DCNews, Jakarta — Di tengah pertumbuhan industri pinjaman daring yang masih melaju, sebagian perusahaan fintech peer to peer (P2P) lending justru menghadapi tekanan permodalan yang semakin berat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat masih terdapat 11 penyelenggara fintech lending yang belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum sebesar Rp12,5 miliar hingga Maret 2025.
Kondisi tersebut dinilai menjadi penanda bahwa pertumbuhan penyaluran pinjaman tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan fundamental perusahaan fintech.
Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, mengatakan banyak perusahaan fintech saat ini menghadapi tekanan bisnis yang kompleks, mulai dari tingginya biaya akuisisi pengguna, meningkatnya risiko gagal bayar, hingga beban operasional yang terus membengkak.
“Pertumbuhan industri lebih banyak dinikmati pemain besar yang memiliki ekosistem kuat, teknologi matang, dan akses modal yang lebih besar,” kata Heru dalam keterangan tertulis, Minggu (17/5/2026).
Menurut dia, perusahaan fintech skala kecil kini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat untuk menjaga profitabilitas dan mempertahankan ekuitas di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Ia menilai fintech dengan skala usaha lebih kecil harus menghadapi biaya dana yang lebih mahal, risiko kredit lebih tinggi, serta keterbatasan dalam memperoleh investor baru.
Di sisi lain, regulasi industri fintech yang semakin ketat turut meningkatkan kebutuhan modal dan biaya kepatuhan. Kondisi itu, kata Heru, memunculkan kesenjangan daya tahan bisnis antara pemain besar dan pemain kecil di industri fintech nasional.
Heru menekankan pentingnya penguatan kualitas pembiayaan dan manajemen risiko agar rasio kredit bermasalah tetap terkendali. Selain itu, efisiensi operasional juga dinilai menjadi faktor penting, terutama dalam menekan biaya akuisisi pengguna yang terlalu agresif.
Ia juga mendorong perusahaan fintech melakukan diversifikasi produk serta memperluas kolaborasi dengan sektor perbankan maupun ekosistem digital untuk memperkuat sumber pendapatan.
Sementara itu, perusahaan fintech P2P lending Amartha memastikan kondisi ekuitas perseroan masih berada dalam kondisi sehat di tengah tekanan industri.
VP Public Relations Amartha, Harumi Supit, mengatakan perusahaan terus memperkuat fundamental bisnis guna menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Amartha memiliki fondasi bisnis, pengalaman operasional, serta pemahaman pasar yang kuat untuk terus bertumbuh secara berkelanjutan,” ujar Harumi.
Menurut dia, penguatan ekuitas dilakukan melalui sejumlah langkah strategis, mulai dari menjaga kualitas portofolio pembiayaan, memperluas kolaborasi strategis, hingga membangun ekosistem keuangan digital yang inklusif. ***

