DCNews, Jakarta – Perempuan dan generasi muda menjadi kelompok yang semakin aktif memasuki ekosistem pembiayaan digital. Studi Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menunjukkan hampir separuh pengguna yang pertama kali mengakses kredit melalui aplikasi Kredivo merupakan perempuan.
Dalam studi tersebut, 48 persen pengakses kredit pertama adalah perempuan, sementara 57 persen berusia di bawah 30 tahun. Temuan ini memperlihatkan bahwa layanan kredit digital mulai menjadi pintu masuk bagi kelompok yang sebelumnya relatif sulit mengakses pembiayaan formal.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI Paksi Walandouw mengatakan kredit digital berperan dalam memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat yang selama ini masuk kategori underserved atau belum terlayani secara optimal oleh lembaga keuangan formal.
“Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mau berusaha, underserved itu bisa masuk ke sini. Ini salah satu yang tadi saya rasa ketika pertama kali ini ingin membuat underserved atau orang-orang yang susah, atau orang-orang yang tidak mudah masuk di ekosistem keuangan, menjadi lebih mudah,” ujar Paksi dalam peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
LD FEB UI juga mencatat satu dari enam pengguna aktif fintech lending pada 2024 merupakan pengakses kredit pertama. Jumlah tersebut disebut meningkat sekitar 10 kali lipat dibandingkan masa awal perkembangan layanan kredit digital.
Menurut Paksi, pengalaman pertama menggunakan kredit digital dapat menjadi tahap awal bagi sebagian masyarakat untuk mengenal mekanisme pembiayaan formal. Setelah memperoleh pengalaman tersebut, sebagian pengguna menjadi lebih percaya diri untuk mengakses produk pembiayaan dari lembaga keuangan lainnya.
“Karena dia sudah masuk ke dalam ekosistem pembiayaan, maka mereka lebih percaya diri mengakses pinjaman di institusi keuangan formal,” katanya.
Temuan penelitian itu juga menunjukkan adanya perubahan persepsi sebagian pengguna terhadap kredit. Paksi mengutip pengalaman seorang responden yang diwawancarai secara mendalam oleh LD FEB UI. Setelah menggunakan Kredivo, pengguna tersebut kemudian mencoba mengakses layanan kredit dari perbankan.
Di sisi lain, pertumbuhan pembiayaan digital membawa konsekuensi yang perlu diantisipasi, terutama ketika kelompok pengguna baru semakin banyak masuk ke dalam ekosistem kredit.
Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muhammad Rizki F Purnomo mengatakan outstanding Buy Now Pay Later (BNPL) per Juli 2024 mencapai Rp13,62 triliun, tumbuh 54 persen secara tahunan. Jumlah pengguna BNPL juga mencapai 26,64 juta rekening, meningkat 9,32 juta rekening.
Rizki menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan layanan PayLater semakin diterima masyarakat. Namun, peningkatan akses kredit harus berjalan beriringan dengan kemampuan industri mengelola risiko agar perluasan inklusi keuangan tidak berubah menjadi tekanan finansial bagi konsumen.
“Saya berharap peningkatan jumlah ini juga diimbangi dengan pengelolaan risiko yang baik,” kata Rizki.
OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BNPL berada di level 3,03 persen. Meski masih dinilai terkendali, Rizki mengingatkan pelaku industri agar tidak melonggarkan penyaluran pembiayaan semata-mata untuk mengejar pertumbuhan jumlah pengguna.
Bagi perempuan dan generasi muda yang menjadi kelompok dominan dalam pengakses kredit digital pertama, kemudahan memperoleh pembiayaan sekaligus menuntut literasi yang lebih kuat. Akses kredit yang semakin terbuka perlu diikuti kemampuan memahami biaya, kewajiban pembayaran, dan risiko gagal bayar agar teknologi keuangan benar-benar memperluas kesempatan ekonomi, bukan memperbesar kerentanan rumah tangga. ***

