencapai hal tersebut, Huda menekankan pentingnya kolaborasi antara penyedia layanan pindar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta media massa dalam memastikan literasi, pengawasan, dan praktik penyaluran pinjaman yang sehat—agar peran pinjol benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi desa, bukan sumber masalah baru. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Modus Baru Debt Collector: Pesan Ambulans Fiktif untuk Tagih Utang, Sopir di Jakarta Jadi Korban

DCNews, Jakarta — Panggilan darurat yang seharusnya menyelamatkan nyawa justru...

Kasus Kekerasan Seksual Mahasiswa FH UI, Habiburokhman: Jangan Berhenti di Forum Kampus

DCNews, Jakarta — Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman...

Kenaikan Tiket Pesawat Diusulkan 9–13 Persen, DPR Minta Pemerintah Lindungi Masyarakat Kepulauan

DCNews, Jakarta — Rencana kenaikan tarif tiket pesawat domestik...

Bahaya Pinjol dan Judi Online bagi Gen Z, Literasi Finansial Jadi Kunci

Oleh: Asep Dahlan (Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant) Di...