DCNews, Jakarta — Koperasi didorong menjadi alternatif bagi Generasi Z dan milenial untuk membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memperoleh pendapatan tanpa terus bergantung pada pinjaman online (pinjol). Melalui model bisnis berbasis keanggotaan, koperasi dinilai mampu mengubah potensi komunitas anak muda menjadi kekuatan ekonomi produktif.
Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi, Deva Rachman, mengatakan koperasi tidak semestinya hanya dipandang sebagai lembaga simpan pinjam. Lebih dari itu, koperasi dapat menjadi wadah bagi anak muda untuk mengembangkan usaha bersama sekaligus menjawab kebutuhan lapangan kerja di Indonesia.
“Koperasi jadi solusi bagi Indonesia yang saat ini membutuhkan tenaga kerja. Bagaimana koperasi menjadi solusi lapangan kerja bagi anak muda Gen Z dan milenial. Kami harap koperasi yang melibatkan anak muda bisa terus berkembang,” kata Deva, dikutip Senin (26/10/2026).
Menurut Deva, peluang pengembangan koperasi terbuka bagi berbagai kelompok, mulai dari pekerja lepas (freelancer), pelaku industri kreatif, komunitas olahraga, hingga kelompok profesi yang ingin membangun usaha secara kolektif.
Melalui koperasi, anggota dapat menghimpun modal, keahlian, jaringan, dan sumber daya untuk mengembangkan bisnis serta memperluas pasar. Keuntungan usaha yang diperoleh dapat dibagikan kepada anggota dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU) sesuai ketentuan dan mekanisme koperasi.
Deva mencontohkan komunitas suporter sepak bola sebagai kelompok yang memiliki potensi ekonomi besar. Dengan jumlah anggota dan jaringan yang luas, komunitas tersebut tidak hanya berperan sebagai konsumen atau pendukung klub, tetapi juga dapat mengembangkan bisnis bersama melalui koperasi.
Ia menyinggung FC Barcelona dan Bayern Muenchen sebagai contoh klub sepak bola yang memiliki model kepemilikan berbasis anggota. Menurutnya, pengalaman klub-klub tersebut dapat menjadi inspirasi bagi komunitas di Indonesia untuk mengembangkan potensi ekonomi secara terorganisasi.
“Bayangkan, FC Barcelona dan Bayern Munchen itu adalah koperasi. Dan mereka bisa sampai sebesar itu bahkan membuat tim yang sebesar itu dan membayar pemain-pemain seharga bola itu dari koperasi,” ujarnya.
Dorongan pengembangan koperasi di kalangan anak muda tersebut menempatkan usaha kolektif sebagai salah satu pilihan untuk memperluas akses terhadap peluang ekonomi. Dengan pengelolaan profesional, tata kelola yang baik, dan partisipasi aktif anggota, koperasi berpotensi menjadi sarana bagi generasi muda untuk membangun usaha berkelanjutan sekaligus menciptakan sumber pendapatan bersama. ***

