Eskalasi Konflik Israel-Iran Ancam Pasokan Minyak Global, Harga Energi Berpotensi Tembus US$100 per Barel

Date:

DCNews, Jakarta — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah operasi militer Israel terhadap target-target strategis di Iran memicu kekhawatiran baru atas stabilitas pasokan energi dunia. Konflik yang kini menyeret Amerika Serikat, Israel, dan Iran itu dinilai berpotensi mengguncang pasar minyak global dan mendorong harga energi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Israel sebelumnya mengonfirmasi pelaksanaan operasi militer berskala besar dengan sandi “Rising Lion”. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan operasi tersebut bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Target yang disebutkan mencakup ilmuwan nuklir, fasilitas pengayaan uranium di Natanz, serta infrastruktur program rudal balistik.

Pejabat militer Israel mengklaim Iran memiliki cukup material nuklir untuk memproduksi hingga 15 bom dalam waktu singkat—klaim yang belum diverifikasi secara independen. Di Teheran, pejabat senior dilaporkan menggelar rapat keamanan tingkat tinggi, sementara suasana di sejumlah kota besar diliputi ketegangan.

Iran dan Peran Strategis dalam Energi Global

Terlepas dari tekanan sanksi Amerika Serikat selama bertahun-tahun, Iran tetap menjadi aktor penting dalam pasar energi internasional. Negara tersebut memiliki cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia.

Menurut data Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), produksi minyak mentah Iran saat ini berkisar 3,1 juta barel per hari. Angka itu memang lebih rendah dibandingkan puncak produksi era 1970-an yang mencapai sekitar enam juta barel per hari, namun tetap signifikan dalam struktur pasokan global.

Salah satu faktor kunci daya saing Iran adalah biaya produksi yang relatif rendah, diperkirakan sekitar US$10 per barel. Sebagai perbandingan, produsen di Amerika Utara menghadapi biaya produksi yang bisa mencapai US$40 hingga US$60 per barel. Struktur biaya ini memberi Iran ruang keuntungan besar saat harga minyak melonjak.

Selat Hormuz: Titik Rawan Pasar Energi

Kekhawatiran terbesar pasar saat ini terpusat pada potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menjadi arteri utama ekspor minyak dari kawasan Teluk ke pasar global.

Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari—hampir 20 persen konsumsi global—melewati selat tersebut pada 2024. Dengan lebar hanya sekitar 50 kilometer dan kedalaman terbatas, jalur ini sangat rentan terhadap gangguan militer maupun ancaman keamanan nonkonvensional.

Bahkan spekulasi mengenai risiko keamanan di Selat Hormuz sudah cukup untuk mendorong kenaikan premi asuransi kapal tanker dan meningkatkan biaya logistik. Efek berantai ini dapat langsung tercermin pada harga minyak mentah internasional.

Alternatif distribusi relatif terbatas. Hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jaringan pipa alternatif untuk menghindari Selat Hormuz, dengan kapasitas gabungan sekitar 2,6 juta barel per hari—jauh di bawah volume normal yang melintasi jalur tersebut.

Tekanan Inflasi dan Risiko Ekonomi Global

Eskalasi konflik juga meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi dan sipil di negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat. Fasilitas produksi hidrokarbon, pembangkit listrik, hingga instalasi desalinasi air laut termasuk di antara aset yang dinilai rentan.

Di tengah tekanan sanksi, ekspor minyak Iran saat ini diperkirakan berada di kisaran 1,3 hingga 1,5 juta barel per hari, dengan lebih dari 80 persen volume dikirim ke China. Gangguan tambahan pada ekspor tersebut dapat memperketat pasar global yang sudah sensitif terhadap isu geopolitik.

Bagi perekonomian dunia, risiko utamanya adalah lonjakan harga minyak kembali menembus US$100 per barel—level yang terakhir terlihat pada awal 2022. Kenaikan tajam harga energi berpotensi memicu gelombang inflasi baru, mempersempit ruang kebijakan bank sentral, dan menekan daya beli rumah tangga di berbagai negara.

Dalam jangka pendek, pasar akan mencermati dua faktor utama: respons militer lanjutan dari Iran serta sikap Washington terhadap potensi eskalasi lebih luas. Selama ketidakpastian bertahan, volatilitas harga energi diperkirakan tetap tinggi—dan bayang-bayang inflasi global kembali menghantui pemulihan ekonomi dunia. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Senator Graal Dorong “Politik Gagasan” untuk Atasi Krisis Demokrasi di Indonesia

DCNews, Ternate — Di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kualitas demokrasi...

KPPU Denda 97 Fintech Rp 755 Miliar, Amartha Ajukan Banding Sengketa Suku Bunga Pinjol

DCNews, Jakarta — Sengketa besar mengguncang industri pinjaman online Indonesia...

Modus Baru Debt Collector: Pesan Ambulans Fiktif untuk Tagih Utang, Sopir di Jakarta Jadi Korban

DCNews, Jakarta — Panggilan darurat yang seharusnya menyelamatkan nyawa justru...

Kasus Kekerasan Seksual Mahasiswa FH UI, Habiburokhman: Jangan Berhenti di Forum Kampus

DCNews, Jakarta — Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman...