DCNews, Jakarta — Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang kian meluas, anggota DPR RI Aboe Bakar Al-Habsyi memperingatkan dunia berada di titik rawan yang dapat memicu krisis global berkepanjangan. Ia menyerukan penghentian segera segala bentuk agresi, sembari mengkritik keras sikap para pemimpin dunia yang dinilai memperkeruh situasi.
Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, menurut Aboe Bakar, tidak hanya memperbesar risiko konflik terbuka, tetapi juga memperdalam krisis kemanusiaan—terutama di Gaza yang hingga kini terus dilanda serangan.
“Dunia saat ini sedang berada di ambang ketidakpastian besar. Kita sangat menyayangkan eskalasi yang terjadi. Posisi kita tegas: hentikan segala bentuk agresi,” kata Aboe Bakar dalam keterangannya, Senin (7/4/2026).
Ia secara khusus menyoroti kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilainya menunjukkan pendekatan konfrontatif. Dalam pandangannya, standar ganda dalam penerapan hukum internasional hanya akan memperpanjang konflik dan mengorbankan warga sipil.
Aboe Bakar menekankan bahwa gencatan senjata permanen di Gaza merupakan prasyarat utama untuk meredakan ketegangan kawasan. “Jangan sampai ego politik pemimpin dunia mengorbankan nyawa warga sipil yang tidak berdosa,” ujarnya.
Diplomasi Parlemen dan Tekanan Global
Di dalam negeri, ia menyatakan dukungan terhadap pembentukan Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Timur Tengah—sebuah inisiatif yang dinilai sebagai upaya konkret memperkuat diplomasi parlemen Indonesia di panggung internasional.
Menurut dia, peran parlemen tidak boleh berhenti pada pernyataan politik semata, tetapi harus aktif membangun tekanan moral dan diplomatik melalui forum global. “Suara dari Senayan adalah representasi nurani rakyat Indonesia. Diplomasi parlemen harus terus dioptimalkan,” kata dia.
Ia mengakui efektivitas tekanan dari kaukus belum dapat diukur secara langsung. Namun, dalam situasi global yang semakin kompleks, setiap langkah diplomasi tetap memiliki arti strategis. “Yang penting kita tidak diam. Semua negara bergerak, dari dunia Arab hingga Eropa,” ujar anggota Komisi III DPR RI itu lagi.
Bayang-bayang Dampak Ekonomi
Lebih jauh, Aboe Bakar mengingatkan bahwa konflik Timur Tengah bukan hanya isu geopolitik, tetapi juga ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global—termasuk Indonesia. Ia menyoroti potensi lonjakan harga minyak dunia serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, ia meminta pemerintah memperkuat bantalan sosial bagi masyarakat rentan, sekaligus mempercepat diversifikasi energi dan memperkokoh cadangan pangan nasional.
“Jangan sampai kenaikan harga energi global langsung memukul daya beli masyarakat kecil,” katanya, seraya mengimbau publik untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Apresiasi untuk Pemerintah
Di sisi lain, Aboe Bakar mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto dalam merespons dinamika global. Ia menilai pendekatan pemerintah menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan peran Indonesia dalam mendorong perdamaian dunia.
“Paling tidak, kita sudah melakukan langkah-langkah yang bisa dikerjakan, termasuk menghimpun berbagai masukan dari para pakar,” tutup Legislator dari Dapil Kalimantan Selatan (Kalsel) I tersebut. ***

