AS Serang Fasilitas Nuklir Iran: Ketegangan Timur Tengah Memuncak

Date:

DCNews, Washington DC — Amerika Serikat melancarkan tiga serangan presisi terhadap fasilitas nuklir Iran dalam sebuah langkah militer dramatis yang berisiko memicu konflik berskala regional. Presiden Donald Trump, menurut sumber di internal Gedung Putih, memberikan persetujuan langsung atas operasi ini, hanya beberapa hari setelah Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran.

Pejabat senior, sebagaimana dikutip DCNews, Minggu (22/6/2025) menyebut Trump telah menghubungi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sesaat setelah serangan dilakukan. Sumber lain mengungkapkan bahwa Israel telah lebih dahulu diberi tahu sebelum serangan berlangsung—menandakan tingkat koordinasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya antara kedua sekutu tersebut.

Langkah ini menandai keputusan kebijakan luar negeri paling ekstrem sepanjang dua masa jabatan Trump. Serangan AS itu juga dilakukan meski bertentangan dengan saran sejumlah sekutu Eropa dan peringatan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang melarang serangan terhadap fasilitas nuklir sipil karena risiko kebocoran radiasi.

“Saya berharap Iran menahan diri. Tapi serangan ini jelas bisa dilihat sebagai tindakan perang oleh AS terhadap negara yang tidak menyerang kita,” ujar Barbara Slavin, analis senior di Stimson Center. “Warga Amerika kini berada dalam bahaya nyata.”

Eskalasi Berbahaya di Jantung Timur Tengah

Iran sebelumnya menegaskan bahwa mereka tidak berniat membangun bom nuklir. Bahkan laporan intelijen AS menilai Teheran belum mengambil keputusan untuk mengembangkan senjata semacam itu. Namun Trump menepis analisis tersebut dan menyatakan tidak menutup kemungkinan terlibat langsung dalam operasi Israel.

Militer Iran merespons dengan menyebut serangan itu sebagai bentuk agresi terang-terangan. Otoritas di Isfahan melaporkan adanya beberapa ledakan simultan di sekitar fasilitas nuklir Natanz dan Isfahan pada Minggu dini hari.

Ketegangan yang sempat mereda pada pertengahan pekan—setelah pejabat Gedung Putih mengatakan keputusan akhir baru akan diambil dua pekan mendatang—kembali meningkat. Pertemuan darurat antara Menlu Prancis, Jerman, dan Inggris dengan perwakilan Iran di Jenewa pun gagal menurunkan suhu konflik.

Amerika Evakuasi Warganya dari Israel

Sabtu pagi, Departemen Luar Negeri AS memulai evakuasi warga negaranya dari Israel. Dua penerbangan khusus dari Tel Aviv menuju Athena telah mengangkut sekitar 70 warga AS, anggota keluarga, dan pemegang izin tinggal tetap.

Iran dan kelompok proksinya, termasuk Houthi di Yaman, telah mengancam akan membalas keterlibatan militer AS. Analis juga memperingatkan potensi serangan siber sebagai bentuk balasan non-konvensional terhadap kepentingan AS dan Israel.

Ketegangan Minyak: Ancaman Terhadap Selat Hormuz

Ketidakpastian meningkat di pasar energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi. Jika jalur ini terganggu, dampaknya dapat dirasakan secara global.

“Serangan skala besar, seperti ranjau laut atau sabotase di Selat Hormuz, bisa menimbulkan lonjakan harga energi global,” ujar analis energi independen dari London.

Sebelumnya, kelompok Houthi telah beberapa kali menyerang kapal dagang di Laut Merah, memaksa perubahan rute pelayaran menuju Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Perbedaan Pandangan di Internal AS

Trump menghadapi tekanan dari dua kutub di dalam negeri. Para loyalis seperti Steve Bannon menentang keterlibatan langsung AS dan menyebut ini “bukan perang kita.” Sebaliknya, sejumlah senator Republik mendesak tindakan militer demi memperkuat posisi AS di kawasan.

Senator Jim Risch, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menyebut operasi itu sebagai “serangan terbatas dan berhasil.” Ia menekankan bahwa tidak akan ada pengerahan pasukan darat ke Iran.

Trump sendiri telah memberi pengarahan kepada pimpinan mayoritas Senat dan DPR, serta menyatakan bahwa operasi ini bukan awal dari “perang tanpa akhir.”

Bayang-Bayang Perang Regional

Sejak serangan Israel pada 13 Juni lalu yang menewaskan sejumlah jenderal dan ilmuwan nuklir Iran, konflik terus meluas. Iran membalas dengan rudal dan drone yang berhasil menjebol sistem pertahanan Israel dan menghantam beberapa kota besar.

Namun volume serangan balasan Iran menurun drastis setelah beberapa hari, memunculkan dugaan tentang terbatasnya kapasitas arsenal Teheran.

“Iran dihadapkan pada dilema besar. Mereka tak ingin terlihat menyerah, tapi juga ingin menghindari perang besar,” kata Dennis Ross, mantan penasihat Timur Tengah Presiden Bill Clinton.

Kini, dunia menanti apakah Teheran akan merespons lebih jauh atau memilih menahan diri demi mencegah perang kawasan yang lebih luas. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Konflik Iran–Israel Memanas, Partai Gelora: Indonesia Harus Belajar dari Dinamika Geopolitik Timur Tengah

DCNews, Jakarta — Memanasnya konflik yang melibatkan Iran, Israel,...

OJK Targetkan Persetujuan Aturan Free Float 15 Persen Rampung Maret 2026

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan persetujuan...

Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin: Robot dan AI Ambil Alih Banyak Peran Manusia

DCNews, Jakarta — Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI...

Senator Graal Taliawo Kutuk Teror Aktivis KontraS, Desak Pengusutan Tuntas

DCNews,  Jakarta — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI...