DCNews, Jakarta — Kemudahan mengakses pinjaman melalui ponsel dapat berubah menjadi beban finansial ketika pengguna tidak memahami risiko utang dan kemampuan membayar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan generasi Z (Gen Z) agar lebih cermat menggunakan layanan keuangan digital, terutama pinjaman daring (pinjol) dan buy now, pay later (BNPL) atau beli sekarang, bayar nanti.
Anggota Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan generasi muda perlu dibekali pemahaman keuangan yang memadai agar tidak terjebak dalam pola konsumsi berlebihan dan tumpukan utang. Menurut dia, kecakapan menggunakan teknologi harus diimbangi kemampuan mengambil keputusan finansial secara bertanggung jawab.
Pesan tersebut disampaikan Friderica dalam kegiatan edukasi keuangan di Sekolah Rakyat Menengah Atas 10 Jakarta, Selasa (27/10/2026). Ia menegaskan, Gen Z bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan juga bagian penting dari penggerak ekonomi digital Indonesia.
“Gen Z ini bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga penggerak ekonomi digital. Makanya hari ini OJK hadir untuk membekali kalian dengan pengetahuan tentang digitalisasi dan keuangan,” kata Friderica.
Kemudahan Cicilan dan Tekanan Gaya Hidup Digital
Besarnya populasi Gen Z membuat kelompok ini menjadi salah satu sasaran penting edukasi keuangan. Berdasarkan data OJK dan Dukcapil 2026 yang disampaikan dalam materi tersebut, generasi yang lahir pada 1997–2012 mencakup sekitar 26 persen populasi Indonesia atau setara dengan 75 juta jiwa.
Paparan terhadap teknologi juga tinggi. Rata-rata anggota generasi ini menghabiskan waktu hingga 6,5 jam sehari menggunakan telepon pintar dan media sosial. Intensitas tersebut membuka akses terhadap informasi dan layanan keuangan, tetapi sekaligus memperbesar peluang terpapar promosi konsumtif.
Data yang dipaparkan OJK menunjukkan, 41 persen generasi muda mengaku kerap kehilangan jejak kewajiban cicilan BNPL setiap bulan. Sebanyak 39 persen menggunakan layanan tersebut untuk pembelian nonesensial, sementara 52 persen menilai fasilitas BNPL mendorong mereka berbelanja secara berlebihan.
Temuan itu menjadi pengingat bahwa kemudahan pembayaran tidak selalu berarti kemampuan membeli. Transaksi yang terasa ringan karena dicicil dapat menumpuk menjadi kewajiban bulanan, terutama ketika pengguna tidak mencatat jatuh tempo dan menghitung seluruh utangnya.
Tekanan juga datang dari media sosial. Unggahan tentang liburan, kendaraan mewah, dan gaya hidup orang lain dapat memunculkan dorongan untuk mengikuti standar hidup yang belum tentu sesuai dengan kondisi keuangan pribadi.
Dalam situasi seperti itu, keputusan belanja berisiko didorong keinginan untuk mengikuti tren, bukan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan membayar. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut dapat membuat pengeluaran melampaui pendapatan.
OJK Soroti Ketergantungan pada Informasi Digital
Tantangan literasi keuangan semakin besar ketika masyarakat menjadikan sumber informasi digital sebagai rujukan dalam mengambil keputusan finansial.
Data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut mencatat, 52 persen responden mempercayai influencer sebagai panduan keuangan, 56 persen mengandalkan media sosial secara umum, dan 64 persen memanfaatkan platform kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) untuk mencari informasi.
Angka tersebut memperlihatkan pentingnya kemampuan memeriksa kebenaran informasi sebelum mengikuti rekomendasi keuangan. Popularitas seorang influencer maupun jawaban dari platform digital tidak dengan sendirinya menjamin bahwa saran yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, profil risiko, atau kemampuan finansial seseorang.
Karena itu, generasi muda perlu memahami biaya pinjaman, bunga atau manfaat ekonomi yang setara, denda keterlambatan, serta konsekuensi gagal bayar sebelum menggunakan layanan kredit. Mereka juga perlu memastikan legalitas penyedia jasa keuangan dan tidak mudah membagikan data pribadi kepada pihak yang tidak tepercaya.
Friderica mengingatkan bahwa paparan terhadap pinjaman daring dapat berkembang menjadi persoalan serius ketika masyarakat tidak memahami cara mengelola utang.
“Jadi banyak Gen Z yang kemudian terekspos dan mereka sudah banyak hutang dari pinjaman-pinjaman online yang ini bisa bahaya kalau tidak segera belajar dan keluar dari situasi yang sangat tidak baik ini,” ujar Friderica.
Digiclass untuk Memperkuat Literasi Keuangan
Untuk mengurangi risiko tersebut, OJK bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Komisi Informasi Pusat menghadirkan program Digiclass. Program ini dirancang untuk membekali generasi muda dengan pemahaman mengenai pengelolaan anggaran, risiko utang, serta perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Melalui edukasi tersebut, peserta diharapkan mampu menyusun prioritas pengeluaran, memperhitungkan kemampuan membayar cicilan, dan menggunakan layanan keuangan digital secara lebih bijaksana.
Literasi keuangan juga perlu diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari. Mencatat pengeluaran, menyisihkan dana untuk kebutuhan utama, menghindari utang konsumtif yang tidak mendesak, serta memeriksa informasi sebelum mengambil keputusan merupakan langkah sederhana untuk menjaga kesehatan keuangan.
Pada akhirnya, kemampuan digital tidak cukup hanya diukur dari kecakapan menggunakan aplikasi. Generasi muda juga perlu memahami konsekuensi setiap transaksi agar kemudahan teknologi membantu mencapai tujuan finansial, bukan justru menciptakan masalah keuangan di kemudian hari. ***

