DCNews, Jakarta — Harga emas batangan di Pegadaian terpantau melemah pada Rabu pagi (25/3/2026), mencerminkan tekanan jangka pendek di pasar logam mulia di tengah dinamika global dan pergerakan nilai tukar. Penurunan ini terjadi pada dua produk utama, yakni UBS dan Galeri24, sebagaimana dikutip dari laman resmi Sahabat Pegadaian.
Data per pukul 08.18 WIB menunjukkan harga emas UBS turun menjadi Rp2.852.000 per gram dari sebelumnya Rp2.862.000. Sementara itu, emas Galeri24 juga mengalami penurunan ke level Rp2.838.000 per gram dari Rp2.849.000 pada perdagangan sehari sebelumnya.
Pergerakan harga emas di Pegadaian bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar global, termasuk pengaruh harga emas dunia dan kurs rupiah terhadap dolar AS.
Produk emas Galeri24 tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 1 kilogram. Adapun emas UBS dipasarkan dalam ukuran 0,5 gram hingga 500 gram, memberikan alternatif bagi investor ritel maupun skala besar.
Sementara itu, harga emas produksi Antam belum diperbarui pada pagi hari ini dan biasanya mengalami penyesuaian setelah pukul 08.30 WIB di laman resmi Logam Mulia.
Berikut rincian harga emas di Pegadaian:
Galeri24
- 0,5 gram: Rp1.489.000
- 1 gram: Rp2.838.000
- 2 gram: Rp5.607.000
- 5 gram: Rp13.916.000
- 10 gram: Rp27.757.000
- 25 gram: Rp69.021.000
- 50 gram: Rp137.932.000
- 100 gram: Rp275.728.000
- 250 gram: Rp687.625.000
- 500 gram: Rp1.375.248.000
- 1.000 gram: Rp2.750.495.000
UBS
- 0,5 gram: Rp1.541.000
- 1 gram: Rp2.852.000
- 2 gram: Rp5.660.000
- 5 gram: Rp13.984.000
- 10 gram: Rp27.820.000
- 25 gram: Rp69.413.000
- 50 gram: Rp138.541.000
- 100 gram: Rp276.973.000
- 250 gram: Rp692.227.000
- 500 gram: Rp1.382.828.000
Masih dalam Fase Koreksi Wajar
Di sisi lain, konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai penurunan harga emas saat ini masih berada dalam fase koreksi wajar setelah reli sebelumnya. Ia menyebut, investor sebaiknya tidak bereaksi berlebihan terhadap penurunan jangka pendek.
“Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai (safe haven) dalam jangka panjang. Koreksi seperti ini justru bisa dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi, terutama bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu menambahkan, arah harga emas ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga global, inflasi, serta ketidakpastian geopolitik. Oleh karena itu, diversifikasi portofolio tetap menjadi strategi utama untuk menjaga stabilitas aset di tengah volatilitas pasar. ***

