DCNews, Jakarta — Nilai tukar rupiah sempat melemah di awal perdagangan Kamis (9/10/2025), namun dengan cepat berbalik arah ke zona hijau seiring tekanan yang melanda dolar Amerika Serikat (AS) setelah muncul sinyal baru dari Federal Reserve terkait kebijakan suku bunga.
Pada pembukaan pasar spot, rupiah dibuka di posisi Rp16.571 per dolar AS, melemah 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Namun hanya berselang beberapa menit, tepat pukul 09.07 WIB, rupiah berbalik menguat 0,06 persen ke level Rp16.550 per dolar AS.
Kinerja rupiah mengikuti tren positif di kawasan Asia. Yuan China memimpin penguatan dengan apresiasi 0,17 persen, diikuti peso Filipina (0,15 persen), dolar Taiwan (0,1 persen), dan yen Jepang (0,08 persen).
Pergerakan mata uang Asia hari ini didorong oleh pelemahan dolar AS. Indeks Dolar — yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia — turun 0,08 persen ke level 98,756 pada pukul 09.12 WIB.
Investor global tengah menelaah hasil notula rapat (minutes of meeting) Federal Reserve edisi September. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Gubernur The Fed Jerome “Jay” Powell dan jajaran pembuat kebijakan sepakat untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), serta membuka ruang untuk pelonggaran moneter lanjutan hingga akhir tahun ini.
“Sebagian besar peserta rapat menilai sudah layak (appropriate) untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut pada sisa tahun ini,” demikian bunyi notula rapat tersebut.
Berdasarkan dot plot terbaru The Fed, pasar memperkirakan ada kemungkinan dua kali lagi pemangkasan suku bunga, masing-masing 25 bps, hingga akhir tahun. Menurut data CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 bps pada bulan ini menjadi 3,75–4 persen mencapai 94,1 persen.
Ekspektasi penurunan suku bunga membuat aset berbasis dolar AS — terutama instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi — menjadi kurang menarik. Akibatnya, dolar AS mengalami tekanan jual, memberi ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk menguat. ***

