DCNews, Jakarta — Gejolak pasar saham domestik mendorong sejumlah pejabat tinggi negara mendatangi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/5), di tengah tekanan beruntun yang menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level terendah dalam setahun terakhir. Kunjungan itu dilakukan untuk menunjukkan dukungan terhadap stabilitas pasar sekaligus menjaga kepercayaan investor di tengah sentimen global yang membayangi pasar keuangan Indonesia.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad hadir di gedung BEI bersama CEO Danantara Rosan Roeslani dan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. Ketiganya melakukan pertemuan dengan jajaran otoritas pasar modal setelah IHSG dibuka melemah 0,59 persen ke level 6.560.
Meski sempat berbalik menguat hingga 0,53 persen dan menyentuh posisi 6.637 pada pukul 09.55 WIB, tekanan jual kembali mendominasi perdagangan menjelang siang. Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG tercatat turun tajam 3,08 persen ke level 6.396,27, sekaligus mencetak rekor intraday terendah baru dalam satu tahun terakhir.
Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif pasar saham domestik yang telah berlangsung selama lima hari perdagangan beruntun sejak 8 Mei 2025. Tekanan pasar disebut terjadi menjelang pengumuman penyesuaian indeks global seperti MSCI dan FTSE yang kerap memengaruhi arus modal asing.
Sebelum memberikan keterangan kepada media, Dasco mengatakan dirinya telah berdiskusi dengan pihak BEI dan OJK terkait langkah-langkah menjaga stabilitas pasar serta memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi nasional. “Kita yakin dan percaya bahwa bursa kita ke depan akan semakin besar,” ujar Dasco.
Sementara itu, Friderica menilai koreksi pasar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir masih berada dalam batas moderat, terutama setelah periode libur panjang pekan lalu. Menurut dia, pergerakan IHSG saat ini mencerminkan mekanisme pasar yang lebih berbasis fundamental.
“Dinamika ini menunjukkan penyesuaian yang lebih berbasis fundamental,” kata Friderica.
Ia menjelaskan bahwa reformasi yang dilakukan regulator membuat pola pergerakan indeks domestik kini semakin selaras dengan indeks global maupun indeks utama di dalam negeri seperti LQ45, IDX30, dan IDX80.
“Jadi kita melihat pergerakan indeks kita sudah lebih secara fundamental dan juga sekarang IHSG relatif sejalan dengan indeks MSCI, maupun sub-indeks utama seperti LQ45 dan juga IDX30 dan juga IDX80,” ujarnya.
Di tengah volatilitas pasar, OJK juga mencatat peningkatan partisipasi investor ritel dalam negeri. Friderica menyebut jumlah investor pasar modal Indonesia bertambah sekitar 7 juta investor baru, yang dinilai menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi domestik. ***

