DCNews, Jakarta — Bahaya pinjaman online (pinjol) ilegal tidak hanya berhenti pada tagihan berbunga tinggi. Tekanan yang dialami korban dapat merembet ke keluarga, teman, hingga lingkungan sosial. Persoalan itu kini diangkat ke layar lebar melalui film Menang untuk Kalah yang dinilai dapat menjadi sarana literasi digital bagi masyarakat.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan film memiliki kekuatan untuk menggambarkan persoalan judi online (judol) dan pinjol ilegal secara lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menurut dia, karya audiovisual memungkinkan penonton melihat secara utuh bagaimana seseorang dapat terjerat masalah, menghadapi tekanan, hingga membawa dampaknya ke orang-orang terdekat.
“Masyarakat bisa melihat bagaimana seseorang masuk ke dalam masalah, bagaimana tekanan berkembang, dan bagaimana dampaknya ikut dirasakan keluarga serta orang-orang di sekitarnya,” ujar Nezar dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Nezar saat menerima audiensi Indonesian Institute of Journalism (IIJ) bersama tim produksi film Menang untuk Kalah di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Nezar mengapresiasi film tersebut karena mengangkat persoalan pinjol ilegal melalui drama kehidupan sebuah keluarga. Pendekatan itu, menurut dia, membuat isu yang selama ini banyak dibahas dari sisi ekonomi dan teknologi menjadi lebih dekat dengan pengalaman sosial korban.
Tekanan Pinjol Ilegal Bisa Menyasar Keluarga
Nezar menilai perspektif keluarga menjadi salah satu aspek penting dalam cerita tentang pinjol ilegal. Praktik pinjol ilegal, kata dia, dapat memanfaatkan data dan profiling untuk memberikan tekanan kepada peminjam.
Tekanan tersebut pada akhirnya tidak selalu berhenti kepada orang yang mengambil pinjaman. Keluarga, teman, bahkan lingkungan sosial korban dapat ikut terdampak.
“Para korban pinjol ilegal harus menerima tekanan psikologis yang besar dan tagihan dengan bunga tinggi, bahkan sampai dipermalukan di lingkungannya,” kata Nezar.
Ia menilai gambaran semacam itu penting disampaikan kepada masyarakat agar pemahaman terhadap korban tidak berhenti pada anggapan bahwa seseorang terjerat pinjol semata-mata karena kebutuhan konsumtif.
Menurut Nezar, kondisi darurat dan tekanan ekonomi juga dapat mendorong seseorang mengambil keputusan dalam situasi sulit.
Karena itu, cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dinilai dapat membantu masyarakat memahami kompleksitas persoalan pinjol ilegal sekaligus mengenali risikonya.
Film Bisa Jadi Bagian dari Literasi Digital
Nezar juga melihat film Menang untuk Kalah berpeluang dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan literasi digital. Pemutaran film, menurut dia, dapat dipadukan dengan diskusi mengenai keamanan digital dan literasi keuangan.
Kegiatan tersebut dapat menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari mahasiswa dan komunitas hingga masyarakat umum di ruang-ruang publik.
Dengan pola itu, pesan yang disampaikan melalui film tidak berhenti setelah penonton meninggalkan bioskop. Cerita dalam film dapat menjadi pintu masuk untuk membahas cara menjaga keamanan data pribadi, mengenali layanan keuangan ilegal, serta mengambil keputusan finansial secara lebih bijak.
Nezar berharap kolaborasi pemerintah, industri kreatif, media, komunitas, dan pelaku ekosistem digital dapat memperluas jangkauan edukasi mengenai bahaya pinjol ilegal.
“Menang untuk Kalah” dijadwalkan tayang di bioskop pada 14 November 2026. Film tersebut dibintangi Surya Saputra dan Lulu Tobing sebagai pemeran utama.
Dari sisi produksi, film ini melibatkan penulis naskah Jujur Prananto, yang dikenal sebagai penulis naskah Ada Apa Dengan Cinta, serta sutradara Hasto Broto.
Dengan menggabungkan drama keluarga dan isu pinjol ilegal, Menang untuk Kalah membawa persoalan literasi digital ke medium hiburan—sekaligus mengajak penonton melihat bahwa dampak keputusan finansial yang keliru dapat meluas jauh melampaui orang yang pertama kali mengambil pinjaman. ***

