Pakar Siber Ingatkan Bahaya Twibbon MPLS, Data Pribadi Siswa Rentan Disalahgunakan

Date:

DCNews, Jakarta – Antusiasme siswa baru menyambut Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kerap diwujudkan melalui unggahan twibbon di media sosial. Di balik tren yang mempererat rasa kebersamaan itu, tersimpan risiko serius terhadap keamanan data pribadi apabila informasi yang dibagikan tidak dibatasi.

Pengamat keamanan siber Pratama Persadha mengingatkan, unggahan twibbon MPLS yang memuat foto wajah, nama lengkap, asal sekolah, domisili, hingga informasi identitas lainnya berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Menurutnya, seluruh informasi tersebut dapat diakses, disalin, disimpan, bahkan digunakan untuk berbagai modus penipuan digital.

“Dari sisi kebersamaan dan kebanggaan sebagai bagian dari sekolah baru, tren tersebut tentu memiliki nilai positif. Namun, dari sudut pandang keamanan siber dan perlindungan data pribadi, kebiasaan tersebut juga perlu disikapi secara lebih bijaksana,” ujar Pratama dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).

Ketua lembaga riset keamanan siber CISSReC itu menjelaskan, membagikan identitas diri tidak selalu berbahaya. Namun, ancaman muncul ketika seluruh informasi tersebut dipublikasikan secara terbuka sehingga mudah dikumpulkan oleh pelaku kejahatan melalui teknik Open Source Intelligence (OSINT).

Menurut Pratama, teknik OSINT memungkinkan pelaku menghimpun berbagai informasi yang tersebar di internet, menghubungkannya, lalu menyusun profil digital seseorang tanpa harus meretas akun korban.

“Teknik ini memungkinkan berbagai informasi yang tersebar di internet dikumpulkan, dikorelasikan, dan disusun menjadi profil digital seseorang tanpa harus meretas akun miliknya. Semakin banyak data yang dibagikan secara sukarela, semakin mudah pula identitas seseorang dipetakan,” jelasnya.

Ia menambahkan, data tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk melakukan social engineering, yakni manipulasi psikologis agar korban percaya kepada pelaku. Dengan bekal informasi dasar mengenai siswa, pelaku dapat menyamar sebagai guru, panitia sekolah, teman sekelas, maupun orang tua untuk melancarkan penipuan.

Tak hanya itu, foto wajah yang diunggah juga berpotensi disalahgunakan untuk membuat identitas palsu hingga dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan artifisial (AI). Risiko lainnya mencakup perundungan digital, pelecehan daring, penguntitan, hingga pemantauan aktivitas anak.

Pratama menilai, informasi yang tersebar di media sosial memungkinkan pelaku mengetahui sekolah korban, memperkirakan lokasi aktivitas sehari-hari, mengenali lingkaran pertemanan, kemudian membangun komunikasi yang terlihat wajar.

“Hal tersebut sangat berbahaya terutama bagi anak dan remaja yang umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengenali berbagai modus manipulasi digital,” katanya.

Karena itu, ia mendorong sekolah dan orang tua memperkuat edukasi literasi digital sejak dini agar siswa memahami pentingnya melindungi data pribadi dan menyadari dampak jejak digital yang ditinggalkan di internet.

Pratama juga menyarankan agar informasi yang dicantumkan dalam twibbon MPLS dibatasi pada hal-hal yang benar-benar diperlukan, misalnya hanya menggunakan nama depan atau nama panggilan tanpa menyertakan alamat, nomor telepon, maupun identitas lain yang bersifat sensitif.

“Twibbon MPLS bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu dibangun adalah budaya literasi digital yang lebih baik sehingga semangat memperkenalkan diri tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan keamanan data pribadi,” ujarnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Nasabah Laporkan Dugaan Kebocoran Data ke Polda Jatim, 7 Bulan Masih Menanti Kepastian Hukum

DCNews, Surabaya — Ketika seorang penagih utang datang membawa...

Reshuffle Kabinet Prabowo, Pengamat Ingatkan Jangan Ganti Menteri Cuma karena Tak Loyal Politik

DCNews, Jakarta — Wacana reshuffle kabinet pemerintahan Presiden Prabowo...

Rekening Bank untuk Semua Warga Belum Menjamin Bansos Tepat Sasaran, Ekonom Soroti Masalah Data

DCNews, Jakarta — Rencana pemerintah membuka rekening perbankan bagi...

OJK Soroti Literasi Keuangan Gen Z: Akses Tinggi, Pemahaman Masih Rendah

DCNews, Banten — Generasi muda Indonesia semakin mudah mengakses...