Yen Tembus ¥160 per Dolar, Tekanan Intervensi Jepang Kembali Menguat

Date:

DCNews, Tokyo — Nilai tukar yen Jepang kembali melemah hingga menembus level psikologis ¥160 per dolar AS, memperbesar tekanan terhadap pemerintah dan Bank of Japan (BOJ) untuk mempertimbangkan langkah baru guna menahan kejatuhan mata uang tersebut.

Yen melemah hingga 0,5 persen menjadi ¥160,16 per dolar AS. Penurunan itu memperpanjang pelemahan yang menghapus lebih dari separuh penguatan yen setelah intervensi valuta asing terkoordinasi Jepang dan Amerika Serikat pada 31 Juli lalu.

Pergerakan yen kembali menjadi perhatian pasar karena level ¥160 sebelumnya telah menjadi salah satu batas yang memicu respons otoritas Jepang. Pada musim panas 2024, pemerintah Jepang juga melakukan intervensi untuk menopang yen setelah mata uang tersebut menembus level yang sama.

Tekanan terbaru datang ketika dolar AS kembali menguat setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan pentingnya membawa inflasi kembali ke target bank sentral. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS dan kembali menyoroti kesenjangan suku bunga yang lebar antara Jepang dan Amerika Serikat.

“Dengan yen menyentuh level psikologis ¥160 per dolar AS, ekspektasi intervensi pasti meningkat,” kata Alex Cohen, ahli strategi valuta asing Bank of America.

Namun, menurut Cohen, otoritas Jepang kemungkinan masih akan lebih berhati-hati karena pelemahan yen saat ini terutama dipengaruhi penguatan dolar AS dan pergerakan suku bunga Amerika Serikat.

Intervensi Belum Mampu Mengubah Tren

Yen sebelumnya menguat tajam setelah Amerika Serikat dan Jepang melakukan intervensi pembelian yen secara terkoordinasi pada 31 Juli. Langkah tersebut menjadi intervensi bersama pertama kedua negara sejak 1998.

Namun, penguatan itu tidak bertahan lama. Yen gagal menembus level ¥155 pada awal Agustus dan kembali berada di bawah tekanan jual.

Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa intervensi valuta asing dapat memberikan efek kuat dalam jangka pendek, tetapi belum tentu mampu mengubah faktor fundamental yang mendorong pergerakan mata uang.

Brendan Fagan, Macro Strategist Bloomberg, menilai pergerakan yen menunjukkan bahwa dampak intervensi hanya bersifat sementara ketika berhadapan dengan arah suku bunga global.

Menurut dia, pasangan dolar AS-yen baru menghapus sekitar separuh dari penurunan tajam yang terjadi setelah intervensi. Artinya, pasar masih memiliki ruang untuk bergerak sebelum mencapai level yang dianggap terlalu mengkhawatirkan oleh otoritas Jepang.

Level ¥160 Berubah Menjadi Persoalan Kebijakan

Masahiko Loo, senior fixed-income strategist di State Street Investment Management, melihat level ¥160 bukan lagi sekadar ukuran valuasi mata uang.

“Level 160-an bukan lagi sekadar level valuasi. Ini mulai menjadi level kebijakan,” ujar Loo.

Menurut dia, Amerika Serikat dan Jepang telah menunjukkan adanya batas politik terhadap pelemahan yen, terutama ketika kurs bergerak menuju pertengahan ¥160-an.

Loo bahkan tidak menutup kemungkinan intervensi kembali dilakukan sebelum BOJ menaikkan suku bunga, yang menurutnya dapat terjadi paling cepat pada September.

Pernyataan tersebut mencerminkan dilema yang dihadapi Jepang. Intervensi dapat dilakukan untuk meredam volatilitas dan menahan pelemahan yen, tetapi efektivitasnya akan terbatas jika perbedaan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat tetap lebar.

