Jepang Siapkan Paket Stimulus Raksasa Rp1.876 Triliun, Takaichi Dorong Belanja Fiskal di Tengah Ekonomi Melemah

Date:

DCNews, Tokyo — Pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru dalam skala besar, menandai dorongan fiskal paling agresif Jepang dalam setahun terakhir. Paket yang didanai melalui anggaran tambahan ini tercatat sekitar 27 persen lebih besar dibandingkan program belanja yang dirilis pemerintahan sebelumnya, sebuah sinyal bahwa Tokyo memilih ekspansi fiskal di tengah tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi.

Menurut dokumen internal yang dilihat Bloomberg pada Kamis (20/11/2025) waktu setempat, paket tersebut akan mencakup ¥17,7 triliun —setara Rp1.876 triliun— pengeluaran dari general account, jauh melampaui ¥13,9 triliun yang digelontorkan mantan Perdana Menteri Shigeru Ishiba tahun lalu. Besarnya alokasi ini diperkirakan mendorong pemerintah menerbitkan obligasi tambahan dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan 2024.

Total nilai paket, termasuk pos anggaran yang sebelumnya sudah dialokasikan, mencapai ¥21,3 triliun. Jika digabungkan dengan belanja sektor swasta, dampak ekonomi keseluruhan diperkirakan membengkak hingga ¥42,8 triliun, menunjukkan ruang lingkup stimulus yang sangat besar di tengah berbagai tekanan domestik dan global.

Kementerian Keuangan Jepang menolak memberikan komentar atas bocoran dokumen tersebut.

Langkah agresif ini muncul setelah data resmi menunjukkan produk domestik bruto (PDB) riil Jepang menyusut 1,8 persen secara tahunan dalam tiga bulan hingga September –kontraksi pertama dalam enam kuartal. Penurunan ini memberi justifikasi politik bagi Takaichi untuk menggelontorkan belanja tambahan guna menopang ekonomi.

Namun, strategi fiskal ekspansif tersebut membawa konsekuensi pada beban utang Jepang yang sudah menjadi yang terbesar di antara negara maju. Tambahan penerbitan obligasi diperkirakan membuat total utang pemerintah yang tahun ini setara 230 persen dari PDB, menurut IMF, semakin menanjak.

Pasar keuangan merespons cepat. Imbal hasil obligasi tenor 5 dan 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2008 pada Kamis pagi. Di saat yang sama, yen melemah menembus 157 per dolar, posisi terlemah sejak Januari, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap tekanan fiskal dan arah kebijakan suku bunga.

Dengan Bank of Japan yang telah tiga kali menaikkan suku bunga sejak Maret 2024, biaya pembayaran utang pemerintah bakal meningkat. Di tengah tekanan inflasi, pelemahan mata uang, serta ancaman keamanan kawasan, paket stimulus ini menjadi ujian awal bagi kepemimpinan Takaichi dalam menstabilkan ekonomi Jepang yang bergerak di atas tanah rapuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Charles Meikyansah Ingatkan UMKM Jember Hindari Pinjol

DCNews, Jember — Anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikyansah...

Ketua Komisi I DPRA Desak Polisi Usut Dugaan Penganiayaan Perempuan oleh Debt Collector di Aceh Utara

DCNews, Banda Aceh — Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat...

OJK Ungkap Perkembangan Kasus DSI, Ribuan Lender Ajukan Restitusi untuk Pengembalian Dana

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan proses...

APJII: Pengguna Pinjol Didominasi Milenial, Kebutuhan Mendesak Jadi Alasan Utama Masyarakat Berutang Secara Digital

DCNews, Jakarta — Ketergantungan masyarakat terhadap layanan pinjaman online (pinjol)...