DCNews, Jakarta — Pembiayaan buy now pay later (BNPL) atau paylater melaju 54,65 persen secara tahunan menjadi Rp13,62 triliun hingga Juli 2026. Di tengah pertumbuhan yang agresif tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat pangsa paylater masih sangat kecil sehingga ruang ekspansinya masih terbuka lebar.
Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Pembiayaan OJK Moch. Riezky F. Purnomo mengatakan baki debet BNPL saat ini baru mencakup 2,45 persen dari total pembiayaan perusahaan pembiayaan. Dengan porsi tersebut, industri dinilai masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan kontribusi paylater.
“Masih sangat kecil (porsi baki debetnya). Ini sebenarnya peluang bagi industri BNPL untuk menambah porsinya. Kalau bisa 30 persen itu luar biasa, akan meningkatkan sekali pertumbuhan penyaluran pembiayaan,” kata Riezky di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya potensi yang masih tersedia bagi industri BNPL. Namun, angka 30 persen yang disebut Riezky merupakan gambaran mengenai potensi peningkatan porsi, bukan target resmi yang ditetapkan OJK.
Data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) menunjukkan pertumbuhan BNPL telah jauh melampaui laju yang dibutuhkan untuk sekadar mempertahankan pangsanya. Per Juli 2026, pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,62 triliun, dengan pertumbuhan tahunan 54,65 persen.
Pertumbuhan itu berjalan seiring dengan meluasnya basis pengguna. OJK mencatat jumlah rekening pengguna BNPL telah mencapai 26,64 juta. Besarnya kelompok penduduk usia produktif dinilai masih menjadi fondasi bagi ekspansi layanan pembiayaan tersebut.
“Saya bersyukur buy now pay later ini sudah menunjukkan kontribusi yang cukup luas,” ujar Riezky.
Meski ekspansi berlangsung cepat, indikator kualitas pembiayaan justru menunjukkan perbaikan. Rasio non-performing financing (NPF) gross BNPL turun menjadi 3,03 persen pada Juli 2026, dari 3,09 persen pada bulan sebelumnya.
Dengan pertumbuhan yang mencapai 54,65 persen, basis pengguna 26,64 juta rekening, serta porsi yang baru 2,45 persen dari total pembiayaan, paylater kini berada di persimpangan antara peluang pertumbuhan dan kebutuhan menjaga kualitas kredit. Bagi industri, ruang ekspansi masih besar; bagi regulator, tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak berubah menjadi akumulasi risiko baru. ***

