DCNews, Houston — Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (25/3/2026), setelah sebelumnya melonjak hampir 5 persen di tengah munculnya sinyal diplomasi baru antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi meredakan konflik di kawasan Teluk.
Di tengah ketegangan geopolitik yang masih membayangi pasar energi global, laporan mengenai upaya negosiasi damai justru menciptakan tarik-menarik sentimen. Investor menghadapi dilema antara harapan meredanya konflik dan risiko gangguan pasokan yang belum sepenuhnya pulih.
Laporan Reuters yang mengutip sumber terkait menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah mengirimkan proposal berisi 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri konflik. Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan, mengacu pada dua pejabat yang mengetahui proses tersebut.
Sebelum laporan itu mencuat, harga minyak mentah Brent ditutup melonjak sebesar US$4,55 atau 4,55 persen ke level US$104,49 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$4,22 atau 4,79 persen menjadi US$92,35 per barel.
Namun, dalam perdagangan setelah penutupan, penguatan tersebut mereda. Harga Brent hanya naik tipis US$0,13 atau 0,13 persen ke US$100,07 per barel, sementara WTI terkoreksi dari level tertingginya dengan kenaikan terbatas US$0,29 atau 0,33 persen ke US$88,41 per barel.
Perdana Menteri Pakistan menyatakan kesiapan negaranya menjadi tuan rumah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai bagian dari upaya meredakan konflik di kawasan strategis tersebut.
Pernyataan ini muncul sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunda rencana serangan terhadap fasilitas listrik Iran selama lima hari. Trump mengklaim bahwa komunikasi dengan pejabat Iran telah menghasilkan sejumlah kesepakatan penting—perkembangan yang sebelumnya sempat menekan harga minyak lebih dari 10 persen.
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai pasar saat ini menerima sinyal yang saling bertentangan. Ia menyebut kekhawatiran investor tetap tinggi terhadap kemungkinan gagalnya perundingan dan berlanjutnya konflik.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak sebelumnya juga dipicu gangguan pasokan global yang signifikan. Konflik di kawasan Teluk telah menghambat sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia yang melintasi Selat Hormuz—jalur vital energi global.
International Energy Agency bahkan menyebut kondisi ini sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern.
Meski demikian, Iran menyampaikan kepada Organisasi Maritim Internasional bahwa kapal-kapal non-militer tetap dapat melintasi Selat Hormuz, selama berkoordinasi dengan otoritas setempat—sebuah sinyal terbatas untuk menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional. ***

