DCNews, Surabaya – Layanan pinjaman online (pinjol) kian diminati masyarakat Indonesia berkat kemudahan akses, tanpa jaminan, dan tanpa batasan nominal pinjaman. Namun di balik kemudahan tersebut, tersembunyi risiko psikologis yang mengintai para peminjam yang gagal melunasi utangnya.
Menurut Atika Dian Ariana, dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair), pada Senin (21/4/2025) korban pinjol kerap mengalami tekanan mental serius, mulai dari stres berat, rasa terus-menerus dikejar, hingga gejala depresi.
Kalau tidak mendapatkan penanganan yang tepat, kata Atika, korban bisa jatuh pada kondisi depresi. Belum lagi, stigma sosial yang juga memperparah keadaan.
“Banyak korban dipandang negatif oleh lingkungan sekitar, terutama jika tidak memiliki penghasilan tetap. Pandangan masyarakat bisa sangat menyakitkan, seperti ‘nggak tahu diri, nggak punya penghasilan kok berani pinjol’,” tambah Atika.
Proses pemulihan mental, menurut Atika, tidak hanya tentang mengurangi beban utang, melainkan juga membentuk pola pikir baru yang lebih bertanggung jawab dan realistis.
“Yang bisa kita bantu adalah pemulihan secara mental agar korban tidak kecanduan pinjol dan bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab,” ujarnya seraya menambahkan tidak hanya kondisi individu, lingkungan juga menjadi faktor risiko signifikan.
“Kritik terhadap gaya hidup, pakaian, dan tekanan untuk tampil sesuai standar sosial sering kali menjadi pemicu utama seseorang terjebak pinjol,” tambah Atika lagi.
FOMO dan Promosi Tersubung
Fenomena fear of missing out (FOMO) dan promosi terselubung melalui komentar influencer turut mendorong tren pinjol di kalangan pengguna media sosial, terutama perempuan.
“Mereka lebih banyak waktu menggulir komentar. Melihat promosi pinjol berulang kali bisa membuat mereka tergoda untuk mencoba,” kata Atika.
Ia mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi jauh lebih penting daripada sekadar mengejar tren. Salah satunya, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, baik offline maupun online, dan beri reward pribadi kalau memang layak — tanpa memaksakan diri. ***

