DCNews, Jakarta — Eskalasi konflik di Lebanon selatan kembali menelan korban dari pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam kurun 24 jam terakhir, tiga personel tewas—dua di antaranya berasal dari Indonesia—ketika pertempuran antara Israel dan Hizbullah semakin intensif.
Tragedi ini menyoroti meningkatnya risiko bagi pasukan internasional di tengah konflik regional yang kian meluas, sekaligus memicu kecaman global terhadap keselamatan misi penjaga perdamaian.
Pada Senin (30/3/2026) waktu setempat, dua personel Indonesia yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan tewas dan dua lainnya mengalami luka-luka. Insiden terjadi saat konvoi logistik yang mereka kawal terjebak dalam baku tembak di wilayah konflik.
Kepala Operasi Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, mengonfirmasi kejadian tersebut dalam pengarahan di New York. Ia menyebut penyebab pasti ledakan yang memicu insiden masih dalam penyelidikan. “Asal usul ledakan tersebut hingga kini belum dapat dipastikan,” ujarnya.
Sehari sebelumnya, Minggu (29/3/2026), satu personel penjaga perdamaian asal Indonesia juga dilaporkan tewas dalam serangan terpisah, sebagaimana disampaikan juru bicara PBB, Stephane Dujarric.
Rangkaian serangan terjadi di beberapa titik, termasuk di sekitar Adchit Al Qusayr dan Bani Hayyan, wilayah yang menjadi episentrum bentrokan antara militer Israel dan militan Hizbullah. Operasi militer Israel di Lebanon selatan merupakan bagian dari konflik yang lebih luas di kawasan, dengan keterlibatan tidak langsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini memasuki bulan kedua.
Data sementara menunjukkan lebih dari 1.200 orang tewas sejak operasi militer Israel dimulai di Lebanon selatan, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat intensitas serangan yang terus meningkat.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam keras insiden tersebut. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. “Ini hanyalah satu dari sekian banyak insiden yang membahayakan keselamatan penjaga perdamaian,” tulisnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, secara terbuka menyalahkan Israel atas insiden tersebut dan mendesak digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Ia menilai tindakan militer Israel terhadap personel PBB sebagai pelanggaran yang tidak dapat diterima.
Namun, pernyataan itu dibantah oleh Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon. Ia menegaskan bahwa Hizbullah bertanggung jawab atas situasi di Lebanon selatan.
“Israel akan terus bertindak tegas untuk melindungi warga negaranya dari ancaman di perbatasan utara,” ujarnya.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan pada Selasa waktu New York untuk membahas eskalasi serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian. ***

