DCNews, Jakarta — Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) anjlok Rp 24.000 per gram pada Jumat (15/8/2025), seiring tekanan dari lonjakan inflasi produsen Amerika Serikat yang mencatat rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Koreksi ini menjadi sinyal bahwa pasar emas global tengah berhadapan dengan ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama.
Harga emas Antam hari ini dibanderol Rp 1.909.000/gram, turun Rp 24.000 dari posisi kemarin. Harga pembelian kembali (buyback) juga terkoreksi di level Rp 1.755.000/gram, melemah dalam jumlah yang sama.
Di pasar global, harga emas spot ditutup di US$ 3.332,8 per troy ons, turun 0,7% usai reli dua hari berturut-turut yang hanya mampu mengangkat harga sebesar 0,43%. Tekanan datang dari rilis data inflasi produsen AS pada Juli yang mengejutkan pasar.
Tabel daftar harga emas Logam Mulia Antam selengkapnya untuk hari ini:

Menurut US Bureau of Labor Statistics, inflasi tingkat produsen naik 0,9% secara bulanan (mtm), jauh melampaui ekspektasi 0,2% dan menjadi yang tertinggi sejak Juni 2022. Secara tahunan, inflasi produsen mencapai 3,3% (yoy), juga melampaui prediksi 2,5%.
Inflasi inti di tingkat produsen pun melonjak 0,9% mtm dan 3,7% yoy, masing-masing di atas perkiraan 0,2% dan 2,9%. Lonjakan ini memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menunda atau memperlambat pemangkasan suku bunga acuannya.
Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas penurunan suku bunga 25 basis poin menjadi 4–4,25% kini berada di 92,1%, turun dari 94,3% sehari sebelumnya. Sementara peluang suku bunga bertahan di 4,25–4,5% naik menjadi 7,9% dari sebelumnya 0%.
Bagi emas—sebagai aset tanpa imbal hasil—kondisi suku bunga tinggi menjadi hambatan serius. Investor cenderung memilih instrumen yang menawarkan yield ketika biaya memegang emas semakin mahal.
Analisis Singkat
Koreksi harga emas Antam mencerminkan betapa sensitifnya pasar logam mulia terhadap dinamika moneter AS. Jika inflasi produsen terus menanjak, ruang bagi penurunan suku bunga akan semakin sempit, yang berarti harga emas berpotensi tertahan dalam jangka menengah. ***

