DCNews, Bali — Ketegangan geopolitik global yang dipicu eskalasi konflik Iran-Israel dan tekanan ekonomi internasional belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata Bali. Di tengah kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi dunia, Pulau Dewata justru dinilai masih menunjukkan daya tahan yang kuat sebagai salah satu destinasi wisata unggulan dunia.
Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Bambang Soesatyo, mengatakan arus wisatawan mancanegara ke Bali tetap tinggi meskipun dunia tengah menghadapi berbagai tekanan geopolitik dan ekonomi.
Menurutnya, konflik Iran-Israel telah memicu kenaikan harga energi global, meningkatkan volatilitas pasar keuangan, serta menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi internasional. Di Indonesia, situasi tersebut turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat bergerak mendekati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Namun demikian, aktivitas ekonomi berbasis pariwisata di Bali masih berjalan stabil.
“Situasi geopolitik dunia memang menimbulkan kekhawatiran terhadap berbagai sektor ekonomi. Namun hingga saat ini Bali menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Wisatawan mancanegara tetap datang dalam jumlah besar karena daya tarik Bali sudah menjadi bagian dari destinasi wisata dunia yang sulit tergantikan,” kata Bamsoet di Bali, Senin (15/6/2026).
Bamsoet menilai ketahanan sektor wisata Bali bukanlah fenomena baru. Selama beberapa dekade terakhir, industri pariwisata di Bali telah berulang kali menghadapi berbagai tantangan, mulai dari krisis keuangan global, pandemi COVID-19, hingga gejolak geopolitik internasional.
Pengalaman tersebut membuat pelaku industri wisata di Bali lebih adaptif dalam merespons perubahan pasar, termasuk melalui diversifikasi negara asal wisatawan dan peningkatan kualitas layanan.
Menurutnya, fleksibilitas para pelaku usaha menjadi salah satu faktor utama yang menjaga stabilitas industri wisata Bali ketika pasar tertentu mengalami perlambatan.
“Ketika satu pasar mengalami perlambatan, mereka mampu mengalihkan fokus ke pasar lain yang sedang tumbuh. Fleksibilitas inilah yang membuat industri pariwisata Bali tetap tangguh dalam menghadapi berbagai krisis,” ujarnya.
Pelemahan Rupiah Berpotensi Tingkatkan Daya Saing Wisata Indonesia
Di sisi lain, Bamsoet menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak sepenuhnya menjadi kabar buruk bagi sektor pariwisata.
Dengan kurs rupiah yang lebih rendah terhadap dolar AS, wisatawan asing memperoleh daya beli yang lebih besar ketika berlibur di Indonesia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan belanja wisatawan di sektor perhotelan, restoran, transportasi, industri kreatif, hingga UMKM lokal.
Bamsoet menegaskan manfaat tersebut hanya dapat dirasakan apabila pemerintah mampu menjaga inflasi domestik dan stabilitas keamanan nasional.
“Selama inflasi dalam negeri tetap terjaga dan stabilitas keamanan nasional dapat dipertahankan, pelemahan rupiah justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia di pasar internasional,” katanya.
Pemerintah Diminta Perkuat Infrastruktur dan Promosi Global
Meski kondisi pariwisata Bali masih relatif stabil, Bamsoet mengingatkan pemerintah pusat maupun daerah agar tidak lengah.
Ia mendorong penguatan promosi internasional, peningkatan kualitas infrastruktur pendukung pariwisata, perluasan konektivitas penerbangan internasional, serta upaya menjaga kelestarian lingkungan dan budaya Bali.
Menurutnya, strategi tersebut penting agar pertumbuhan sektor wisata tidak hanya menghasilkan keuntungan jangka pendek, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat lokal.
“Krisis geopolitik dunia akan selalu datang dan pergi. Namun selama Indonesia mampu menjaga stabilitas nasional, keamanan destinasi wisata, kualitas pelayanan, serta daya tarik budaya yang khas, Bali akan tetap menjadi daya tarik wisata dunia,” ujar Bamsoet. ***

