DCNews, Jakarta — Pergerakan pasar keuangan global pada Selasa (31/3/2026) menunjukkan tekanan kuat pada aset berisiko seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi, yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat serta memicu volatilitas di pasar komoditas dan valuta asing.
Lonjakan harga minyak menjadi faktor dominan yang memengaruhi sentimen investor. Harga minyak mentah dunia bertahan di level tinggi di atas US$110 per barel, didorong kekhawatiran gangguan pasokan global. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi dan memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global, sehingga memicu aksi lindung nilai di berbagai instrumen.
Di sisi lain, harga emas menunjukkan pergerakan terbatas. Meski berfungsi sebagai aset safe haven, penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi dari bank sentral Amerika Serikat menahan kenaikan harga logam mulia tersebut. Emas saat ini bergerak stabil dengan kecenderungan konsolidasi di level tinggi.
Pada pasar valuta asing, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama. Pasangan EUR/USD mengalami tekanan dan bergerak melemah akibat kombinasi penguatan dolar serta meningkatnya beban ekonomi kawasan Eropa yang sensitif terhadap lonjakan harga energi. Sentimen serupa juga menekan GBP/USD, meski pelemahannya relatif lebih terbatas.
Sementara itu, USD/JPY tetap berada di level tinggi, mencerminkan perbedaan arah kebijakan moneter antara Amerika Serikat yang cenderung ketat dan Jepang yang masih mempertahankan stimulus. Kondisi ini menjaga dominasi dolar di pasar global.
Dari pasar saham, indeks Nasdaq mencatat pelemahan seiring meningkatnya tekanan pada saham-saham teknologi. Kenaikan imbal hasil obligasi dan kekhawatiran inflasi akibat harga energi yang tinggi mendorong investor melakukan rotasi aset ke instrumen yang lebih aman.
Analisis Dahlan Consultant
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan menilai bahwa secara keseluruhan, pasar global saat ini berada dalam fase defensif dengan kecenderungan “risk-off”, di mana investor menghindari aset berisiko dan beralih ke dolar AS serta instrumen lindung nilai. Arah pergerakan selanjutnya, menurut dia, sangat bergantung pada dinamika geopolitik dan stabilitas harga energi.
“Jika tekanan harga minyak berlanjut, potensi perlambatan ekonomi global disertai inflasi tinggi (stagflasi) akan semakin besar. Namun, jika ketegangan mereda, pasar berpeluang mengalami pemulihan cepat, terutama pada aset berisiko seperti saham teknologi,. demikian kata pria yang akrab disapa Kang Dahlan tersebut. ***

