DCNews, Jakarta — Harga minyak global melemah untuk sesi kedua berturut-turut seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan dan kemungkinan berakhirnya konflik di Gaza yang berpotensi memangkas premi risiko geopolitik dari harga energi.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh ke level US$63 per barel setelah merosot 3,5% pada perdagangan Senin, penurunan harian terbesar sejak akhir Juni. Sementara itu, minyak Brent ditutup mendekati US$68 per barel.
Pelemahan harga terjadi menjelang pertemuan aliansi OPEC+ pada Minggu mendatang. Blok produsen minyak terbesar dunia itu diperkirakan akan menyepakati kenaikan produksi pada November, meski dengan skala moderat, serupa dengan kebijakan pada Oktober.
Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Israel telah menyepakati kerangka kerja 20 poin untuk mengakhiri perang di Gaza. Namun prospek perdamaian masih belum jelas karena kesepakatan tersebut belum melibatkan langsung kelompok Hamas.
Presiden Donald Trump dalam konferensi pers Senin mengklaim bahwa sejumlah pemimpin Timur Tengah mendukung rencana tersebut.
Harga minyak juga turun dari level tertinggi pekan lalu setelah investor menutup posisi long menjelang akhir pekan, di tengah meningkatnya ancaman serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia. Para analis memperkirakan harga minyak berjangka akan mencatatkan penurunan bulanan secara moderat.
Harga terbaru:
- WTI pengiriman November turun 0,5% menjadi US$63,13 per barel pada perdagangan Selasa pagi di Singapura.
- Brent pengiriman November ditutup 3,1% lebih rendah menjadi US$67,97 per barel pada Senin. ***

