DCNews, Jakarta – Di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah suku bunga bank sentral utama dunia, pergerakan harga emas menguat terbatas, harga minyak mentah melonjak akibat gangguan pasokan, nilai tukar mata uang utama bergerak bervariasi, dan indeks saham teknologi Nasdaq mencatat pelemahan seiring aksi ambil untung, menurut data penutupan perdagangan akhir pekan ini, Sabtu (25/4/2026).
Komoditas
Emas
Emas yang kerap dijadikan tempat berlindung aset tercatat bergerak di kisaran US$4.712 per ons, naik tipis 0,18% dibandingkan hari sebelumnya. Dukungan datang dari kekhawatiran akan meluasnya konflik di wilayah Selat Hormuz dan kekhawatiran inflasi yang masih bertahan, meski penguatan dolar AS membatasi potensi kenaikan lebih besar.
Pelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed, di mana ekspektasi penurunan suku bunga masih tertunda hingga paruh kedua tahun ini, membuat pergerakan logam mulia ini terjebak dalam pola pergerakan terbatas beberapa pekan terakhir.
Minyak Mentah
Sementara itu, harga minyak mentah jenis WTI melonjak 2,4% ke posisi US$98,3 per barel, dan Brent berada di level US$102,7 per barel. Kenaikan dipicu oleh laporan berkurangnya volume pengiriman melalui jalur perdagangan energi tersibuk dunia tersebut serta kekhawatiran gangguan produksi di negara-negara penghasil utama. Meski terdapat upaya perundingan perdamaian, situasi di lapangan dinilai masih rapuh, sehingga premi risiko pada harga energi tetap tinggi dan berpotensi menekan kinerja sektor industri serta menaikkan tekanan harga barang di berbagai negara .
Valuta Asing
Di pasar valuta asing, pasangan EURUSD bergerak stabil di angka 1,1730, melemah sedikit 0,09%. Mata uang Eropa tertekan karena perbedaan arah kebijakan moneter antara Bank Sentral Eropa dan The Fed, serta data ekonomi kawasan yang menunjukkan pertumbuhan masih di bawah harapan.
Sementara itu, GBPUSD tercatat di 1,2585, naik 0,12% didukung data inflasi Inggris yang sedikit menurun, meski kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri tetap menjadi faktor pembatas penguatan lebih lanjut. Sebaliknya,
Sedang untuk USDJPY melanjutkan penguatannya ke 157,80, naik 0,35%, didorong oleh selisih suku bunga yang masih lebar antara Amerika Serikat dan Jepang, di mana bank sentral negeri matahari terbit masih mempertahankan kebijakan moneter longgar.
Indeks Nasdaq
Di pasar saham, indeks Nasdaq yang diisi emiten teknologi terkemuka menutup perdagangan di level 17.245 poin, turun 0,87%. Penurunan terjadi seiring aksi ambil untung setelah penguatan beruntun selama beberapa minggu terakhir, serta kekhawatiran bahwa tingginya biaya pinjaman masih akan menekan kinerja pendapatan perusahaan teknologi, terutama yang membutuhkan investasi modal besar untuk pengembangan dan ekspansi usaha.
Analisis Kang Dahlan, Pendiri Dahlan Consultant:
Pergerakan pasar pekan ini memperlihatkan ketidakseimbangan antara faktor risiko geopolitik dan fundamental ekonomi. Emas dan minyak mendapatkan dorongan dari ketidakpastian, namun potensi kenaikannya dibatasi oleh kekuatan dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan.
Di sisi valuta asing, menurut pendapat konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, selisih kebijakan moneter tetap menjadi pendorong utama, sementara pelemahan Nasdaq adalah koreksi wajar setelah penguatan cukup signifikan. Ke depannya, pergerakan harga akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah dan data ekonomi AS yang akan dirilis pekan depan.
“Investor disarankan untuk tidak terburu-buru mengambil posisi besar, serta tetap menyusun portofolio yang terdiversifikasi agar tahan terhadap gejolak pasar yang masih berpotensi tinggi,” demikian kata pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu, mengingatkan. **

