DCNews, Jakarta — Tekanan terhadap rupiah kembali meningkat di tengah lonjakan harga minyak dunia dan ketidakpastian fiskal domestik yang belum mereda. Kombinasi sentimen global dan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia membuat mata uang Garuda kembali bergerak melemah di pasar offshore pada perdagangan Jumat (15/5/2026).
Nilai kontrak rupiah di pasar luar negeri sempat bergerak stabil saat pembukaan perdagangan. Namun, penguatan singkat sebesar 0,17% ke level Rp17.537 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak bertahan lama. Pada pukul 07.55 WIB, rupiah offshore kembali melemah 0,22% ke posisi Rp17.607 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring menguatnya dolar AS yang terdorong oleh kenaikan harga energi global. Indeks dolar AS tercatat naik 0,13% ke level 98,95, sementara harga minyak mentah Brent bertahan tinggi di posisi US$105,72 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$102 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlangsung dan situasi keamanan di kawasan Teluk Persia dinilai belum kondusif bagi pelayaran internasional.
Sejak konflik Timur Tengah memanas pada awal Maret 2026, arus distribusi energi global mengalami gangguan. Hanya sebagian kecil kapal tanker yang mampu keluar dari Teluk Persia, sehingga pasokan energi dunia menjadi lebih ketat dan memicu lonjakan harga minyak.
Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada Kamis (14/5/2026). Menurut pejabat Gedung Putih yang dikutip Bloomberg News, kedua pemimpin membahas upaya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka guna menopang perdagangan energi global sekaligus meningkatkan ekspor minyak AS ke China.
Namun, pemerintah China dalam pernyataan resminya menyebut isu energi bukan menjadi topik utama pembahasan, meski mengonfirmasi bahwa perkembangan situasi Timur Tengah turut dibicarakan dalam pertemuan tersebut.
Sementara perhatian pasar global tertuju pada dinamika geopolitik dan hubungan dua ekonomi terbesar dunia, pasar keuangan domestik masih dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Memasuki pertengahan kuartal II-2026, pelaku pasar menilai belum ada langkah konsolidasi fiskal maupun penyesuaian belanja negara yang cukup kuat untuk meredam kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal nasional.
Penundaan kebijakan peningkatan royalti tambang juga memperkuat persepsi bahwa pemerintah tengah menghadapi tantangan dalam mencari sumber penerimaan baru di tengah tekanan ekonomi global.
Pasar offshore selama ini kerap menjadi indikator awal ekspektasi investor global terhadap risiko ekonomi Indonesia, terutama sebelum pasar domestik dibuka. Dalam kondisi saat ini, tekanan terhadap rupiah dinilai semakin berat karena dipengaruhi oleh tingginya harga minyak, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian fiskal dalam negeri secara bersamaan.
Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi risiko pelebaran defisit transaksi berjalan apabila harga energi terus bertahan tinggi. Kondisi tersebut terjadi di tengah ruang fiskal yang dinilai semakin terbatas.
Sentimen negatif terhadap pasar domestik juga datang dari penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets. Selain itu, FTSE Russell kembali memperbarui daftar saham Indonesia untuk indeks Juni 2026 dengan mencoret sejumlah emiten yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC), yakni saham dengan kepemilikan di atas 1%.
Meski faktor eksternal menjadi tekanan utama, investor tetap menaruh perhatian besar pada arah kebijakan ekonomi pemerintah. Selama pasar masih meragukan disiplin fiskal, konsistensi data ekonomi, dan arah kebijakan pemerintah, rupiah diperkirakan akan sulit keluar dari tekanan meski Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar spot maupun non-deliverable forward (NDF).
Sebagai catatan, rupiah spot telah melemah 4,44% sejak awal 2026 hingga pertengahan kuartal II. Pada perdagangan terakhir Rabu (13/5/2026), rupiah spot ditutup di level Rp17.465 per dolar AS.
Pandangan Dahlan Consultant
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi persepsi investor terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi domestik. Menurut dia, pemerintah perlu segera menunjukkan langkah konkret dalam menjaga disiplin fiskal, memperkuat penerimaan negara, dan memastikan stabilitas kebijakan agar kepercayaan pasar dapat kembali pulih. ***

