DCNews, Guangzhou — Inflasi China kembali menunjukkan tanda-tanda menguat setelah berbulan-bulan dibayangi tekanan deflasi. Kenaikan harga pangan dan energi, ditambah lonjakan biaya semikonduktor dan komoditas industri, mulai mempersempit ruang bagi ekonomi terbesar kedua dunia untuk mempertahankan pemulihan tanpa tekanan harga yang lebih tinggi.
Biro Statistik Nasional China (NBS) pada Rabu (9/9) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) naik 0,8 persen secara tahunan pada Agustus, meningkat dari 0,5 persen pada Juli. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan pasar dan sekaligus menjadi kenaikan pertama sejak April.
Tekanan harga juga terlihat di tingkat produsen. Inflasi produsen meningkat menjadi 3,8 persen pada Agustus, dari 3,5 persen pada Juli. Angka tersebut melampaui perkiraan median sebesar 3,6 persen.
Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan komponen pangan dan energi yang cenderung bergejolak, juga meningkat menjadi 1 persen, level tertinggi dalam empat bulan.
Perubahan tersebut menunjukkan tekanan harga mulai bergerak lebih luas, meskipun perekonomian China masih menghadapi persoalan lemahnya konsumsi domestik dan perlambatan aktivitas ekonomi.
Ahli statistik NBS Dong Lijuan mengatakan energi menyumbang 0,28 poin persentase terhadap kenaikan inflasi konsumen tahunan. Sejumlah komoditas pangan juga mengalami kenaikan harga secara bulanan akibat faktor musiman dan kondisi cuaca.
Harga sayuran segar, telur, dan daging babi tercatat meningkat pada Agustus.
Namun, persoalan China tidak hanya berasal dari dalam negeri. Pergerakan harga komoditas global mulai menciptakan tekanan baru bagi industri manufaktur yang selama ini menjadi salah satu mesin utama ekonomi negara tersebut.
Risiko Energi dan Selat Hormuz
Kekhawatiran terbesar datang dari pasar energi. Dimana, meningkatnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran memunculkan risiko gangguan terhadap lalu lintas energi melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia.
Harga minyak Brent mendekati US$100 per barel pada Rabu setelah Amerika Serikat menyerang kapal tanker Iran di sekitar kawasan ekspor minyak penting Pulau Kharg.
Bagi China, kenaikan harga minyak memiliki konsekuensi luas. Negara tersebut merupakan salah satu konsumen energi terbesar dunia sehingga peningkatan biaya energi dapat menaikkan biaya produksi, transportasi, hingga harga barang konsumsi.
Tekanan tersebut menjadi lebih rumit karena perusahaan manufaktur China masih menghadapi lemahnya permintaan domestik. Ketika biaya produksi meningkat, kemampuan perusahaan untuk meneruskan kenaikan harga kepada konsumen menjadi terbatas.
Dengan kata lain, industri China dapat menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus: biaya produksi meningkat, sementara konsumen belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga.
Cip dan Logam Memperbesar Tekanan
Tekanan harga juga datang dari sektor teknologi
Kelangkaan semikonduktor dan sejumlah produk elektronik membuat harga beberapa jenis cip melonjak hingga 700 persen dalam setahun terakhir. Kenaikan tersebut mulai merembet ke harga produk elektronik dan barang konsumsi tahan lama.
Harga tablet, komputer, dan telepon seluler masing-masing meningkat dengan laju dua digit secara tahunan. Perubahan itu mencerminkan meningkatnya permintaan global terhadap perangkat keras yang berkaitan dengan investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI).
Boom AI yang sebelumnya menjadi pendorong investasi teknologi kini mulai memiliki konsekuensi terhadap harga komponen.
Ketika permintaan terhadap cip meningkat tajam sementara pasokan belum mampu mengimbangi, biaya produksi perangkat elektronik ikut terdorong.
Kenaikan harga logam nonferro, termasuk tembaga, juga menambah tekanan. Ekspektasi perluasan tarif Amerika Serikat terhadap impor logam olahan turut mendorong kekhawatiran mengenai biaya bahan baku industri global.
Data NBS memperlihatkan harga barang konsumsi tahan lama di tingkat produsen naik 1,2 persen pada Agustus, laju tercepat sejak pencatatan data dimulai pada 1996.
Kenaikan itu diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya biaya cip yang kemudian mendorong harga peralatan rumah tangga.
Emas Ikut Mengerek Inflasi
Emas juga memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga konsumen China.
Kelompok IHK untuk kategori “barang dan jasa lainnya”, yang mencakup perhiasan, meningkat 7,3 persen secara tahunan pada Agustus. Pergerakan tersebut membalikkan tren perlambatan yang terlihat sejak Maret.
Harga perhiasan emas bahkan melonjak 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga emas global pada bulan sebelumnya menjadi salah satu faktor yang turut mendorong kelompok harga tersebut.
Di tingkat produsen, kenaikan harga masih banyak berasal dari komoditas dan produk yang mendapat manfaat dari meningkatnya harga minyak serta cip. Industri batu bara, logam, energi, bahan kimia, dan elektronik mencatat kenaikan harga output.
China Menghadapi Persimpangan
Data terbaru memberikan gambaran ekonomi yang lebih kompleks daripada sekadar kembalinya inflasi.
China baru saja keluar dari periode deflasi terpanjang dalam sejarahnya. Namun, pemulihan harga belum berarti persoalan ekonominya selesai.
Konsumsi rumah tangga yang masih lemah membatasi kemampuan perusahaan menaikkan harga. Pada saat yang sama, pengurangan stimulus fiskal pemerintah membuat dukungan terhadap permintaan domestik tidak sebesar sebelumnya.
Kini, Risiko Baru Muncul Dari Luar Negeri.
Jika harga energi dunia terus meningkat akibat konflik geopolitik, sementara harga cip dan logam tetap tinggi karena permintaan teknologi serta gangguan pasokan, tekanan biaya terhadap manufaktur China dapat semakin besar.
Yuan relatif tidak berubah setelah data inflasi dirilis dan bertahan di dekat level terkuatnya sejak awal 2023. Imbal hasil obligasi pemerintah China tenor 10 tahun juga stabil di sekitar 1,68 persen.
Stabilitas pasar keuangan tersebut menunjukkan investor belum melihat data inflasi terbaru sebagai perubahan fundamental yang cukup besar untuk mengubah arah kebijakan ekonomi China secara drastis.
Namun, kombinasi antara energi mahal, bahan baku industri yang meningkat, dan lonjakan permintaan teknologi membuat prospek inflasi China menjadi lebih sulit diprediksi.
Bagi ekonomi global, persoalannya bahkan lebih luas. China merupakan pusat manufaktur dan konsumen komoditas utama dunia. Jika tekanan biaya bertahan dan mulai diteruskan ke harga barang, gelombang inflasi yang selama ini mereda dapat memperoleh sumber tekanan baru dari rantai pasok global.
Kembalinya inflasi China, dengan demikian, bukan sekadar cerita tentang perubahan harga di dalam negeri. Ia menjadi sinyal bahwa energi, teknologi, geopolitik, dan rantai pasok kembali bertemu di satu titik—dan berpotensi menentukan arah inflasi global berikutnya. ***

