DCNews, Moskow — Pemerintah Rusia bergerak semakin dekat menuju pemblokiran penuh WhatsApp setelah berbulan-bulan membatasi layanan pesan populer tersebut, dalam langkah terbaru memperkuat kedaulatan digital dan mengurangi ketergantungan pada platform teknologi Barat.
Badan pengawas komunikasi Rusia, Roskomnadzor, mengonfirmasi telah memberlakukan pembatasan bertahap terhadap aplikasi milik Meta Platforms itu. Menurut laporan Interfax dan TASS, regulator menuduh WhatsApp digunakan untuk mengorganisir serangan teroris serta merekrut pelaku, sebuah pelanggaran yang disebut bertentangan dengan hukum Rusia.
Panggilan suara WhatsApp sudah diblokir sejak Agustus, sementara pesan teks masih berfungsi. Laporan menyebut operator seluler juga diperintahkan untuk menghentikan pengiriman kode SMS bagi pengguna yang ingin masuk atau keluar dari aplikasi. Sebagai antisipasi, WhatsApp memperkenalkan opsi login menggunakan passkey untuk pengguna di Rusia.
Roskomnadzor menegaskan pada Jumat lalu bahwa pembatasan akan terus diperketat dan pemblokiran penuh menjadi opsi berikutnya apabila WhatsApp tidak mematuhi regulasi domestik.
Sejak invasi ke Ukraina pada 2022, Rusia meningkatkan kontrol atas ruang digitalnya. Platform Barat seperti Facebook, Instagram, dan X sudah diblokir, sementara YouTube mulai menghadapi gangguan akses. Popularitas TikTok juga melemah setelah pembatasan terhadap konten internasional menyusul revisi aturan media Rusia.
Dalam upaya memperkuat ekosistem digital nasional, Presiden Vladimir Putin pada Juni lalu menandatangani undang-undang pembentukan “super app” Max, sebuah platform terpadu untuk layanan pemerintah, penyimpanan dokumen, pesan, perbankan, hingga layanan publik dan komersial. Aplikasi yang dikembangkan perusahaan milik negara, VK Co., itu digadang-gadang sebagai versi Rusia dari WeChat China. ***