BOJ Jadi Perhatian Berikutnya

Perhatian pasar kini beralih ke pertemuan BOJ bulan depan. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga berada di sekitar 80 persen.

Kenaikan suku bunga BOJ berpotensi mempersempit kesenjangan dengan suku bunga Amerika Serikat dan memberikan dukungan terhadap yen. Namun, investor juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada tahun ini.

Artinya, langkah BOJ tidak serta-merta menjamin pembalikan tren yen apabila kebijakan moneter Amerika Serikat tetap relatif ketat.

Geoffrey Yu, senior strategist BNY, memperkirakan otoritas Jepang untuk sementara menahan diri dari intervensi langsung karena keputusan suku bunga BOJ sudah semakin dekat.

“Tokyo harus bertindak jika ingin menstabilkan pasar valuta asing,” kata Yu.

Pemerintah Jepang Menghadapi Tekanan Ganda

Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi disebut mendukung kemungkinan kenaikan suku bunga BOJ dalam waktu dekat di tengah kembali melemahnya yen.

Situasi tersebut berbeda dengan posisi yen sebelum intervensi akhir Juli. Saat itu, yen berada di sekitar level terendah dalam hampir empat dekade, yakni mendekati ¥164 per dolar AS.

Intervensi yang dilakukan pada akhir Juli berhasil mengangkat yen dari tekanan tersebut. Namun, penguatan itu kini sebagian besar mulai terkikis.

Selain kesenjangan suku bunga, investor juga mencermati beban utang Jepang yang besar serta kenaikan harga minyak yang dapat meningkatkan tekanan terhadap perekonomian dan pasar keuangan global.

Posisi Spekulan Mulai Berubah

Perubahan juga terlihat dari posisi pelaku pasar. Data Commodity Futures Trading Commission menunjukkan hedge fund telah memangkas lebih dari separuh posisi taruhan mereka terhadap pelemahan yen sejak intervensi terkoordinasi tersebut.

Namun, posisi bearish kembali sedikit meningkat dalam pekan hingga 18 Agustus.

Pada saat yang sama, investor mulai kembali menggunakan yen sebagai mata uang pendanaan untuk strategi carry trade, yakni meminjam dalam mata uang dengan suku bunga relatif rendah untuk berinvestasi pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi.

Perkembangan itu menjadi tanda bahwa tekanan terhadap yen tidak semata-mata ditentukan oleh kebijakan pemerintah Jepang. Selama selisih suku bunga global tetap lebar, pelaku pasar masih memiliki insentif untuk menggunakan yen dalam transaksi carry trade.

Bagi Tokyo, persoalannya kini bukan sekadar mempertahankan satu angka tertentu pada kurs. Menembus ¥160 kembali menempatkan yen di wilayah yang sensitif secara politik dan kebijakan, sementara kemampuan intervensi untuk mengubah arah pasar akan diuji oleh kekuatan dolar AS dan jalur suku bunga global.

Jika pelemahan berlanjut menuju pertengahan ¥160-an, tekanan terhadap pemerintah Jepang dan BOJ untuk menunjukkan respons yang lebih tegas berpotensi semakin besar. ***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

OJK Tegaskan Bunga Bank Tetap Ikuti Mekanisme Pasar, Respons Permintaan Menkeu Purbaya

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan tidak akan...

Klaim Mobil Diambil Paksa Debt Collector, Anggota DPRD Karawang Kang Asep Supriatna Tempuh Jalur Pidana dan Perdata

DCNews, Karawang — Persoalan penagihan kendaraan berujung ke meja hukum...

AFPI Dorong Literasi Pindar di NTB, Mahasiswa Didorong Kenali Risiko Pinjaman Daring

DCNews, Mataram — Kemudahan mengakses pinjaman daring membuat literasi keuangan...

Harga Emas Antam Turun Rp48.000 Jadi Rp2,67 Juta per Gram, Investor Perlu Cermati Arah Harga

DCNews, Jakarta — Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk...